apahabar.com
Kondisi Stadion Demang Lehman terlihat dari atas. Foto-Istimewa

apahabar.com, MARTAPURA – Rumput Stadion Demang Lehman Martapura yang jadi sorotan pecinta sepak bola Banua ahir-ahir ini, sudah sampai ke telinga Sekretaris Daerah (Sekda) Banjar, Mokhamad Hilman.

Hilman yang sangat konsen dalam urusan meningkatkan sepakbola Banjar, sudah faham apa yang harus dilakukan.

Diakuinya selama ini rumput sebagian mati lantaran banyak kendala yang dihadapi pengelola selama pemeliharaan.

Salah satunya faktor utama, cuaca panas pada musim kemarau yang lumayan panjang. Sehingga pengelola perlu tambahan penyiraman rumput. Utamanya pagi dan sore hari.

“Penyiraman tersebut harusnya dilakukan sampai 2 jam dalam sekali penyiraman, agar bisa meresap sampai ke media tanam pasir yang setebal 15 CM,” ujar Hilman kepada apahabar.com, Selasa (08/10) siang.

Sialnya, itu tidak bisa dilakukan sepenuhnya. Penyebabnya, sumur bor yang biasanya digunakan kekurangan debit air. Bahkan, pembelian air untuk menyiram tak kuat menghidupi rumput.

Solusi lain sempat dilakukan. Salah satunya melakukan pendalaman sumur. Tapi tentunya juga tidak optimal. “Karena di bawah 150 meter, (pompa air) tidak bekerja dengan maksimal,” ucap Hilman.

Penggunaan pompa air tersebut, lanjut Hilman sudah ada sekitar 6 tahun yang lalu. Namun hanya sekali ini di tahun 2019, dilakukan pemeliharaan.

“Untuk saat ini efisiensi pompa hanya sekitar 60 %, sudah semestinya diganti dengan yang baru,” beber mantan Kadis PU Kab Banjar ini.

Di samping faktor cuaca, SDL juga dipergunakan oleh empat tim sekaligus musim ini.

Ya, selain Martapura FC yang memang sebagai markasnya untuk bermain di Liga 2, ada pula Barito Putera.

Barito senior dan juniornya terpaksa menggunakan SDL di Liga 1 lantaran Stadion 17 Mei Banjarmasin sedang direnovasi Pemprov Kalsel.

Selain itu, SLD juga tempat pertandingan Liga 3. Bahkan, lapangan ini juga dimanfaatkan untuk latihan untuk meningkatkan kemampuan tim Banua yang sedang terpuruk.

Pemeliharaan rumput secara rutin pun terus dilakukan. Selain penyiraman air, penggemburan tanah sempat dilakukan.

Tujuannya agar ada rongga-rongga sebagai sirkulasi udara dapat membuat rumput lebih subur dan padat sehingga menjaga kelenturan lapangan.

Sebagai media tanam pasir pada lapangan bola, juga harus dilakukan pemupukan.

“Selama pemupukan, memerlukan waktu agar hasil optimal. Minimal lapangan tidak digunakan selama 4 hari. Dan setelah dipupuk kondisi media tanam menjadi melemah,” ucapnya.

Segala upaya di atas itu pun tidak dapat membuat rumput tumbuh sempurna.

Ditambah lagi faktor lainnya. Yakni usia rumput mengingat SDL sudah berdiri sejak 7 tahun silam.

Sehingga mengakibatkan media tanam pasir sudah semakin menipis dan semakin padat, karena seringnya penyiraman.

“Selain itu, media tanam ini juga sudah mulai jenuh atau bisa kita katakan kebal terhadap pupuk. Karena kita harus menggunakan pupuk yang dosisnya lumayan tinggi,” bebernya.

Hilman mengungkapkan harusnya dilakukan penggantian media tanam atau dengan menambah tanah pasir sebanyak 10 sampai 15 cm.

Terkait dengan permasalahan tersebut, Hilman pun mengungkap rencana renovasi SDL, setelah selesai seluruh kompetisi. Renovasi yang dimaksud hanya lapangan saja.

“Mengatasi kondisi saat ini, tidak hanya dapat dilakukan pemeliharaan saja. Karena itu, Insya Allah pada saat selesai kompetisi tahun 2019 ini akan dilakukan renovasi atau perbaikan rumput SDL,” ungkap Hilman.

“Renovasi ini, kita dibantu oleh Gubernur Kalimantan Selatan, Paman Birin, melalui Dispora. Dengan dana yang diperlukan sebanyak 5 miliar,” pungkasnya.

Selama ini Hilman memang sangat konsen dengan sepakbola Banua. Lewat campur tangannya lahirlah Martapura FC dan SDL sebagai markas utama klub berjuluk Laskar Sultan Adam tersebut.

Baca Juga: Jelang UEA vs Timnas, Bayu Pradana Tak Masalahkan Cuaca Panas

Baca Juga: Lima Atlet Kalsel Berjuang di Kejurnas Boling Palembang

Reporter: AHC 15
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin