3 Jam Hujan Deras, Ratusan Rumah Warga Desa Miawa Tapin Kebanjiran Kisah Pilu Istri Korban Disambar Buaya di Kotabaru, Harus Rawat 4 Anak, 1 di Antaranya Berusia 6 Bulan Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah Produksi Migas Kalimantan-Sulawesi Lampaui Target, Kok Bisa? PLTS Tak Berfungsi, Kades Panaan Mengadu ke Dinas ESDM Kalsel

Menanti Kinerja Wajah Baru Wakil Kalsel di Senayan

- Apahabar.com Rabu, 2 Oktober 2019 - 10:22 WIB

Menanti Kinerja Wajah Baru Wakil Kalsel di Senayan

Sebanyak 575 anggota DPR RI masa bakti 2019-2024 resmi dilantik. Pelantikan digelar di Ruang Paripurna I, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (01/10). Foto-Dery Ridwansah/JawaPos

Oleh: Riswan Erfa Mustajillah

apahabar.com

Riswan Erfa Mustajillah. Foto-Istimewa

SEJUMLAH nama baru yang mewakili daerah pemilihan (dapil) Kalsel di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) periode 2019-2024 telah resmi dilantik pada 1 Oktober 2019.

Setidaknya ada 5 nama baru dari 11 kursi anggota DPR RI yang mewakili dapil Kalsel di Senayan.

Dari dapil I ada nama H.M. Rifqinizamy Karsayuda dari PDIP dan H. Khairul Saleh dari PAN. Sementara dari dapil II ada nama dr. H. Sulaiman Umar dan Syafruddin H Maming dari PDIP, serta H. M. Nur dari Gerindra.

Nama-nama baru ini tentu akan dihadapkan pada tantangan untuk bisa turut mewujudkan harapan dari masyarakat Kalsel melalui fungsi dan kewenangan yang dimilikinya di DPR RI nantinya.

Selain itu tantangan yang juga harus mampu dijawab adalah pemenuhan ekspektasi masyarakat tentang kinerja mereka yang harus lebih baik dari calon-calon petahana sebelumnya.

Menanti Kinerja

Setelah dilantik nanti, hakikatnya para wakil rakyat itu memang bukan lagi sekadar wakil masyarakat Kalsel baik yang secara langsung memilih mereka di bilik suara pada 19 April 2019 yang lalu ataupun yang tidak memilih mereka.

Pada skala yang lebih besar mereka akan menjadi wakil seluruh rakyat Indonesia untuk mengejawantahkan nilai-nilai demokrasi serta menyerap dan memperjuangkan aspirasi rakyat sebagaimana amanat Undang-Undang 17 tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPRD dan DPD sebagaimana terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2018.

Sebagai legislator yang terpilih dari dapil di Kalsel tentu diharapkan mereka punya prioritas untuk bisa mengartikulasikan keberpihakan terhadap pembangunan di Kalsel melalui fungsi yang dimilikinya di DPR RI.

Misalnya dalam hal fungsi anggaran, legislator asal dapil Kalsel tentu diharapkan bisa mendorong agar Kalsel bisa mendapat porsi Dana Alokasi Umum (DAU) yang lebih optimal.

Tantangan tentu tidak akan mudah untuk diwujudkan sebab kebijakan publik dalam sebuah sistem demokrasi salah satunya ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil rakyat. Sementara wakil rakyat yang berasal dari dapil Kalsel hanya ada 11 orang dari 575 kursi DPR RI.

Berbagai tantangan yang harus dihadapi wakil rakyat baru Kalsel di Senayan selain diharapkan mampu menjadi bagian pendorong percepatan pembangunan di Kalimantan Selatan, dalam kinerjanya juga diharapkan mampu mewarnai kerja-kerja DPR RI dengan baik.

Mereka tentu diharapkan mampu mendorong prinsip saling mengimbangi checks and balances dalam penyelenggaraan pemerintahan dan mampu menciptakan citra positif sebagai representasi lembaga perwakilan yang memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Tantangan itu pun harus mereka hadapi dengan minimnya pengalaman berkiprah di lembaga legislatif pusat.

