ga('send', 'pageview');
Breaking News! Kabar Duka, Kadisdik Banjar Maidi Armansyah Meninggal Dunia Sebelum Wafat, Kondisi Wali Kota Banjarbaru Naik Turun Geger Mayat Mengapung di Laut Tanbu, Polisi Sulit Identifikasi Jelang Magrib, Api Gegerkan Blok Ikan Pasar Kandangan Peringatan 100 Hari Guru Zuhdi: Makam Ditutup, Streaming Jadi Andalan




Home Tokoh

Jumat, 18 Oktober 2019 - 05:15 WIB

Nasaruddin Umar: Harus Terbiasa Hidup di Tengah Perbedaan

Redaksi - apahabar.com

Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasaruddin Umar. Foto – Antara/Martha Herlinawati Simanjuntak

Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasaruddin Umar. Foto – Antara/Martha Herlinawati Simanjuntak

apahabar.com, JAKARTA – Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasaruddin Umar mengatakan seluruh warga negara Indonesia harus membiasakan diri hidup di tengah-tengah perbedaan untuk menjaga keharmonisan bermasyarakat dan persatuan Indonesia.

“Kalau kita berbeda jangan marah, jangan mengkafirkan, jangan mudah naik emosinya. Kalau kita terbiasa hidup di tengah perbedaan ini, itulah hakikat keberagamaan kita,” kata Nasaruddin dalam Kuliah kebangsaan Kita Bersatu Membangun Indonesia: Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya, Jakarta, Kamis (17/10).

Perbedaan yang ada termasuk dalam agama dan suku harus disikapi secara bijaksana, bukan saling mengklaim diri paling benar atau baik.

Menurut Nasaruddin, tidak perlu ada perdebatan untuk pembenaran satu agama lebih baik dibanding agama lain, karena itu hanya akan menuai konflik atau perseteruan.

Nasaruddin mengatakan agama harus dibawa sebagai faktor sentripetal, yakni bergerak menuju titik pusat untuk menjaga persatuan, bukan dibawa sebagai faktor sentrifugal yang bergerak menyebar.

Jika semua umat beragama bergerak menuju satu titik pusat yakni persatuan dan kesatuan Indonesia maka akan terjaga keharmonisan dan ketertiban di masyarakat.

“Mari kita bersaudara sekalipun kita beda agama,” ujar Nasaruddin.

Jika berlomba mengaku agama satu lebih baik dari agama yang lain, maka akan terjadi berbagai konflik karena masing-masing agama memiliki simbol perjuangan agama sendiri.

“Bawalah agama sebagai faktor bersatu. Indonesia merdeka karena bersatunya semua agama memberikan pemompaan semangat bagaimana kita melawan penjajah, itu menekankan aspek sentripetalnya agama, kita jangan menekankan aspek perbedaan agama,” tuturnya.

Nasaruddin mengatakan jika gagal dalam mengurus urusan keagamaan maka dapat mengacaukan persatuan dan kesatuan Indonesia.

“Agama itu seperti bom nuklir bisa menghancurkan Hirosima Nagasaki, tapi juga bisa jadi sumber tenaga listrik yang sangat kuat,” ujarnya.

Baca Juga: Mundur dari PNS, Ini Penjelasan UAS

Baca Juga: Mengenal Sang Penemu Kamera Obscura

Sumber: Antara
Editor: Aprianoor

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Tokoh

Mengenal Ibnu Yunus, Astronomi Legendaris Asal Mesir
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru Mulkani Al Banjari(1), Lulus Pesantren dalam Waktu Singkat
apahabar.com

Tokoh

Mengenang Guru Nuzhan (1) dan ‘Kekeramatan’ Beliau yang Tak Biasa
apahabar.com

Tokoh

Mengenang Abah Guru Sekumpul (2), Berganti Nama Karena Sebuah Isyarat
apahabar.com

Tokoh

Mengenal Ibnu Sina, Dokter Muslim Penemu TBC
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Muhammad Syarwani Abdan (3), Awal Mula Para Kiai Berguru dengan Beliau
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Husin Qaderi Al Banjari (3), Aktivis NU Kalsel yang Dipuji Banyak Ulama
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru Mulkani Al Banjari(2), Murid Pertama Habib Umar bin Hafidz dari Tanah Banjar
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com