apahabar.com
Griya Anggrek yang dibangun YAMI sebagai pelestarian tanaman anggrek alam di Kalsel. Foto- Istimewa for apahabar.com

apahabar.com, BANJARMASIN – Kepunahan anggrek alam berbanding lurus dengan kerusakan hutan. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya genetik dan masuk dalam kelompok negara ‘Mega Biodiversity’. Salah satu pulau yang memiliki biodiversity terbesar adalah pulau Kalimantan.

Kalimantan berdasarkan letak geografisnya, menjadi kawasan hutan hujan yang merupakan habitat dari kehidupan liar bagi flora dan fauna. Ini merupakan kekayaan plasma nuftah yang tak ternilai, termasuk didalamnya kekayaan anggrek spesies.

Terdapat sekitar 2500-3000 anggrek spesies dari 5000 jenis anggrek spesies yang ada di Indonesia. Sementara itu daerah penyebaran habitat anggrek alam di Kalimantan Selatan (Kalsel), terdapat hampir di semua wilayah Pegunungan Meratus meliputi 5 kabupaten.

“Komunitas pecinta anggrek mendirikan Yayasan Anggrek Meratus Indonesia (YAMI) siap mendukung dan membatu program pemerintah, melindungi serta menjaga kelestarian anggrek alam Kalsel, khususnya di kawasan hutan hujan Meratus,” jelas Hj Sanah, pegiat anggrek Kalsel, Rabu (11/9/2019).

Hj Sanah menjelaskan, tujuan utama didirikan yayasan ini untuk terciptanya kehidupan masyarakat yang berwawasan lingkungan dan peduli terhadap pelestarian anggrek alam Indonesia.

“Melestarikan anggrek alam di Indonesia, khususnya anggrek Meratus di Kalimantan Selatan melalui pemberdayaan masyarakat dan mendukung program pembangunan berkelanjutan,” imbuhnya.

Lebih lanjut Sanah mengatakan, program yang akan dilakukan, konservasi anggrek alam, sosialisasi dan edukasi pelestarian anggrek alam,  mendirikan taman anggrek, pemberdayaan masyarakat  petani anggrek dan pelaku usaha anggrek, pengembangan Ekowisata anggrek dan menumbuh kembangkan pendirian (griya anggrek ).

“Griya anggrek adalah merupakan tempat display anggrek-anggrek species dan anggrek hybrid dari pecinta dan pelestari anggrek untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap anggrek alam serta menjadi wahana konservasi ex-situ,” tutur Sanah yang sudah puluhan tahun menggeluti dunia anggrek dan owner Alya Orchids.

Adapun tujuan pendirian griya anggrek ini menurut Sanah adalah dalam rangka pembinaan, pelestarian anggrek dan destinasi wisata anggrek serta yang lebih penting lagi menjadi kumpulan taman penyerap karbon, bagi mitigasi pencegahan bencana iklim, akibat pemanasan global.

Disisi lain, Amalia Rezeki yang juga duduk didewan pengawas yayasan ini, mengatakan, program pengembangan griya anggrek ini sangat cerdas dan luar biasa. Kegiatan tersebut, tidak saja untuk melestarikan anggrek, akan tetapi masyarakat diajak untuk berkontribusi terhadap mitigasi bencana iklim, akibat pemanasan global, melalaui kegiatan pembuatan taman  anggrek dan juga menanam pohon tegakan  sebagai tempat menanam anggrek.

“Seperti diketahui bersama, tumbuhan memiliki peran yang penting untuk mencegah meluasnya pemanasan global, karena selain menyerap CO2 dan menghasilkan O2, tumbuhan juga memiliki banyak manfaat bagi kehidupan, diantaranya: memperbanyak kadar oksigen sehingga tidak terlalu banyak karbon dioksida yang terbuang ke atmosfer,” jelas Amalia Rezeki.

Lebih lanjut kata Amel sapaan akrab Amalia Rezeki yang juga mahasiswi program doktoral dibidang Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat ini. Kegiatan menanam pohon sangat berguna untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menanam pohon, tidak terkecuali tanaman  anggrek, apalagi yang berbentuk taman seperti yang dicanangkan oleh YAMI melalui program griya anggrek.

“Kegiatan tersebut dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga dapat menurunkan pemanasan global dan membuat udara disekitarnya bersih,” pungkasnya.

Baca Juga: Ikut Memalu hingga Nyawer, Paman Birin Dengar Keluh Kesah Korban Kebakaran

Baca Juga: Hari Radio Nasional 2019, RRI Dituntut Hadir di Tengah Masyarakat

Reporter: Ahya Firmansyah
Editor: Syarif