apahabar.com
Dirjen PSP Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy, melakukan panen perdana menggunakan combine harvester di eks lahan HPS. Foto-Humpro Setda Batola

apahabar.com, MARABAHAN – Diawali panen perdana bersama Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy, Rabu (6/11), eks lahan Hari Pangan Sedunia (HPS) di Jejangkit ditarget bisa menghasilkan lebih banyak padi.

Padi yang dipanen tersebut merupakan garapan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan, sekaligus termasuk dalam program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi).

Menggarap lahan rawa memang tidak semudah lahan biasa. Namun kalau berhasil panen antara Oktober hingga Agustus, pertanian rawa potensial menekan defisit berat nasional yang biasanya terjadi antara September hingga November.

“Indonesia mempunyai raksasa tidur rawa lebak seluas 34 juta hektare. 10 juta hektare di antaranya bisa dijadikan sebagai lahan pertanian produktif dan berkembang menjadi 17 juta hektare,” papar Edhy.

Kemudian sepanjang 2019, Kementan membuat 500.000 hektare proyek percontohan di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Sulawei Selatan.

Kalimantan Selatan kebagian 250 ribu hektare yang terbagi di Banjar, Barito Kuala, Tapin, Tanah Laut, Hulu Sungai Utara dan Hulu Sungai Selatan. Batola mendapat porsi paling banyak dengan 100 hektare yang sebagian besar berlokasi di Jejangkit.

“Namun hasil validasi terakhir, Sumsel hanya mampu menyediakan lahan seluas sekitar 200 ribu hektare, Kalsel 120 ribu hektare dan Sulsel 333 ribu hektare,” jelas Edhy.

“Sekarang melalui program Serasi yang dilakukan Balitbantan di Jejangkit, diperoleh 4,0 hingga 7,0 ton per hektare dengan Indeks Pertanaman (IP) 1,50 hingga 2,25,” imbuhnya.

Sebelumnya produktivitas lahan rawa hanya sekitar 2,6 hingga 3,9 ton per hektare dengan IP 0,66.

Demi mempertahankan produksi tersebut, Balitbangtan telah melakukan Survei Investigasi dan Desain (SID), identifikasi dan karakteristik lahan, penyusunan rekomendasi pengelolaan air, lahan dan budidaya tanaman.

Juga terdapat beberapa kegiatan pendukung meliputi Demonstration Farm (Demfarm), proses tumpang tepat (super impose), bimbingan teknis dan pendampingan.

Demfarm terkait pemanfaatan lahan rawa antara lain pengembangan budidaya padi lahan rawa, serta integrasi budidaya hortikultura dengan itik dan ikan.

Sedangkan kegiatan superimpose meliputi pengelolaan lahan dan air berdasarkan karakteristik hidrologis, implementasi teknologi dan optimalisasi pemanfaatan pestisida nabati berbasis sumber daya lokal.

“Hasil yang diperoleh sudah bisa dilihat dan dirasakan. Semula hanya panen sekali, sekarang sudah bisa dua kali setahun. Bahkan terdapat petani yang panen tiga kali setahun,” cetus Edhy.

Namun demikian, program Serasi bukan tanpa kendala. Persoalan utama yang sudah mengemuka adalah tenaga kerja dan kelembagaan.

“Sedangkan penerapan teknologi sudah maju. Mulai dari penataan lahan, pengelolaan air, pengolahan tanah, pupuk hayati hingga drone penebar benih,” sahut Fadjry Djufry, Kepala Balitbang Kementan.

“Bahkan Balitbangtan sudah punya traktor rawa yang bekerja autonomous untuk mengolah lahan basah. Juga mesin panen yang terintegrasi dengan olah tanah,” tandasnya.

Untuk memutus mata rantai masalah, beberapa solusi sedang diupayakan Balitbangtan, “Di antaranya pengembangan usaha melalui kelompok usaha bersama dan melibatkan petani milenial,” tandas Fadjry.

Baca Juga: Pelanggaran Meningkat, Polisi Siapkan Operasi Lilin di HST

Baca Juga: Diverifikasi Kemenhub, Renovasi Syamsudin Noor Segera Selesai

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Syarif