BANJIR KALSEL: 2 Ribu Jiwa Mengungsi, Pasukan Khusus TNI Mendarat di Banjarbaru Jokowi Telepon Gubernur Soal Banjir Kalsel, Gak Kebalik Pak? Breaking News: Respons Jokowi Atas Banjir di Kalsel, Segera Kirim Perahu Karet Tak Ucapkan Dukacita, Habib Banua Tantang Presiden ke Kalsel Warga Banjiri IG Presiden Jokowi: Kalsel Juga Berduka Pakkk!!!

Perkebunan Rakyat di Batola Perlu Penguatan

- Apahabar.com Sabtu, 14 September 2019 - 06:00 WIB

Perkebunan Rakyat di Batola Perlu Penguatan

Warga mengarak beraneka buah, termasuk nanas Tamban, dalam Festival Nanas Mekarsari di Kecamatan Mekarsari, Selasa (10/9). Foto-dok/apahabar.com

apahabar.com, BANJARMASIN – Perkebunan rakyat di Kabupaten Barito Kuala (Batola) tak bisa dipandang sebelah mata. Fakta itu diakui anggota DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) periode 2019 – 2024 Karlie Hanafi Kalianda.

Ia bahkan berpendapat, usaha perkebunan rakyat itu perlu penguatan. “Penguatan tersebut, baik permodalan maupun manajemen usaha, termasuk masalah pemasaran,” ujar politisi Partai Golkar ini.

Menurut Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kalsel tersebut, untuk penguatan permodalan melalui pemerintah daerah perlu bantuan lembaga keuangan, seperti dunia perbankan dengan suku bunga rendah.

Sedangkan mengenai manajemen usaha, para petani pekebun perlu membentuk kelompok atau koperasi, yang kesemua itu bermuara kepada pemasaran agar mendapatkan pangsa pasar serta harga hasil perkebunan tersebut lebih baik.

Anggota DPRD Kalsel yang memasuki periode ketiga itu mengatakan, selain sebagai lumbung padi, Batola juga potensial usaha perkebunan.

Sebagai contoh selama ini, daerah pertanian pasang surut dan merupakan penerima program transmigrasi tersebut sentra hasil perkebunan nenas.

Selain itu, penduduk “Bumi Salidah” Batola dalam 30 tahun terakhir mengembangkan perkebunan jeruk serta jenis hortikultura lain seperti kuini/mangga kuini.

Namun dia menyayangkan, hasil usaha perkebunan rakyat Batola tersebut tidak terpasarkan maksimal buat peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani pekebun.

Guna mendatangkan nilai tambah, baik daerah maupun masyarakat/petani pekebun itu sendiri, menurut dia, mungkin perlu industri yang mengolah hasil perkebunan seperti nenas dan jeruk tersebut.

Pasalnya ketika panen raya buah bebas dan jeruk tersebut tidak terpasarkan secara maksimal serta harga jual pada tingkat petani rendah sekali sehingga tak seimbang dengan biaya produksi.

Misalnya harga jeruk pada tingkat petani hanya Rp3.000/kg, kemudian di Handil Bakti Kecamatan Alalak, Batola yang cuma berjarak sekitar sepuluh kilometer menjadi Rp6.000/kg, dan sampai ke Banjarmasin Rp15.000/kg.

“Perbedaan harga yang mencolok tidak memberikan nilai tambah bagi petani pekebun, dan hanya akan menguntungkan pengepul atau tengkulak serta pemodal kuat,” ujar Hanafi.

Baca Juga: Berstatus Buah Unggulan, Nanas Tamban Sulit Dicari

Baca Juga: Dirangkai Puluhan Hari, Nanas Festival di Mekarsari Ludes 10 Menit

Sumber: Antara
Editor: Syarif

Editor: Amrullah - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Mulai Hari Ini, Kubah Guru Zuhdi Ditutup Selama Sepekan
apahabar.com

Kalsel

Transportasi Darat Diharapkan Jadi Sarana Pemersatu Keberagaman
Kotabaru

Kalsel

Diisukan Wafat, Eks Kadis Kotabaru Tersangka Korupsi Diadili Esok
Parkiran

Kalsel

Parkiran UPPD SAMSAT Banjarmasin 1 Kebanjiran, Warga Harus Copot Sepatu Sebelum Bayar Pajak
apahabar.com

Kalsel

Ketua Komisi III DPRD Minta Maaf Usai Larangan Meliput Rapat Komisi
apahabar.com

Kalsel

KM Pieces Karam di Matasiri Kalsel, Gelombang Tinggi Hambat Pencarian
Lari Kebelakang Rumah, Warga Kambat HST Tertangkap Simpan Sabu

Kalsel

Lari Kebelakang Rumah, Warga Kambat HST Tertangkap Simpan Sabu
apahabar.com

Kalsel

Pohon Beringin Tua Tumbang
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com