Konversi Defisit Pengalaman

Dalam konteks inilah nama-nama baru calon anggota legislatif dari Kalsel yang akan menuju Senayan itu diharapkan mampu mengemban tugas yang tidak ringan.

Mereka dituntut untuk meyakinkan berbagai pihak di DPR RI untuk turut mendukung ikhtiarnya dalam mendorong percepatan pembangunan di Kalsel.

Apalagi sebagai politisi baru di Senayan mereka akan diasosiakan sebagai anggota legislatif yang defisit pengalaman. Akan tetapi defisit pengalaman di ranah legislatif itu tentu bisa dikonversi dengan hal lain.

Misalnya bisa dikonversi dengan kompetensi atau pengalaman-pengalaman di ranah profesional yang bisa mendukung kerja seorang legislator.

Konversi defisit pengalaman dari seorang legislator baru dengan kompentensi yang dimiliki dapat dinilai sebagai sesuatu yang tepat. Melalui kompetensi seseorang akan punya pemahaman yang kuat terkait fungsi yang ada pada jabatan yang diembannya.  Pemahaman itu diharapkan mampu menghasilkan gagasan-gagasan baru dari seorang wakil rakyat dalam menjalankan fungsinya.

Misalnya dalam menjalankan fungsi pengawasan. Legislator yang punya kompetensi tentu akan paham betul esensi pengawasan bukan sekadar fungsi yang dijalankan secara simbolik seperti sekadar hadir dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan mitra kerja.

Legislator yang punya kompetensi tentu akan mampu menjelaskan akar masalah dari objek yang diawasinya dan akan mampu membangun dialektika untuk menyelesaikan permasalahan.

Oleh karenanya defisit pengalaman tak akan menjadi soal sepanjang legislator baru punya kompetensi itu.

Keuntungan lain dari legislator yang punya kompetensi adalah kemampuan untuk bisa membangun dukungan politik di parlemen atas dasar basis ideologis dan bukan basis transaksional.

Terlebih seorang politisi tentu dituntut punya kemampuan untuk membangun konsolidasi dan dukungan politik untuk memenuhi janji politiknya.

Hal demikian sedikit banyak tentu punya pengaruh dalam menjaga integritas dari pengaruh negatif yang selama ini melekat pada lembaga legislatif tersebut.

Kompetensi memang bukan faktor tunggal untuk menjaga integritas, karena ada beberapa faktor lain yang harus dipenuhi, misalnya ia harus basis nilai-nilai religius.

Kini setelah masyarakat Kalsel menentukan pilihan dan mengembankan amanah, utamanya pada wajah baru wakil rakyat Kalsel di Senayan tentu publik menanti kinerjanya ke depan.

Pilihan masyarakat Kalsel terhadap orang-orang baru menunjukkan bahwa masyarakat Kalsel boleh jadi meyakini mereka yang minim pengalaman akan mampu membangun kinerja optimal dengan adanya kompetensi lebih.

Karenanya selain ucapan selamat mengemban amanah baru dari masyarakat Kalimantan Selatan, kita juga mesti mendoakan mereka dalam ikhtiarnya mewarnai parlemen Republik. Walaahu’alam bi sawab

Baca Juga: Jenderal, Ini Demonstran, Bukan Perusuh

Baca Juga: Vivick Tjangkung  Luncurkan Buku “Melawan Teror Narkoba 8 Penjuru”

Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum FH Universits Brawijaya

======================================================================

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Opini

Rekonstruksi Makna Shalat, Dari Rutinitas Jasmani Menjadi Suluk Ruhani
Monumen Baru Perlawanan Ilham Bintang

Opini

Monumen Baru Perlawanan Ilham Bintang
apahabar.com

Opini

Pesan kepada Kawan
apahabar.com

Opini

Islamofobia dan Kumandang Azan dari Radio BBC London

Opini

Melacak Akar Paradigma Keislaman Modern (Islam Liberal, Islam Fundamental, Islam Tradisional, dan Islam Moderat)

Opini

Menengok Sejarah Astambul, Mencari ‘Kota’ yang Hilang
apahabar.com

Opini

Menyambut Ramadan di Kala Pandemi

Opini

Dampak Virus Corona Bagi Guru, Siswa, dan Orang Tua
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com