Kepergok Mesum, Dua Sejoli di Tapin Langsung Dinikahkan di Depan Warga Habib Banua Sedih Jokowi Legalkan Produksi Miras, Sentil Para Pembisik Presiden Kronologis Penangkapan Penusuk Wildan, Mahasiswa Tanbu yang Tewas Dikeroyok BRAVO! Para Penusuk Wildan Mahasiswa ULM asal Tanbu Diringkus Polisi Transkrip PPK Banjar Terima Rp10 Juta Beredar, Bawaslu Turun Tangan

Besok Malam, NSA Project Movement Hadirkan Pertunjukan Gamalan di Taman Budaya

- Apahabar.com Selasa, 29 Oktober 2019 - 11:53 WIB

Besok Malam, NSA Project Movement Hadirkan Pertunjukan Gamalan di Taman Budaya

poster. Foto-istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – NSA Project Movement dengan Komposer Novyandi Saputra akan menggelar pertunjukan komposisi Gamalan Banjar, Rabu, 30 Oktober 2019 pukul 20.30 Wita. Bertempat di Gedung Kesenian Balairung Sari. Pertunjukan ini akan diformat selama kurang lebih 40 menit.

Gagasan “Musik Baru untuk Gamalan Banjar” ini berangkat dari nilai-nilai esensial tabuhan gamalan Banjar dengan konsep garap baru tanpa menghilangkan tata tabuh tradisi gamalan Banjar.

Pada karya kali ini, Novyandi Saputra kembali hadir sebagai Komponis dengan konsep-konsep musik-musik post-culture dengan media Gamalan Banjar.

Novyandi menyadari, selama memainkan gending-gending klasik terdapat sebuah esensi keterbukaan yang disampaikan oleh para pendahulu melalui gending-gending tersebut.

“Sehingga gamalan Banjar sebagai sebuah peristiwa musikal selalu terbuka atas sebuah masa,” ucapnya melalui siaran pers yang diterima apahabar.com, Selasa (29/10) pagi.

Ia akan menghadirkan pola-pola garap baru yang mampu memberikan napas keberkembangan dan keterbukaan pada Gamalan Banjar tanpa menghilangkan spirit dari Gamalan Banjar itu sendiri.

“Berdasar pada peristiwa tersebutlah muncul istilah KALA yang berarti jangka perbuatan,” katanya.

Jangka perbuatan di sini diartikan sebagai bentuk perubahan gaya musikal Gamalan Banjar dengan semangat keterbukaannya.

Konsep kekaryaan KALA berangkat dari kuasa inner melodi para penabuh Gamalan Banjar yang terpusat pada instrumen sarun halus dan sarun ganal.

Kemudian membentuk pola counterpoint (Contrapung) yakni saling jalin dari titik yang sama dengan bentang melodi berbeda dan bertemu atau berhenti pada titik nada yang sama dengan instrumen-instrumen lainnya.

“Fleksibelitas tata tabuh yang dibentuk dari tempo dan dinamika akan menghadirkan gaya tabuh baru yang memungkinkan menghadirkan daya imajinasi bagi para penonton yang terkoneksi dengan wacana bebunyian yang dihadirkan,” sebutnya.

Komposisi ini bertujuan untuk melahirkan sebuah cara pandang baru, sehingga menambah pengetahuan dan pencerahan terhadap gaya garap. Lalu digambarkan sebagai sebuah keterbukaan bagi Gamalan Banjar yang hidup dalam pakem klasik.

“Serta memberi pencerahan bahwa Gamalan Banjar punya keterbukaan perubahan sosial dan budaya setempat,” pungkasnya.

Baca Juga: Nuansa Penuh Warna di Festival Hijau III Ije Jela Bahalap

Baca Juga: Lewat Pertunjukan Seni, Mahasiswa Unlam Ajak Save Meratus

Baca Juga: Merasakan Suasana ‘Mistis’ Tari Manopeng di Banjarmasin

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Kalsel

Update 28 Maret: PDP Covid-19 Banjarmasin Bertambah Lagi
apahabar.com

Kalsel

Alat Kelengkapan DPRD Banjarmasin Terganjal SK Gubernur
apahabar.com

Kalsel

Aksi Simpatik Polisi Warnai Unjuk Rasa di DPRD Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Masyarakat Pulau Sugara Alalak Siap Sahur Bareng Paman Birin Malam Ini!
apahabar.com

Kalsel

HST Gelontorkan Dana Rp2 M Amankan Pilkada dan Pilkades 2020
apahabar.com

Kalsel

P2TP2A Sorot Keberadaan Badut di Banjarmasin Diduga Korban Eksploitasi Anak
apahabar.com

Kalsel

Bergejala Covid-19, Dua Warga HST Dirawat di RS Damanhuri
Kamar Tahanan

Kalsel

Geledah Kamar Tahanan, Petugas Lapas Tanjung Temukan Benda Terlarang
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com