ga('send', 'pageview');
Kalsel Siaga Karhutla, Ring Satu Jadi Atensi FOTO: Serba Putih, Massa Tolak RUU HIP di Banjarmasin Tolak RUU HIP, Ratusan Massa Geruduk Rumah Banjar! Diskotik Dilarang, Banjarmasin Bolehkan THM Lain Beroperasi Demo RUU HIP di Rumah Banjar, Ratusan Polisi Disiagakan




Home Kalsel

Sabtu, 26 Oktober 2019 - 18:41 WIB

Ahmad Yusuf, Hobi Berbuah Kepercayaan Kesultanan Banjar

Redaksi - Apahabar.com

 Kesultanan Banjar. Sumber: Facebook dan Website Kesultanan Banjar

Kesultanan Banjar. Sumber: Facebook dan Website Kesultanan Banjar

apahabar.com, BANJARMASIN – Sekolah saat ini umumnya hanya berkutat pada pelajaran tentang Kerajaan Sriwijaya atau Majapahit.

Sedangkan, sejarah Banjar cuma bisa didapatkan pada pelajaran muatan lokal saja. Itupun hanya sebentar. Sepekan sekali.

Dari kegelisahannya itu, Ahmad Yusuf bertekad untuk mengenalkan sejarah dari tanah kelahirannya.

Belakangan, ia malah mendapat kepercayaan untuk menjadi ujung tombak promosi Kesultanan Banjar.

Ya, di era kekinian masyarakat sangat identik dengan media sosial.

Instagram, Twitter dan Facebook dapat memberikan keuntungan maupun kerugian tergantung kebijakan penggunanya.

Namun tidak bagi Ahmad Yusuf. Ia justru mampu memanfaatkan media sosial untuk kesenangan pribadinya sekaligus menjaring keuntungan.

Berawal dari hobi-nya berbagi cerita-cerita sejarah Banjar di media sosial, Yusuf kini dipercaya untuk mengelola media promosi Kesultanan Banjar.

“Awalnya tertarik sejarah secara umum, kisah-kisah bahari. Lebih banyak sejarah Banjar karena inspirasinya dari Kesultanan Banjar,” ujarnya mengawali obrolan ringan kepada apahabar.com, belum lama ini.

Ingin mengenalkan cerita dan sejarah daerah sendiri, di 2011 Yusuf memutuskan membuat satu akun twitter bernama Sultan Banjar.

Akun ini untuk berbagi informasi-informasi yang dia dapat dari berbagai sumber kala itu. Tak hanya Twitter, dia juga merambah Instagram dan Facebook untuk menarik lebih banyak pembaca.

“Bagaimana caranya agar orang di sekitar tahu. Awalnya memang kurang peminat, tapi alhamdulillah 2014 walau naiknya lambat tapi sekarang termasuk banyak,” ungkap dia.

Baca juga :  Diskotik Dilarang, Banjarmasin Bolehkan THM Lain Beroperasi

Menurutnya, mengenalkan sejarah kepada kalangan muda memang sedikit sulit. Untuk menggaet pembaca ia harus mengikuti perkembangan. Di mana saat ini teknologi semakin canggih dan dekat dengan generasi milenial.

“Mereka kan agak buta tentang Kesultanan Banjar. Apalagi di sekolah hanya berkutat pada pelajaran tentang Kerajaan Sriwijaya atau Majapahit, sedangkan sejarah Banjar cuma didapatkan pada pelajaran Muatan Lokal yang hanya satu minggu sekali saja. Itupun cuma sebentar,” paparnya.

Berawal dari kegelisahannya tersebut, pelan-pelan dia berusaha menularkan hobinya melalui platform yang saat ini memang dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda yaitu media sosial.

“Memang ada niatan untuk mengangkat kembali kisah-kisah sejarah dan kebetulan mendapat respon positif dari Sultan akhirnya diresmikan,” ujarnya.

Sebelum resmi menjadi media promosi Kesultanan. Tidak sembarang dalam memberikan informasi, Yusuf kala itu berbekal sumber terpercaya seperti buku-buku yang dia baca.

“Kalau saat ini data tentang Kesultanan Banjar itu dapat langsung dari mereka, tetapi kalau sejarah atau mitos-mitos lainnya dari buku,” tuturnya.

Tak banyak orang bisa seperti Yusuf. Terlebih, pria lulusan sekolah keperawatan ini sama sekali tidak memiliki hubungan atau kekerabatan dengan Kesultanan Banjar.

“Tidak ada. Saya cuma ditugaskan memegang bagian promosi Kesultanan oleh Sultan sendiri. Akun ini mulainya 2014, diresmikannya sekitar 2015 atau 2016,” ungkapnya.

Tidak hanya menjadi seorang admin di balik akun Instagram yang saat ini memiliki puluhan ribu pengikut dan ribuan postingan, Yusuf juga ikut andil dalam kegiatan Sultan.

Baca juga :  Laka Lantas di Jembatan Ilung, Pengemudi Hilang Kendali

“Jadi media promosi, jadi kalau ada kegiatan Kesultanan saya ikut di situ,” pungkasnya

Walau secara pribadi mendapat keuntungan dari pekerjaan ini, namun bagi Yusuf ini adalah bentuk pengabdiannya kepada kebudayaan Banjar.

“Tidak harus ada reward atau feedback dari Sultan, tapi ada kepuasan tersendiri mengurus tentang Kesultanan ini,” katanya

Sosok Sultan sendiri di matanya adalah orang yang supel dan tidak berjarak dengan rakyat. Sultan, kata dia, bukan sebagai kepala pemerintah namun sebagai kepala pelindung adat dan kebudayaan Banjar.

“Waktu menjadi sultan pertama pun beliau langsung ke Belanda mencari barang-barang Banjar atau foto-foto yang pernah dulu diambil oleh Belanda kemudian dikembalikan ke sini,” ungkapnya

Menutup obrolan kepada apahabar.com, Yusuf juga menyampaikan harapannya kepada generasi muda agar tidak melupakan kebudayaan daerah sendiri.

Padahal menurutnya, Kesultanan Banjar termasuk kerajaan yang cukup besar, sehingga generasi berikutnya harus ikut melestarikan apa yang telah diperjuangan oleh tokoh-tokoh besar itu.

“Lebih menyayangi, memperhatikan sejarah kebudayaan sendiri daripada kebudayaan di luar. Hargai bangsa sendiri,” pesannya mengakhiri.

Baca Juga: Masyarakat Meratus di HST Belajar Menulis dan Membaca

Baca Juga: Masyarakat Meratus di HST Diajak Menanam Pohon

Reporter: Musnita Sari
Editor: Fariz Fadhillah

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Tingkat Kepercayaan Masyarakat Terhadap Kinerja Polri di Banjarmasin Digali
apahabar.com

Kalsel

Tanam Pohon bareng Presiden, Menteri Siti Singgung Tambang di Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Operasi Terpusat Zebra Intan 2018, Polisi Tilang 1.660 Pengendara di Banjarbaru
apahabar.com

Kalsel

Kecamatan Batulicin Terima Dana Bantuan JPS Tahap Pertama
apahabar.com

Kalsel

Terkait Sengketa Lahan PT BPP, KKB Bantu Cari Solusi
apahabar.com

Kalsel

Viral, Penangkapan Preman Tak Gentar Tembakan Polisi di Pelaihari
apahabar.com

Kalsel

BMKG Ingatkan Ancaman Gelombang Tinggi di Perairan Kalsel
apahabar.com

Kalsel

KPU Kalsel Tetapkan DPT Perbaikan Sebanyak 2.869.166
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com