apahabar.com
Ilustrasi aksi heroik pejuang mengusir penjajah. Foto-Istimewa.

apahabar.com, BANJARMASIN – Rencana aksi penyerangan Barisan Pemberontakan Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK) terhadap NICA di Banjarmasin berhasil terendus.

Mata-mata NICA telah menyusup ke dalam kelompok para pemuda yang merencanakan penyerangan.

“Persiapan yang belum matang dan belum ada pengalaman perang mengakibatkan NICA dengan mudah mencium rencana kegiatan tersebut,” ucap Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP ULM, Mansyur kepada apahabar.com, Jumat (8/10) pagi.

Akibatnya Belanda pun memperkuat pertahanan pada sektor-sektor yang menjadi tujuan penyerbuan tersebut.

Semua ini diketahui M. Amin Effendi sebagai Pimpinan Umum, karena itulah penyerbuan dibatalkan.

“Kecuali sektor yang dipimpin M. Amin Effendi dibantu oleh eks Heiho, di antaranya Sungkono, Suryadi, dan Paat,” katanya.

Pertempuran terjadi pada pukul 20.15 Wita dan berakhir pukul 23.00 Wita. Mereka pun berhasil merampas sepucuk Karabijn. Untungnya, tak ada korban jiwa dalam penyerangan tersebut.

“Karena NICA telah mengetahui tempat kedudukan BPRIK yang menjadikan Pasar Lama sebagai Markas Besar BPRIK dipindahkan ke Pengambangan atau Banua Anyar,” ungkapnya.

Meskipun serangan pada 1 November 1945 itu secara umum gagal karena tak sesuai rencana, tetapi dari segi membangkitkan semangat perjuangan dan kesatuan untuk mengusir penjajah menunjukkan hasil yang sukses.

“Sebab, peristiwa 1 November 1945 merupakan bukti terbentuknya semangat anti penjajah dan ingin memperoleh kemerdekaan seperti yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945,” tegasnya.

Kegagalan penyerbuan tanggal 1 November 1945 itu, kata dia, disebabkan tidak adanya koordinasi dan komando.

Selain itu, juga dikaitkan dengan kedatangan kapal bantuan dari Jawa yang diberitakan ternyata tidak muncul.

“Alasan lain karena malam itu turun hujan dengan lebatnya. Hal ini menyebabkan komunikasi dengan sektor pasukan lainnya terganggu,” pungkasnya.

Baca Juga: Aksi Heroik 9 November 1945 (1), Pemuda Keroyok Dua Tentara Belanda di Banjarmasin

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin