Empat Program Bank Indonesia Majukan UMKM Busyet! Buaya Masuk Rumah Warga Saat Banjir di Kaltim Lama Buron, Mantan Kades di Katingan Tilap Dana Desa Rp 1,1 M Berhasil Diringkus di Kapuas Jalan Provinsi di HSU Rusak Parah, Truk Bermuatan Semen Amblas Persiba Cuci Gudang, Coret Tujuh Pemain Jelang Delapan Besar Liga 2

Demi Siram Toilet, Pelajar di Flores Rela Pikul Air 5 Km

- Apahabar.com     Selasa, 15 Oktober 2019 - 10:17 WITA

Demi Siram Toilet, Pelajar di Flores Rela Pikul Air 5 Km

Dari rumah ke sekolah, siswa-siswi SDI Tuanio tampak memikul air dengan jeriken 5 liter di atas kepala. Foto-Kompas.com

apahabar.com, MBAY – Maria Nasrin, siswi di Kabupaten Nagekeo, Flores harus bangun lebih awal dari biasanya.

Setiap pagi, Maria dan kawan-kawan bangun pukul 04.00 Wita untuk menimba air di mata air yang letaknya jauh dari rumah.

Ya, kemarau panjang tengah melanda provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT). Krisis air bersih pun melanda warga.

Tak cuma rumah tangga, sekolah-sekolah pun juga sulit mendapatkan air bersih.

Akibatnya, para siswa pun harus mencari air bersih. Sekadar untuk keperluan sekolah. Menyiram toilet dan menyirami tanaman.

“Setiap hari kami pikul air ke sekolah untuk siram toilet dan bunga. Kami jalan kaki dari rumah sejauh 5 kilometer ke sekolah,” cerita Maria Nasrin, salah seorang siswi kepada Kompas.com, Senin (14/10).

Kondisi demikian tak hanya berlaku untuk Maria. Juga untuk, siswa-siswi sekolah dasar inpres (SDI) Tuanio, Desa Pagomogo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Flores.

Bocah-bocah tersebut terpaksa memikul air dengan jeriken 5 liter ke sekolah untuk siram toilet dan bunga.

Mereka harus bangun pagi sebab harus mengantre berjam-jam untuk mengambil air di pancuran.

Kepala SDI Tuanio, Ferdinandus Koba membenarkan krisis air di wilayah itu.

Selama musim kering ini, untuk mendapatkan air bersih, warga setempat harus berjalan kaki minimal sejauh 3 kilometer.

Desa itu memang belum dijangkau jaringan air minum bersih dari pemerintah.

“Untuk kebutuhan di sekolah ini, anak-anak harus pikul air dari rumah. Kalau tidak begitu, kami semua tidak bisa ke toilet. Bunga-bunga di taman juga bisa mati semua,” sebut Ferdinandus, dikutip apahabar.com dari Kompas.com.

Ke depan, Ferdianus berharap pemerintah daerah dan desa membuka jaringan air minum bersih. Termasuk di lingkungan sekolah.

Baca Juga: Sungai Barito di Kalteng Kembali Surut, Angkutan Air Terganggu

Baca Juga: Sumur Wakaf Jadi Solusi Krisis Air di Desa Kintap

Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Kapolres Luwu Utara

Nasional

Kapolres Luwu Utara Terjerat Kasus Rekayasa Penembakan Buron

Nasional

Gempa Bumi Guncang Malang, Warga Panik Berhamburan ke Luar

Nasional

Peneliti Ungkap Biang Kerok Lonjakan Kasus Covid-19 di Indonesia
apahabar.com

Nasional

Covid-19, Anggota Komisi I DPR Usul Internet Gratis
apahabar.com

Nasional

Kasus Ekspor Benur, KPK Periksa Saksi Terkait Uang Rp52,3 M
apahabar.com

Nasional

Mengenang Aktor Robby Sugara: ‘The Big Five’ era 90-an
FPI

Nasional

Maklumat soal FPI Jadi Kontroversi, Begini Respons Polri
wakaf uang

Nasional

Kembangkan Ekonomi Syariah, Jokowi dan Ma’ruf Amin Luncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com