apahabar.com
Ustadz Khairullah Zain menyampaikan ceramah di Gedung NU Cabang Alabio. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Bertemakan ‘Teladan Akhlak Rasulullah Sebagai Spirit Dalam Mewujudkan Revolusi Mental Umat Dan Bangsa’, Ustadz Khairullah Zain menyampaikan ceramah di Gedung NU Cabang Alabio, Sabtu (24/11).

Ia mengatakan, bahwa spirit utama revolusi mental Nabi Muhammad Saw adalah kasih sayang disertai dengan keikhlasan.

Menurut Wakil Ketua Tanfidziah PCNU Banjar ini, selain mendapat gelar Rahim atau sang pengasih penyayang yang ditegaskan Allah dalam Surah At-Taubah:28, Nabi Muhammad Saw adalah Rahmat atau kasih sayang itu sendiri sebagaimana ditegaskan Allah dalam Surah Al-Anbiya:107.

“Kalau ingin melakukan revolusi mental, maka yang pertama perlu kita revolusi adalah perasaan hati kita terhadap sesama makhluk. Kita harus membuang sifat kebencian dan menggantikannya dengan kasih sayang,” kata Dewan Pembina Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kalsel ini.

Ustadz Khairullah kemudian menyampaikan Hadits Musalsal Bil Awwaliyah atau hadits yang diriwayatkan secara bersambung dengan kondisi yang sama yaitu sebagai hadits pertama kali didengar dari gurunya, dan gurunya dari gurunya hingga kepada seorang sahabat Nabi yang berisi kabar dan perintah tentang kasih sayang.

“Orang-orang yang bersifat pengasih penyayang senantiasa dikasih sayangi oleh Allah yang Maha Pengasih Penyayang. Kasih sayang orang di bumi, niscaya kalian akan dikasihi yang di langit”.

Menurut Ustadz yang dikenal dengan sebutan Abu Zein Fardany ini obyek yang disuruh untuk dikasihi dan disayangi dalam hadits tersebut tidak terbatas pada umat Islam saja, tapi bersifat umum. Mencakup siapa saja.

“Rasulullah SAW memerintahkan kita menyayangi siapa saja. Bahkan beliau mencontohkan bagaimana menyayangi orang yang memusuhi beliau,” katanya.

Mengilustrasikan bagaimana contoh kasih sayang Nabi, Alumni Ma’had ‘Aly Darussalam ini menceritakan kisah latar belakang turunnya ayat 80 Surah At-Taubah.

“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu me­mohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik,” jelasnya.

Mungkin, pernah mendengar cerita kemunafikan Abdullah bin Ubay bin Salul. Bagaimana dia mengadu domba antara Muhajirin dan Ansor, menghembuskan isu Sayyidatina Aisyah, isteri Nabi Muhammad Saw, selingkuh dengan seorang sahabat Nabi bernama Safwan, dan banyak laku munafiknya yang lain, yang membuat anaknya Abdullah Bin Ubay sendiri minta izin kepada Nabi untuk membunuh ayahnya.

Namun, cerita Ustadz Khairullah, Nabi Muhammad melarang para sahabat untuk membunuh, karena biar bagaimanapun Abdullah Bin Ubay tidak memusuhi dengan mengangkat senjata, maka tidak perlu dilawan dengan senjata.

Bahkan, ketika Abdullah Bin Ubay wafat, Nabi Muhammad Saw memberikan burdah atau selimutnya sebagai kafan dan mendoakan keampunan untuknya. Do’a yang kemudian menjadi sebab turunnya ayat 80 Surah At-Taubah tersebut.

“Meski Allah menyatakan andai Nabi memintakan ampun sebanyak 70 kali terhadap orang-orang munafik tersebut, tetap tidak akan diampuni, namun Nabi Muhammad menjawab aku tetap meminta ampun, bahkan lebih dari 70 kali. Ini karena beliau sangat mengasihi dan menyayangi semua manusia,” tekannya.

“Bila terhadap orang yang memusuhi beliau saja begitu tindakannya, apalagi terhadap orang yang mengikuti ajarannya. Kalaupun dalam sejarah tercatat peperangan, itu terhadap orang-orang kafir yang memusuhi dengan mengangkat pedang atau memerangi. Bukan yang memusuhi sekedar dengan opini,” lanjutnya.

Mental kasih sayang inilah yang harus dijadikan spirit untuk mewujudkan keutuhan umat dan bangsa. Dan itulah yang dilakukan NU selama ini.

Namun, kata Ustadz yang cukup lama ikut belajar di Majlis Pengajian Abah Guru Sekumpul ini, tidak akan bisa meneladani dan menganggap akhlak Rasulullah Saw tersebut sebagai “Uswatun Hasanah” atau teladan yang baik kecuali orang yang ikhlas, hanya mengharapkan ridho Allah dan balasan di hari akhirat serta banyak berdzikir. Ini sebagaimana dinyatakan dalam ayat 21 Surah Al-Ahzab.

“Orang-orang yang punya kepentingan duniawi, seperti politik kekuasan, tidak akan menganggap ini sebagai teladan baik yang mesti diikuti,” tegasnya pada rilis yang diterima apahabar.com, Sabtu (24/11).

Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziah PCNU Alabio, H Kasrani mengungkapkani pentingnya ber-NU. Karena dengan ber-NU sudah pasti Aswaja dan mencintai. Semangat lagu syubbanul wathon yang di ciptakan oleh KH Wahab Hasbullah jadi pemicu semangat bagi semua dalam melawan paham-paham yang ingin memecah persatuan bangsa dan menetralisir gerakan-gerakan yang berbahaya seperti ajakan mendirikan khilafah tanpa nasionalisme.

Karena ulama pendahulu bangsa sudah sepakat dalam ijtihad dengan NKRI. Maka kewajiban bagi anak bangsa untuk menjaganya.

Basuki, undangan yang hadir dari Amuntai, bahagia saat mendengarkan cermah ustadz Khairullah Zain. Selain mampu menyesuaikan kultur budaya setempat beliau juga berani untuk terang-terangan membela NU.

Poin terpenting yang disampaikan adalah bagaimana cara Rasulullah SAW berdakwah dengan cara berkasih sayang, dimana saat ini banyak penceramah yang suka mengkafir kafirkan hanya karena beda pandangan dan sebagainya.

Ketua pelaksana peringatan Maulid, Suberian mengatakan, ustadz yang satu ini mampu berbicara dengan semua kalangan baik itu kepada yang tua ataupun yang muda.

“Sosok seperti beliau ini sangat cocok bagi kaum muda seperti kami, berdakwah dengan gaya santun namun tegas dengan cara penyampaian”, kata ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kalsel ini.

Baca Juga: Ceramah Maulid di Banjarmasin, Abu Zein Fardany Tekankan Mutabaah Batiniah

Baca Juga: Guru Fadhlan; Semua Nikmat Adalah Berkat Rasulullah

Editor: Syarif