Resmi, Palangka Raya Belum Mau Berlakukan New Normal Susul Tanbu, Giliran 3 Pasien Tapin Sembuh dari Covid-19 Cerita Tukang Cukur Banjarmasin Keluhkan Protokol Covid-19 Pemuda Mandastana Genapi 4 Pasien Sembuh Covid-19 di Batola Kebakaran Jalan Manggis, Los Bedakan Diduga Sengaja Dibakar




Home Tokoh

Kamis, 10 Oktober 2019 - 06:15 WIB

Mengenal Sang Penemu Kamera Obscura

rifad - Apahabar.com

Ilmuwan Muslim penemu optik al-Haitham. Foto - Net

Ilmuwan Muslim penemu optik al-Haitham. Foto - Net

apahabar.com, JAKARTA – Kamera merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa.

Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.

Tapi tahukah anda kata kamera yang digunakan saat ini berasal dari bahasa Arab, yakni qamara.

Istilah itu muncul berkat kerja keras al-Haitham. Bapak fisika modern itu terlahir dengan nama Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Hasan Ibnu al-Haitham di Kota Basrah, Persia, saat Dinasti Buwaih dari Persia menguasai KekhalifahanAbbasiyah.

Dikutip apahabar.com dari Republika.co.id, sejak kecil al-Haytham dikenal berotak encer. Iamenempuh pendidikan pertamanya di tanah kelahirannya. Beranjak dewasa ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basrah. Namun, Al-Haitham lebih tertarik untuk menimba ilmu dari pada menjadi pegawai pemerintah.

Setelah itu, ia merantau ke Ahwaz dan metropolis intelektual dunia saat itu yakni kota Baghdad. Di kedua kota itu ia menimba beragam ilmu. Ghirahkeilmuannya yang tinggi membawanya terdampar hingga ke Mesir.

Al-Haitham pun sempat mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar yang didirikan KekhalifahanFatimiyah. Setelah itu, secara otodidak, ia mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat.

Baca juga :  Nonbar Film Pangeran Antasari, Upaya Seniman Melestarikan Sejarah

Secara serius dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya. Konon, dia telah menulis tak kurang dari 200 judul buku.

Dalam salah satu kitab yang ditulisnya, Alhazen – begitu dunia Barat menyebutnya – juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Ia pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.

Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika ‘Bapak Optik’ dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indrapengelihatan manusia. Hebatnya lagi, ia mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat.

Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, IbnuHaytham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat

Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian Al-Haitham itu lalu dikembangkan IbnuFirnas di Spanyol dengan membuat kaca mata.

Baca juga :  Cerita Dai Indonesia Ramadan di Macau

Dalam buku lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul Light dan On Twilight Phenomena, al-Haitham membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.

Menurut Al-Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Ia pun menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.

Al-Haitham juga mencetuskan teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Sayangnya, hanya sedikit yang tersisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab al-Manazhir, tidak diketahui lagi keberadaannya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin.

Baca Juga: Menengok Masjid Wadi Al Hussein, Saksi Mata Penyebaran Islam di Thailand

Baca Juga: Mengenal Ibnu Yunus, Astronomi Legendaris Asal Mesir

Baca Juga: Datu Amin, Jadi Mufti di Saat Berkecamuknya Perang

Sumber: Republika.co.id
Editor: Aprianoor

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Muhammad Syarwani Abdan (1), Seorang Habib ‘Melihat’ Keistimewaan Beliau Sejak Kecil
apahabar.com

Tokoh

Mundur dari PNS, Ini Penjelasan UAS
apahabar.com

Tokoh

Mengenang Abah Guru Sekumpul (10), Sempat Mau Dibunuh Ketika Mengajar

Religi

VIDEO: Mengenang Abah Guru Sekumpul (2), Berganti Nama Karena Sebuah Isyarat
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Muhammad Syarwani Abdan (4), Kiai Hamid Pasuruan: Saya Ingin Seperti Kiai Syarwani
apahabar.com

Tokoh

Mengenang Abah Guru Sekumpul (12), Seorang Habib Diberi Isyarat Tentang Rencana Pernikahan Beliau
apahabar.com

Tokoh

Surgi Mufti, “Berkawan” Penjajah Demi Mengurus Umat
apahabar.com

Tokoh

Mengenang Abah Guru Sekumpul (9), Melarang Murid Memberi Minum Saat Mengajar