apahabar.com
Bupati AGM membuka Festival Adat Belian Paser Nondoi Tahun 2019 di Rumah Adat Kuta Rekan Tatau, Km, Nipah-Nipah, Rabu siang. Foto-Istimewa

apahabar.com, PENAJAM, Festival Adat Belian Paser Nondoi Tahun 2019 Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) resmi dibuka oleh Bupati Abdul Gafur Mas’ud (AGM) di Rumah Adat Kuta Rekan Tatau, Km, Nipah-Nipah, Rabu, (06/11) siang.

Festival Adat Paser ini akan berlangsung hingga 14 November pekan depan.

Berbagai rangkaian kegiatan dalam Festival ini juga akan dilaksanakan sepekan ke depan. Seperti, kegiatan pameran, jalan santai, kuliner tradisional, berbagai lomba dan masih banyak kegiatan lainnya.

Selain AGM, tampak hadir Wakil Bupati PPU, Hamdam, Dandim 0913/PPU, Letkol Mahmud, Kapolres PPU AKBP Sabil Umar, Sekda PPU, Tohar, Ketua Adat Paser PPU, Mussa dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab PPU.

Sebelum membuka secara resmi festival tahunan ini, AGM juga diminta untuk mengikuti berbagai prosesi yang digelar. Di antaranya prosesi tepung tawar, pemukulan gendang (tepetep), pemasangan gelang belian dan sebagainya.

Dalam sambutannya, AGM mengatakan bahwa seni dan budaya adalah bagian penting dari hidup manusia.

Kata dia, inilah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya. Manusia punya akal budi dan perasaan. Akal budi dan perasaan perlu diekspresikan. Ekspresi akal budi dan perasaan itulah yang membentuk identitas mereka.

Masyarakat PPU, kata AGM, adalah masyarakat yang majemuk. Ada banyak bahasa dan berbagai bentuk kebudayaan, termasuk seni yang dapat dijumpai.
Keindahan seni dan budaya ini akan menjadi modal sangat besar bagi pembangunan dan perkembangan masyarakat di kabupaten PPU ini.

“Saya menyambut baik dan berterima kasih serta memberikan penghargaan yang tinggi kepada Dinas Pariwisata Kabupaten PPU beserta jajarannya yang telah bekerja sama dengan lembaga adat Paser dan segenap panitia penyelenggara festival adat Paser yang terus konsisten dan aktif dalam rangka mempromosikan eksistensi seni budaya Adat Paser dikalangan masyarakat PPU,“ kata AGM.

Lanjutnya, adat sebagai kebiasaan yang turun-temurun perlu ditata dan dikembangkan.

Sebab, adat berkaitan erat dengan kehidupan manusia. Sebagaimana manusia, adat juga selalu berubah. Dalam perubahan zaman yang sangat cepat seperti sekarang ini, harus hati-hati menjaga dan mengembangkan adat.

“Festival Nondoi adalah sarana bagi masyarakat luar untuk dapat mengapresiasi budaya Paser sehingga masyarakat luar daerah menjadi tahu, mengerti dan tertarik untuk mengetahuinya lebih dalam. Ketertarikan masyarakat akan membuat mereka datang ke PPU dan mengenal budaya kita,” tambahnya.

“ Pemerintah daerah melalui dinas terkait juga mendukung penuh terselenggaranya kegiatan ini, karena Festival Nondoi merupakan benteng ketahanan budaya sekaligus sarana untuk pelestarian budaya masyarakat yang ada di PPU, “ ujar adik Wakil Wali Kota Balikpapan itu.

Baca Juga: PPU Bersinar, 100 Keluarga Dapat Bantuan PHM

Baca Juga: CPNS, Ibu Kota Baru RI Tak Kebagian Jatah

Baca Juga: Pacu Investasi, Kaltim Bawa Rencana Pemindahan Ibu Kota ke Jepang

Baca Juga: Esok Lusa, Gubernur Umumkan UMP Kaltim 2020

Reporter: Ahc19
Editor: Fariz Fadhillah