apahabar.com
Awal Mula Persahabatan Datu Kelampayan dan Datu Sanggul yang Melegenda. Foto-Net

apahabar.com, BANJARMASIN – Datu Sanggul atau bernama Syekh Abdus Samad diketahui memiliki kedekatan khusus dengan Datu Kalampayan atau Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Keduanya dipertemukan dalam sebuah kejadian ganjil, namun diyakini kebenarannya oleh sebagian masyarakat Banjar.

Hidup di tahun 18 Masehi, keduanya dipertemukan ketika Datu Sanggul sering datang ke tanah suci, tepatnya di Masjidil Haram hanya untuk melaksanakan shalat Jumat. Sementara Datu Kalampayan saat itu menjalani kehidupan belajar-mengajar di Makkah, yang kemudian diketahui ditempuhnya selama 30 tahun.

Konon, Datuk Kelampayan melihat Datu Sanggul berada di Masjidil Haram dengan pakaian yang tidak umum bagi warga tanah suci. Beliau mengenakan baju palimbangan hitam, celana hitam, dengan laung di kepala. Datuk Kelampayan pun menduga, orang tersebut bukanlah orang Arab.

Datuk Kelampayan pun menemui Datu Sanggul dan mengajaknya ke kemdiamannya di Makkah. Di rumah, menanyakan nama dan asal usulnya. Datu Sanggul pun menyebutkan nama dan asal beliau (Kabupaten Tapin-Kalimantan Selatan) yang cukup membuat Datuk Kelampayan terkejut. Sebab, Banjar (Tatakan-Tapin) dengan Makkah sangat jauh jaraknya.

“Kalau betul engkau pulang pergi dari Tatakan ke sini, coba tolong hari Jumat yang akan datang bawakan aku oleh-oleh dari kampung. Aku sudah sangat lama tidak pulang. Mungkin sudah mencapai waktu 30 tahun. Selama ini aku selalu berada di Mekkah tak pernah ke mana-mana. Nah kira-kira musim buah apa di kampung kita? Bawakan ke mari untukku, terutama di Martapura sekarang ini musim apa kiranya,” ujar Datu Kalampayan(Wikipedia).

Datu Sanggul lalu berdiri di depan jendela. Tangannya dilambaikannya ke luar jendela. Ketika ia menarik kembali tangannya, ada sebiji durian dan kuini (jenis mangga). “Nah, ambil durian dan kuini ini. Ini datang dari Sungkai,” kata Datu Sanggul.

Buah itu diterima Datu Kalampayan, dan diperiksa masih ada getah dari tangkai kuini itu. Sama seperti baru dipetik dari samping rumah. Durian dan kuini tersebut masak pula. Segera Datu Kalampayan mengupas dan memakannya. Memang betul durian dan kuini. Di Makkah kedua buah tersebut tidak ada.

Sejak pertemuan itu, Datu Sanggul dan Datu Kalampayan semakin sering bertemu di setiap salat Jumat. Dan karena sering bertemu, maka terjalinlah persahabatan antara keduanya.

Dari persahabatan itu, kemudian tercetuslah satu kitab yang dikenal Kitab Barencong. Dalam satu versi disebut sebagai kitab yang dibagi dua secara diagonal. Satu bagian dipegang oleh Datu Kalampayan, dan sebagian lainnya dibawa oleh Datu Sanggul.

Menurut riwayat lain, Kitab Barencong adalah kitab kesimpulan, yang ditulis dari hasil diskusi dua ulama tersebut.

Setelah Datu Kelampayan pulang ke tanah Banjar, beliau berupaya menemui Datu Sanggul di kediamannya, di Tatakan Kabupaten Tapin. Sayangnya, saat Datu Kalampayan ke sana, Datu Sanggul diketahui baru saja meninggal.

Di tengah masyarakat Desa Tatakan tidak banyak yang tahu tentang kealiman seorang Datu Sanggul, bahkan sampai meninggalnya sang ulama, masyarakat enggan untuk memandikan jasadnya karena dianggap tidak pernah shalat Jumat.

Kealiman Datu Sanggul baru terkuak ketika Datu Kalampayan memberitahukan kepada masyarakat tentang kealiman Datu Sanggul. Wallahu’alam.

Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Datu Sanggul Pernah Menyalurkan Ilmu Melalui Sastra

Baca Juga: Kapal Datu Kelampayan Hampir Tenggelam, Ternyata Jin Ini Pelakunya

Reporter: Ahya Firmansyah
Editor: Muhammad Bulkini