Waspada, Potensi Hujan Disertai Angin Kencang Ancam 9 Wilayah Kalsel Kanwil Kemenkum HAM Kalsel Dorong UMKM Bentuk Perseroan Perseorangan Catat, Vaksinasi Covid-19 Kabupaten Banjar Berhadiah Umrah Longsor di Maradapan Pulau Sembilan Kotabaru, Puluhan Rumah Terdampak Aksi Heroik Bripka Aan Kotabaru Bantu Ibu Melahirkan di Ambulans

Ikan Keramba di Banua Anyar Kena Imbas Intrusi Air Laut, Kerugian Rp 34 Juta

- Apahabar.com     Senin, 7 Oktober 2019 - 18:08 WITA

Ikan Keramba di Banua Anyar Kena Imbas Intrusi Air Laut, Kerugian Rp 34 Juta

Kondisi ikan mati massal di beberapa keramba petani jala apung di Kelurahan Banua Anyar Kecamatan Banjarmasin Timur Kalsel. Foto-apahabar.com/Bahauddin Qusairi

apahabar.com, BANJARMASIN – Intrusi air laut ke Sungai Martapura tak cuma membuat Kota Banjarmasin krisis air bersih. Fenomena musim kemarau ini juga membuat petambak ikan mengalami kerugian.

Seperti yang menimpa petani ikan di kawasan Banua Anyar, Muhammad Yusi. Dalam belakangan ini, setidaknya dia kehilangan nyaris dua ton ikan bawal dari 30 keramba miliknya.

Itu lantaran ikan mati akibat tak kuat menahan kadar garam yang terlalu tinggi.

Jika dirupiahkan, nilainya sudah mencapai Rp 34 juta. Berdasarkan harga normal ikan bawal Rp17 ribu per kilogram.

“Ini yang sudah kami tertimbang. Yang belum diangkat dari keramba juga masih banyak,” katanya.

Beruntungnya ikan-ikan mati tersebut sebenarnya masih bisa diuangkan Rp 1.000 per kilogram. Demikian diarahkan kepada pengepul untuk dijadikan pakan ternak.

Namun tetap saja angkanya tak sebanding. Belum menutupi modal yang mesti dikeluarkan selama memelihara ikan.

“Kalau dihitung-hitung, per keramba modalnya sekitar Rp2 juta. Satu keramba bisa memuat sampai 500 kilogram ikan bawal,” tuturnya.

Menurutnya, memelihara ikan ini bukan perkara mudah. Butuh waktu setengah tahun untuk bisa dipanen massal.

“Saat ini belum tiba masa panen. Kalaupun ada, beberapa keramba saja,” sebutnya.

Biar tahu saja. Masa panen ikan bawal terjadi tiga fase. Lima bulan pertama, enam, lalu tujuh bulan pada puncaknya.

Dalam kondisi normal, keuntungan maksimal bisa mencapai Rp7 juta per keramba. Namun untuk tahun ini, Yusi harus gigit jari.

Keuntungan tersebut tak mungkin lagi ia dapatkan. Dirinya cuma bisa pasrah. Menunggu kondisi sungai membaik.

“Ada yang hidup saja syukur. Itu pun harga jualnya pasti jatuh. Bahkan bisa anjlok sampai Rp14 ribu per kilo,” ungkapnya.

Saat ini Yusi memilih fokus membersihkan keramba-keramba miliknya. Mengambil ribuan bangkai ikan yang mati agar tak mencemari lingkungan.

“Namanya kondisi alam, ya tidak bisa disiasati lagi. Tahun ini sepertinya paling parah dalam tiga tahun terakhir,” sebutnya.

Itulah dampak buruk yang menimpa petani-petani ikan di Banjarmasin. Yusi hanya satu contoh dari ratusan orang lainnya.

Baca Juga: Baru Peroleh Rp39 Miliar, Pemkab Batola Digaet Kanwil Dirjen Pajak

Baca Juga: Dana Pilkada 2020 Disepakati Rp 6,8 Miliar, Bawaslu Masih Butuh Rp 2,1 Miliar

Reporter: Bahaudin Qusairi

Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Kalsel

Cegah Ledakan Penduduk, DPPKB Balangan Gencarkan Program KB
apahabar.com

Kalsel

PSHT Sahkan 133 Warga Baru di Tapin
Penjual Gorengan asal Martapura

Kalsel

Viral, Gadis Cantik asal Martapura Jual Gorengan di Pasar Subuh Sekumpul
apahabar.com

Kalsel

Resmi RSDI Banjarbaru Sementara Tolak Pasien Non Covid-19, Simak Alasannya
apahabar.com

Kalsel

Walhi Turut Pertanyakan Kualitas Sumur Bor Gambut Kalsel yang Rusak

Kalsel

Bupati HSU Nonaktif Jadi Tersangka, Sederet Nama Kepala Dinas Diperiksa KPK
apahabar.com

Kalsel

Kunjungi Dewan Kalsel, Duta Besar AS Tertarik Perpolitikan di Banua
apahabar.com

Kalsel

Polres Batola Polda Kalsel Gelar Latihan Pra Operasi Mantap Praja Intan 2020
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com