UPDATE 264 Rumah di HST Hilang Disapu Banjir, 9 Meninggal BANYU LALU HAJA Tim Paman Birin Mau Polisikan Warga, Peradi-Komnas HAM Pasang Badan Duuh, 8 Kecamatan di Tanah Laut Hilang Disapu Banjir Dear Korban Banjir Kalsel, Telkomsel Bebaskan Telepon-SMS Demi Aliran Sungai, Pos Polisi di Jalan Veteran Banjarmasin Dibongkar

Komnas HAM Mendeteksi Ada Kelompok Penyusup di Wamena

- Apahabar.com Selasa, 1 Oktober 2019 - 12:16 WIB

Komnas HAM Mendeteksi Ada Kelompok Penyusup di Wamena

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik (tengah) bersama Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Amiruddin (kiri) dan Komisioner Pengkajian dan Penelitian Mohammad Choirul Anam, memberikan keterangan kepada wartawan terkait tragedi kemanusian Wamena dan Papua di Jakarta, Senin (30/09).Foto - Antara/Nova Wahyudi

apahabar.com, JAKARTA – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyebutkan meski berlatar kesalahpahaman, mereka juga mendeteksi ada kelompok penyusup yang menimbulkan memperkeruh suasana di Wamena, Papua.

Komnas HAM juga membeberkan kronologi kerusuhan yang pecah di Wamena, Papua, pada Senin (23/09) lalu.

Menurut Komnas HAM, kejadian bermula saat guru pengganti perempuan berinisal RP meminta salah satu muridnya membaca dengan “keras”. “Sebetulnya, menurut Riris, dia tidak pernah bilang kata ‘kera’, dia bilang murid baca dengan keras karena murid ini tidak membaca dengan jelas. Itu pada hari Selasa (17/09),” kata Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik di Jakarta, seperti dikutip dari Republika, Senin (30/09).

Dia melanjutkan, hingga Jumat (20/09), semua berjalan dengan normal. Baru, dia mengatakan, pada Sabtu (21/09) ada ribut-ribut di mana sejumlah murid marah-marah karena disebut guru sebagai kera.

Kejadian tersebut langsung diklarifikasi dan semua pihak sudah saling memaafkan, bahkan sudah bernyanyi bersama menyusul ada salah satu murid yang berulang tahun. Menurut Damanik, RP tidak menyadari akan ada konflik lanjutan dari peristiwa tersebut.

Damanik meneruskan, selanjutnya pada Minggu (22/9) ada penyerangan ke sekolah. Dan, pada Senin (23/9), sudah ada perusakan di sekolah hingga kepala sekolah melarang RP datang ke tempat dia mengajar.

Tak lama berselang, Damanik melanjutkan, datang segerombolan siswa yang marah-marah disertai gerombolan lainnya. Dia mengatakan, berdasarkan keterangan warga sekitar, mereka juga tidak mengenali gerombolan massa lainnya yang ikut datang ke sekolah tersebut.

“Ini yang harus diinvestigasi adanya massa lainnya yang demo. Massa itu nggak jelas karena banyak massa yang bilang nggak jelas dengan massa yang datang berdemo,” katanya.

Damanik mengungkapkan, kronologi tersebut didapatkan dari kepala perwakilan Komnas HAM di Papua, Prince. Melihat hal itu, dia berpendapat jika kerusuhan yang terjadi di Wamena dilakukan secara sistematis oleh massa yang kemudian berujung pada kekerasan.

Komnas HAM mencatat, korban tewas akibat peristiwa itu mencapai 31 orang. Angka itu belum ditambah 43 korban luka yang butuh penanganan segera di rumah sakit. Mereka mengalami cedera serius mulai dari gegar otak, patah kaki, dan lain-lain.

Damanik menekankan, sangat penting untuk diungkap dari siapa pelaku hingga motifnya untuk menghindari peristiwa yang berulang. “Ini tidak bisa kita biarkan, yang bisa kita kategorikan tragedi kemanusiaan, dan kalau tidak dilakukan proses penegakan hukum, kita sangat khawatir akan terulang peristiwa yang sama,” ujar Damanik.

Sebab, kata dia, ketegangan tak hanya terjadi di Wamena, tetapi hampir di seluruh wilayah Papua. Akibat kerusuhan, orang-orang yang ada di Papua menjadi saling tidak percaya, dihinggapi rasa kekhawatiran dan ketakutan, bahkan hidup dalam suasana yang tidak nyaman.

Ia mengimbau seluruh pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh adat Papua, maupun tokoh agama untuk melakukan dialog konstruktif dalam rangka mencari langkah-langkah perdamaian. Bagi Komnas HAM, dialog merupakan solusi terbaik. Jika hal itu tidak segera diselesaikan, bisa memicu tragedi yang lebih besar.

“Tentu saja, bisa memicu ketegangan lebih luas di berbagai tempat, termasuk di Jakarta, termasuk juga respons internasional kepada kita sebagai bangsa,” kata Taufan menjelaskan.

Sementara, pemerintah menyebut sudah ada 33 korban meninggal akibat peristiwa kerusuhan di Wamena. Presiden Joko Widodo juga telah menyampaikan belasungkawa kepada para korban tersebut. Pada saat yang bersamaan, Jokowi mengatakan, kerusuhan di Wamena itu bukan kerusuhan antaretnis. Dia menjelaskan, kerusuhan dan perusakan rumah-rumah warga dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata.

Sejumlah warga Wamena yang ditanyai menyatakan, kerusuhan memang terlihat seperti diorganisasikan. “Jadi, tiba-tiba massa datang dan membakar-bakar. Seperti sudah direncanakan,” kata Pardjono, seorang pegawai negeri di Wamena.

Baca Juga: ACT Buka Crisis Center Tragedi Kemanusiaan Wamena di Makassar

Baca Juga: Polri Tetapkan 5 Tersangka Kerusuhan Wamena

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Nasional

Polisi: Pelaku Pembunuhan Mayat Tanpa Kepala Teman Sendiri
apahabar.com

Nasional

Jelang HPN, PWI Gelar Anugerah Jurnalistik Adinegoro
apahabar.com

Nasional

37 Pendemo dari Malang dan Surabaya Reaktif Covid-19
apahabar.com

Nasional

Buka Muktamar IV Parmusi, Jokowi Tekankan Pencegahan Covid-19
apahabar.com

Nasional

Terjaring Razia Masker Saat Kendarai Mobil Sendiri, Advokat Ini Ancam Gugat Rp 1 T Petugas Covid-19
apahabar.com

Nasional

Jokowi Soroti Ancaman Krisis Pangan dan Ketahanan Energi
apahabar.com

Nasional

Mahfud MD Ramalkan Penangkapan Romi
apahabar.com

Nasional

Pasien Positif Covid-19 di Jakarta Capai 701, Tersebar di 156 Kelurahan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com