Jokowi Sebut Potensi Wakaf Uang Bisa Tembus Rp 188 Triliun Naik 1.000 per Gram, Segini Harga Emas Antam Hari Ini BREAKING NEWS: Belasan Warga Tanah Bumbu Diduga Terjebak Longsor di Tambang Batu Bara Usai Kios Pasar Kuripan Dibongkar, Pemkot Banjarmasin Incar Ruko dan TPS Veteran BMW M1 milik mendiang Paul Walker “Fast and Furious” Dilelang

Berikut 3 Golongan yang Haram Menikmati Surga

- Apahabar.com Minggu, 27 Oktober 2019 - 06:00 WIB

Berikut 3 Golongan yang Haram Menikmati Surga

Ilustrasi Alquran. Foto - Net

apahabar.com, JAKARTA – Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap amanah kepemimpinan yang dibebankan di atas pundaknya, sekecil apa pun kepemimpinan itu.

Dari mulai penguasa negara yang memimpin sekian banyak rakyatnya, sampai kepada seorang pembantu rumah tangga juga akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya itu.

Termasuk, seorang laki-laki dalam rumah tangganya. Ia adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang ada dalam rumah tangganya, terutama terhadap istri dan anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan.

Jadi, tidak terbatas hanya kepada anak perempuannya saja. Tanggung jawab di sini mencakup tanggung jawab nafkah, pendidikan, dan mengarahkan mereka kepada jalan Allah SWT.

Dalam hal mendidik dan mengarahkan keluarga menuju jalan Allah SWT ini, Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS al-Tahrim [66]: 6).

Allah SWT memerintahkan kepada Rasul-Nya dan tentu juga kita sebagai umatnya untuk mendidik dan menyuruh anggota keluarga kita agar selalu melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT, seperti mendirikan shalat dan bersabar dalam melakukan hal itu (QS Thaha [20]: 132).

Nabi SAW juga memberikan bimbingan bagi umatnya cara membiasakan anak untuk beribadah sejak dari usia dini. Beliau SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

Terhadap orang tua, baik ayah maupun ibu, seorang anak berkewajiban untuk berbakti dan selalu berbuat baik serta mengingatkan dengan cara yang baik jika kedua orang berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah Nabi SAW.

Para ulama sepakat bahwa seorang Muslim wajib menafkahi orang tuanya jika mereka memang membutuhkan karena banyaknya dalil dari Alquran dan hadis Nabi SAW yang menegaskan kewajiban untuk berbakti kepada orang tua. Dan, berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu amalan yang paling afdal di sisi Allah SWT.

Sebaliknya, durhaka kepada kedua orang tua adalah salah satu dosa besar. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS Luqman [31]: 14).

Dan ketika orang tua mengajak atau menyuruh untuk berbuat dosa atau maksiat maka seorang anak tidak boleh mengikuti ajakan itu, tapi harus tetap menghormati dan bergaul dengan dengan cara yang baik. (QS Luqman [31]: 15).

Juga ada kewajiban untuk memberikan nasihat dan mengingatkan tentang perintah dan larangan Allah SWT sesuai dengan tugas dan kewajiban seorang Muslim untuk melakukan amar makruf nahi mungkar yang tentunya lebih utama kepada orang-orang terdekatnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Tiga golongan yang Allah SWT haramkan baginya surga, yaitu pecandu khamar, orang yang durhaka kepada orang tuanya, dan lelaki dayyuts (laki-laki yang acuh dan tidak ambil peduli dengan siapa istri dan anak-anaknya bergaul, pergi, bertemu) yang membiarkan kemaksiatan dilakukan dalam rumah tangganya.” (HR Ahmad dan al-Nasa`i).

Berdasarkan itu, seseorang bertanggung jawab jika ada anggota keluarga yang melakukan dosa atau kemaksiatan, sedangkan ia membiarkan hal itu terjadi atau menjadi sebab mereka melakukan dosa dan maksiat tersebut atau ia tidak mendidik dan mengarahkan mereka, sehingga mereka meninggalkan perintah Allah SWT dan melakukan kemaksiatan.

Baca Juga: Kisah Masuk Islamnya Ibunda Abu Hurairah Setelah Didoakan Rasulullah

Baca Juga: Ketika Seekor Anjing Mengadu kepada Rasulullah SAW

Sumber: Khazanah Republika.co.id
Editor: Aprianoor

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hikmah

Nabi Muhammad Menganjurkan Hemat Air Saat Wudhu
apahabar.com

Hikmah

Nasehatnya Selalu Ditaati, Ini Kunci Sukses Dakwah Imam Hasan Al Basri
Rahasia Kunci Sukses Bisnis Ala Rasulullah SAW

Hikmah

Rahasia Kunci Sukses Bisnis Ala Rasulullah SAW
apahabar.com

Hikmah

Wasiat Terakhir Rasulullah SAW: Jaga Salat!
apahabar.com

Hikmah

Jika Orang Lain Tertimpa Musibah, Bacakan Doa Ini
apahabar.com

Hikmah

Buah Tin, Rahasia Sumpah Allah SWT dan Segudang Khasiat
apahabar.com

Hikmah

Umar bin Khattab Tak Bebani Orang yang Penghasilannya Kecil

Hikmah

Bertugas Malam Lebaran, Captain Maherda Bertakbir di Kesunyian Langit
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com