Tim Paman Birin Blunder Ancam Polisikan Warga Soal Banjir Terima Kasih Warga Banjarmasin, Korban Banjir Batola Terima Bantuan dari Posko apahabar.com Operasi SAR SJ-182 Dihentikan, KNKT Tetap Lanjutkan Pencarian CVR Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Talaud Sulut, Tidak Berpotensi Tsunami Potret Seribu Sungai, Serunya Memancing di Jembatan Sudimampir Banjarmasin

Pilpres 2019 Tak Bisa Lepas dari Politik Identitas dan Agama

- Apahabar.com Kamis, 5 September 2019 - 20:45 WIB

Pilpres 2019 Tak Bisa Lepas dari Politik Identitas dan Agama

Acara Diskusi keumatan. Masa Depan Bangsa Pasca Pilpres: islam dan ke-Indonesiaan. Di Aula LLDIKTI XI/Kopertis, Jalan Adhiyaksa Kayu Tangi. Kamis (05/09). Foto-apahabar.com/Musnita Sari

apahabar.com, BANJARMASIN – Tensi politik sempat memanas saat masa-masa pemilihan presiden (pilpres) pada April lalu. Fenomena politik identitas memang tidak bisa lepas dalam masa pemilu, apalagi salah satu kandidat adalah tokoh agama besar di negeri ini.

“Memang tidak bisa ditolak. Agama menjadi isu yang paling mudah untuk menarik opini masyarakat. Tetapi jangan sampai isu-isu agama menjadikan kita terpecah belah,” ucap Dosen FISIP ULM, Setia Budhi saat ditemui apahabar.com ketika menjadi narasumber dalam acara diskusi Keumatan Masa Depan Bangsa Pasca Pilpres di Aula LLDIKTI XI/Kopertis, Kamis (05/09) siang.

Apabila sebelumnya masyarakat terbagi menjadi berkubu-kubu, maka menurut dia, ini saatnya untuk memperkuat kesejahteraan dengan melakukan konsolidasi. Potensi yang terus digali ujarnya, dapat menjadi bagian dari gerakan kesejahteraan masyarakat, khususnya umat Islam.

”Marilah melakukan konsolidasi politik dan konsolidasi ekonomi. Misalnya ekonomi yaitu bagaimana potensi umat dalam berbagi, zakat, ekonomi, infaq, sedekah dan sebagainya,” sebutnya.

Mantan ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Kalsel, Fathurrahman yang menjadi narasumber dalam diskusi ini pun berpendapat demikian. Kaum muslim ujarnya memiliki hak-hak politik. Kekuatan-kekuatan politik umat islam akan menjadi penyeimbang, namun apapun aspirasi politiknya tetap bermuara pada keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia.

“Misalnya ada ideologi-ideologi yang bersifat kapitalis, liberal dan lainnya. Sehingga dia bisa mencermati kebijakan-kebijakan nasional, kebijakan Negara,” paparnya

Yang terpenting menurut Fathur, adalah bagaimana semua kembali fokus dalam meningkatkan kualitas bukan hanya kuantitas saja.

Karakter-karakter keislaman yang ada pada generasi saat ini, diharapkan benar-benar adaptif. Apalagi dalam revolusi 4.0, masyarakat dituntut dapat menghadapi terpaan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

“Jadi jangan hanya menjadi penonton. Bagaimana karakter muslim tadi menjadi karakter kebangsaan, Bisa menghadapi perubahan-perubahan ekonomi global untuk memperkuat basis keumatan,” jelasnya.

Baca Juga: Kebakaran di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kontainer Ludes Diamuk Api

Baca Juga: Terungkap, Jasad di Gubuk Haur Kuning Banjarmasin Rupanya Kakek Junaidi

Baca Juga: Sukamta Bicara Dampak Pemindahan Ibu Kota Baru Bagi Tala

Baca Juga: Rencana Poltek Peternakan di Tala Terus Digodok

Reporter: Musnita Sari
Editor: Aprianoor

Editor: rifad - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Ratusan Positif Covid-19, Pemprov Kalsel Masifkan Karantina Khusus
apahabar.com

Kalsel

Hadiri Undangan Perkawinan, Paman Birin Layani Foto Bersama
Kotabaru

Kalsel

Dear Warga Kotabaru, Covid-19 Masih Mewabah, 6 Orang lagi Positif
apahabar.com

Kalsel

Berbagai Unsur di Pulau Laut Tengah Kotabaru Sepakat Ciptakan Pilkada Serentak 2020 Sejuk dan Sehat
apahabar.com

Kalsel

Kok Bisa? Plafon Bandara Rp2,2 Triliun Ambyar Diterjang Angin
apahabar.com

Kalsel

Hindari Pandemi Gelombang Kedua, Perbatasan Wanaraya dan Barambai Tetap Dijaga
apahabar.com

Kalsel

Wisata Kalsel Dinilai Kurang Gencar Promosi, Ketua PWI: HPN Momentum Tepat untuk Branding
apahabar.com

Kalsel

Gini Ratio Maret 2019 Tercatat Sebesar 0,334  
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com