apahabar.com
Ilustrasi, tangki minyak Aramco di fasilitas produksi Shaybah, Arab Saudi. Foto - Reuters/Ahmed Jadallah

apahabar.com, RIYADH – Serangan pesawat tanpa awak atau drone merusak dua pengolahan minyak milik Saudi Aramco, Sabtu (14/09). Serangan itu diduga dilakukan kelompok gerilyawan Yaman yang bersekutu dengan Iran, Al-Houthi.

Drone juga merusak instalasi terbesar pemrosesan minyak di dunia tersebut, sehingga menyulut kebakaran.

Pemerintah Arab Saudi menyatakan telah mengendalikan si jago merah, tanpa menjelaskan apakah produksi minyak ekspornya terpengaruh. Stasiun televisi negara menyatakan ekspor minyak berlanjut.

Serangan drone terhadap pengekspor minyak terbesar di dunia dilakukan saat raksasa minyak negara tersebut Aramco mempercepat rencana bagi penawaran terbuka awalnya pada tahun ini, kata Antara mengutip Reuters, Sabtu malam.

Peristiwa tersebut terjadi setelah serangan lintas perbatasan terhadap instalasi minyak Arab Saudi dan tanker minyak di perairan Teluk.

Arab Saudi, yang memimpin koalisi militer Arab untuk ikut campur di Yaman pada 2015 melawan gerilyawan Syiah Al-Houthi, telah menuduh pesaing regionalnya, Iran, dalam serangan sebelumnya. Iran telah membantah tuduhan itu.

Riyadh juga menuduh Teheran mempersenjatai gerilyawan Al-Houthi, tuduhan yang dibantah oleh milisi tersebut dan Iran.

Luasnya kerusakan akibat serangan drone di Provinsi Abqaiq dan Khurais masih belum jelas. Aramco belum mengeluarkan pernyataan mengenai serangan sebelum fajar itu. Pemerintah juga belum mengeluarkan laporan mengenai korban.

Abqaiq terletak 60 kilometer di sebelah barat-daya Markas Aramco di Dhahran. Instalasi pemrosesan minyak itu menangani minyak mentah dari ladang raksasa Ghawar dan untuk diekspor melalui terminal Ras Tanura –inatalasi pemuatan minyak lepas pantai terbesar di dunia– dan Juaymah. Perusahaan tersebut juga memompa ke arah barat menuju terminal kerajaan itu di Laut Merah.

Khurais, 190 kilometer lebih ke barat-daya, berisi ladang minyak terbesar kedua di negeri tersebut.

Banyak pegawai Barat di Aramco tinggal di Abqaiq. Kedutaan Besar AS di Riyadh menyatakan kedutaan itu tidak mengetahui apakah ada warga negara Amerika yang menjadi korban cedera dalam serangan tersebut.

Baca Juga: Beda Sikap GMNI Banjarmasin Soal Revisi UU KPK

Baca Juga: Suhu Panas Diduga Pemicu Ledakan Mortir Perang di Gudang Brimob

Baca Juga: Apa Pekerjaan Putra-Putra BJ Habibie?

Baca Juga: Jemaah  Haji yang Hilang Karena ke Toilet Masih Belum Ditemukan

Sumber: Antara
Editor: Aprianoor