apahabar.com
Ilustrasi aksi heroik pejuang kemerdekaan. Foto-net

apahabar.com, BANJARMASIN – Kedatangan NICA sangat mengejutkan para tokoh politik dari Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah Kalimantan yang telah menyusun pemerintah Republik Indonesia di Kalimantan Selatan.

Lebih mengejutkan lagi, terdapat larangan pawai Merah Putih 10 Oktober 1945 yang akan diadakan di Kalsel. Pawai itu dalam rangka memeriahkan terbentuknya Pemerintahan Republik Indonesia di Kalsel.

“Dari sana, NICA bersiasat melemahkan perjuangan dengan cara menarik tokoh-tokoh politik agar bersedia bekerja dengan NICA,” ucap Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP ULM, Mansyur kepada apahabar.com, Jumat (8/11) pagi.

Alhasil, NICA berhasil menarik Pangeran Musa Ardikesuma agar bekerjasama sebagai Kiai Kepala dan melepaskan Jabatan Residen Republik Indonesia.

Sadar terhadap kelemahan politik tersebut, para pemuda pun berjuang dengan cara sendiri untuk memperoleh kemerdekaan dan mengusir pemerintahan NICA di daerah Kalsel.

Bentuk perjuangan tersebut merupakan sebuah gerakan rahasia yang dibentuk pada 16 Oktober 1945. Dikenal dengan nama Barisan Pemberontakan Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK) yang dipimpin M. Amin Effendi, Abdul Kadir Uwan, dan lainnya.

“BPRIK anggotanya terdiri dari para pemuda, khususnya para bekas Heiho,” bebernya.

Organisasi ini pun, kata dia, sangat cepat berkembang di daerah Hulu Sungai.

Di Rantau dipimpin oleh tokoh-tokoh politik terdiri dari H. Makki dan H. Mahyudin. Dengan nama Barisan Pelopor Pemberontak Kalimantan Indonesia (BPPKI).

Di Banjarmasin sendiri, sebuah insiden di Pasar Baru pun terjadi. Tepatnya, pada 1 November 1945, dua orang tentara Belanda tewas dikeroyok pemuda.

“Hal ini merupakan bukti pergulatan kekerasan spirit merdeka telah terjadi,” tegasnya.

Selain peristiwa pembunuhan itu, pada 1 menuju 2 November 1945, pimpinan BPRIK Amin Effendi telah merencanakan aksi pemuda untuk merampas senjata di kantor polisi.

“Untuk melaksanakan rencana itu dibentuklah kelompok-kelompok pemuda dalam beberapa sektor,” jelasnya.

Sektor Selatan di bawah pimpinan Badran berkedudukan di sekitar Rumah Sakit Ulin.

Sektor Utara di bawah pimpinan Abdul Kadir Uwan, sedangkan M. Amin Effendi sebagai Pimpinan Umum memegang Sektor Tengah.

“Serangan itu dikoordinasikan oleh Barisan Pemberontak Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK),” katanya.

Adapun, sasaran yang menjadi rencana penyerbuan adalah Tangsi Polisi NICA di Jalan Jawa, Rumah Sakit Ulin.

Di rumah sakit itu telah dirawat tentara NICA bekas tawanan Jepang yang baru dibebaskan dari kamp konsentrasi Puruk Cuhu.

“Mereka masih dalam keadaan lemah dan sakit, serta memerlukan perawatan. Akan tetapi oleh NICA telah dipersenjatai,” ungkapnya.

Sasaran lainnya yakni Tangsi Tentara NICA di Benteng Tatas dan pelabuhan Banjarmasin. Di mana sedang berlabuh dua buah kapal Cruiser kepunyaan sekutu (Australia).

Kelompok Bagian Pasar Baru berkekuatan 90 orang dengan persenjataan sepucuk Bren Gun dan sepucuk pistol selebihnya menggunakan senjata tajam, keris, pisau, mandau dan tombak.

Kelompok M. Amin Effendi terdiri dari para pemuda sekitar pasar lama bergabung dengan kelompok pemuda Jalan Belitung berkekuatan 60 orang.

Dengan persenjataan 4 pucuk Karabijn Jepang, granat tangan buatan Amerika 1 peti, beberapa buah Brand Bom (Bom Api) yang biasanya digunakan dari atas pesawat terbang.

Baca Juga: Sejarah Mayor Muller, Utusan Belanda yang Lenyap di Belantara Kalimantan

Baca Juga: Michael Rockfeller, Putra Miliarder AS Hilang di Belantara Hutan Papua, yang Ditemukan Hanya Potongan Kakinya

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin