apahabar.com
Ilustrasi aksi heroik pejuang mengusir penjajah. Foto-istimewa.

apahabar.com, BANJARMASIN – Kegagalan penyerangan 1 November 1945 menyebabkan pemuda Banjarmasin menjadi lebih terangsang melakukan serangan susulan. Pastinya yang lebih besar, terkoordinasi, dan terencana.

“Bahkan, Belanda mengeluarkan suatu pernyataan bahwa apabila penyerangan para pemuda sampai terjadi, maka mereka akan membunuh para Perwira Australia yang sengaja membiarkan para prajuritnya membantu perjuangan rakyat,” ucap Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP ULM, Mansyur kepada apahabar.com, Jumat (8/10) pagi.

Para perwira itu, kata dia, dianggap Belanda telah memihak kepada gerakan Republik.

Aksi penyerangan rakyat itu dijadikan Belanda untuk melakukan penangkapan-penangkapan dan pembersihan terhadap semua rakyat yang dicurigai.

Pada 2 November 1945, setiap orang yang mengenakan pakaian hitam dan putih langsung ditangkap Belanda tanpa melalui proses verbal, karena dianggap sebagai pimpinan dari gerakan pemberontakan rakyat.

“Hal ini beralasan karena pimpinan pemberontakan yang menyerbu pada 1 November itu berpakaian hitam putih. Mereka yang tertangkap yakni Mahlan SB beserta kawan-kawan,” sebut Mansyur.

Pada 4 November 1945, Belanda menyerang asrama eks Heiho di Banjarmasin.

Serangan Belanda ini mendapat perlawanan meskipun hanya dengan beberapa pucuk senjata ringan saja.

Akibat serangan tersebut, Eks Heiho terpaksa meninggalkan kota dan bergabung ke Pengambangan, tempat Markas Besar BPRIK yang baru.

Di Pengambangan telah terkumpul para pemuda pejuang yang tergabung dalam badan perjuangan Sabilillah beranggotakan 99 orang. Mereka di bawah pimpinan Panglima Malil Tafair dan Wakilnya Utuh Buaya.

“Persenjataan mereka terdiri dari senjata tradisional seperti keris, parang, tombak dan sebagainya,” tegasnya.

Ada beberapa persiapan penyerangan pada 9 November 1945 yang telah diprogramkan.

Di antaranya mengadakan hubungan dan pembicaraan dengan polisi NICA berkebangsaan Indonesia yang dianggap menaruh simpati terhadap perjuangan kemerdekaan.

“Pembicaraan itu dilakukan pada 6 November 1945, Selasa malam. Mereka menyatakan bersedia membantu dan memihak pada perjuangan bangsa Indonesia,” tegasnya.

Kemudian, mengajak rakyat lainnya untuk mengadakan aksi yang kedua setelah kegagalan, 1 November 1945.

Ajakan itu di antaranya kepada orang Cintapuri, karena mereka masih mempunyai hubungan keluarga dengan A. Ruslan tokoh BPRIK dan calon Residen pengganti Pangeran Musa Ardikesuma yang memihak kepada Belanda.

“Disamping itu memang dalam sejarah perang Banjar, orang-orang Cintapuri termasuk pejuang yang membenci bangsa penjajah Belanda,” katanya.

Lalu, memberikan ilmu kekebalan terhadap peserta penyerangan, khususnya para pemuda Cintapuri.

“Setelah latihan lampahan kekebalan dianggap cukup, mereka diuji satu persatu dengan bacokan parang bungkul dan terbukti kebal,” tegasnya.

Mereka juga melakukan pembicaraan penetapan waktu penyerangan. Namun, ada dua pendapat berbeda dalam penetapan tersebut.

Di mana, kelompok Hadhariyah menghendaki agar penyerangan dilakukan pada malam hari.

Dengan alasan, musuh mempunyai persenjataan yang lebih unggul dari pejuang.

Apalagi, tentara Australia telah menyatakan bersedia memberikan senjata pada malam hari.

Dengan tempat yang sudah ditentukan yakni di suatu tempat (belakang bekas lokasi bangunan ULM, Jalan Lambung Mangkurat).

Sedangkan, kelompok Halid menghendaki penyerangan dilakukan pada siang hari agar dapat membedakan antara orang NICA dan tentara Australia.

“Karena para penyerang yakin betul terhadap kekebalan mereka, sehingga mereka tidak gentar menghadapi musuh pada siang hari,” katanya.

Lantaran kelompok Halid bersikeras pada pendiriannya, maka ditentukanlah penyerangan pada Jumat siang, 9 November 1945.

“Titik serangan adalah tangsi polisi terus ke Markas Kompi Betet dan terakhir kompi X,” ungkapnya.

Siasat Penyerangan

Sifat serangan dilakukan secara prontal. Dengan siasar penyerangan yang diatur sedemikian rupa.

Sayap kiri dipimpin Mas Untung Sabri dengan kekuatan 110 orang.

Sayap kanan dipimpin Panglima Halid Tafsiar dengan kekuatan 90 orang. Khususnya anak buah sendiri dari Cintapuri yang kebal peluru.

Pasukan tengah sebagai pasukan inti dipimpin Amin Effendi berkekuatan 300 orang.

“Demikianlah kesepakatan hasil rapat bertempat di Markas Besar BPRIK Pengambangan,” ungkapnya.

Tepat pada hari dan waktu yang telah ditentukan, serangan pun dilakukan.

Sayap tengah maju ke sasaran tanpa mendapat rintangan, tetapi pada pukul 16.00 tembakan pertama dari kantor polisi dikepung pasukan inti.

Namun, Belanda kemudian mengerahkan panser-pansernya sambil memuntahkan peluru yang dahsyat.

Karena pertahanan polisi sangat kuat, maka sayap tengah berusaha merembes ke markas Belanda Kompi Betet dan terus menyerang Markas Kompi X berada di Kelayan yang dipertahankan 150 orang.

Sayap kiri yang dipimpin Untung mula-mula ke pertahanan Belanda yang dipertahankan 250 orang dan selanjutnya menuju Markas kompi X.

Sayap kanan yang dipimpin Panglima Halid Tafsiar dengan mengambil jalan lain terus menuju Markas kompi X, sehingga ketiga pasukan ini bertemu di markas Kompi X.

“Pertempuran berlangsung sampai pukul 18.30 dan sebagian pasukan sudah mengundurkam diri,” bebernya.

Setelah pertempuran reda, korban pun berjatuhan, di antaranya M. Amin Effendi yang mendapat luka tembakan.

Pimpinan sayap kanan Halid Tafsiar tertangkap, di samping ada 9 orang yang gugur sebagai kesuma Bangsa.

Mereka yang telah gugur peristiwa adalah Badran, Badrun, Utuh, Umur, Tain, Jumain, Sepa, Dulah dan Pak Marupi.

“Untuk memperingati keheroikan mereka ini, kemudian dibangun tugu kecil di mana tercatum nama-nama mereka,” pungkasnya.

Baca Juga: Aksi Heroik 9 November 1945 (1), Pemuda Keroyok Dua Tentara Belanda di Banjarmasin

Baca Juga: Aksi Heroik 9 November 1945 (2), NICA Susupi Rencana Penyerangan Pemuda Banjarmasin

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin