Kepergok Mesum, Dua Sejoli di Tapin Langsung Dinikahkan di Depan Warga Habib Banua Sedih Jokowi Legalkan Produksi Miras, Sentil Para Pembisik Presiden Kronologis Penangkapan Penusuk Wildan, Mahasiswa Tanbu yang Tewas Dikeroyok BRAVO! Para Penusuk Wildan Mahasiswa ULM asal Tanbu Diringkus Polisi Transkrip PPK Banjar Terima Rp10 Juta Beredar, Bawaslu Turun Tangan

Temuan Ulin Raksasa di Barabai Perlu Perhatian Pemerintah

- Apahabar.com Sabtu, 5 Oktober 2019 - 17:31 WIB

Temuan Ulin Raksasa di Barabai Perlu Perhatian Pemerintah

Lokasi penemuan batang kayu ulin raksasa yang terendam air dan tertimbun longsoran tanah akibat hujan lebat pada Senin 30 September lalu. Foto-apahabar.com/HN LAzuardi

apahabar.com, BANJARMASIN – Masih ingat temuan ulin raksasa di Barabai Darat, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST)?

Di Kalimantan, temuan ulin berdiameter sepinggang orang dewas itu jelas
bukan hal baru.

Di Indonesia, menurut Pakar Keahlian Konservasi Kalsel, Kissinger, sebaran ulin terbanyak ada di dataran Sunda seperti Kalimantan, Sumatera hingga Malaysia.

“Jadi kalau Kalimantan ada di semua daerah, kemudian Sumatera lalu Malaysia. Memang sebarannya ke situ,” katanya saat bincang ringan dengan apahabar.com.

Selanjutnya, iklim turut menjadi penentu penyebarannya. Di Jawa tidak ada karena beriklim Monsun. Sedangkan Sulawesi termasuk kawasan Wallacea.

Menurut Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin ini, tumbuhan bernama latin Eusideroxylon Zwageri itu hanya memiliki satu jenis spesies. Namun tergantung dari jenis-jenis varian pada daerah asal tumbuhnya.

“Penyebutan di kampung kan macam-macam ya, Ulin Tando, Lilin, Kapur dan Tembaga. Tapi dalam pertelaan dendrologi masih dalam satu spesies yaitu Eusideroxylon Zwageri,” papar dia.

Ulin termasuk pohon langka di Indonesia. Pohon ini dapat tumbuh di tanah datar atau miring pada ketinggian 50-400 meter. Beberapa bahkan bisa tumbuh mencapai diameter hingga 200 cm.

“Biasanya ulin tidak ditemukan di rawa, tapi bisa saja dahulu ada bekas sisa ulin di sana,” katanya.

Oleh si penemu, batang ulin rencananya akan dipotong-potong dan dijual. Dari hasil survei, harga pasaran per-kubik mencapai 7 juta rupiah.

Menurut Kissinger, memang ada aturan tersendiri dalam pemanfaatan kayu ulin. Namun hingga saat ini belum ada perkembangan dalam aturan yang membatasinya sampai mana.

Walau begitu, menurutnya harus ada pihak yang mau menginisiasi temuan ini.

“Mungkin ada kompensasi dari pemerintah provinsi sebagai bentuk kepedulian. Atau orang-orang yang konsen terhadap konservasi,” imbuhnya.

Dalam hal ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam memiliki wewenang untuk memberikan justifikasi. Selain itu, juga Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Kehutanan.

“Kalau bisa itu diselamatkan, tanpa dipotong-potong. Kan sayang tuh aset daerah juga, itu termasuk keunikan juga bisa ditemukan seperti itu,” ujarnya mengakhiri.

Diwartakan sebelumnya, warga Barabai dihebohkan dengan temuan batang ulin dengan panjang 12 meter dan diameter 40 cm. Ulin itu diperkirakan berusia 200 tahun.

“Ketika orang tua atau nenek masih ada tidak ada tumbuhan kayu ulin di sini, ujar Ilmi, pria 53 tahun itu.

Baca juga: Temuan Ulin Raksasa di Barabai, Taksiran Harga Sentuh Puluhan Juta

Reporter: Musnita Sari
Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Tak Tersentuh Internet, Sekolah di Kusan Hilir Sukses Gelar UNBK
Berikan Layanan Prima, Kapolresta Banjarmasin Komando Polwan Patroli

Kalsel

Berikan Layanan Prima, Kapolresta Banjarmasin Komando Polwan PatroliĀ 
apahabar.com

Kalsel

Cuaca Kalsel Hari Ini, Waspada Hujan Lebat
apahabar.com

Kalsel

Door to Door, Polda Kalsel Distribusikan 155 Ton Beras
apahabar.com

Kalsel

Warisan Budaya Banjar Tembus UNESCO, Kemendikbud Tantang Ibnu Sina
apahabar.com

Kalsel

Bertani Cabai Hiyung Sambil Budidaya Ikan Gabus di Tapin
apahabar.com

Kalsel

Karena IPK, 2 Wisudawati Uniska Banjarmasin Diganjar Umrah
apahabar.com

Kalsel

Pencarian Korban KM Pieces, Tim SAR Gabungan Sisiri Selat Makassar
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com