Kecewa, Pengembang Pelaihari City Mall Ngadu ke Menkopolhukam Jalan Berlubang Km 88 Tapin Renggut Nyawa Pemuda HST Ortu Oke, Belajar Tatap Muka di SMP Banjarmasin Dimulai November Menhub Datang, Pengembangan Runaway Bandara Teweh Dibahas Kronologi Lengkap Petaka Lubang Maut di Tapin yang Tewaskan Pemuda HST

Kebakaran Hutan, Salah Siapa?

- Apahabar.com Kamis, 21 November 2019 - 10:54 WIB

Kebakaran Hutan, Salah Siapa?

Ilustrasi. Foto-Istimewa

Oleh: Arya Wicaksana

SEJUMLAH hutan di Indonesia terutama pulau Kalimantan dilanda kebakaran. Akibatnya, udara di beberapa daerah dicemari asap. Kebakaran hutan ini tidak hanya berdampak pada kualitas udara saja, melainkan kehidupan hewan di hutan.

Kebakaran hutan merupakan isu paling sensitif pada beberapa akhir belakangan ini terutama pada bulan September lalu, fenomena kebakaran hutan dan lahan gambut setiap tahun sering dianggap sesuatu yang biasa terjadi di Indonesia seperti di Riau, Jambi, Sumatera, dan Kalimantan.

Secara normatif, pemerintah sudah mempunyai aturan yang jelas tentang larangan membakar hutan dan lahan, yaitu Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang kehutanan, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang perkebunan, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, bahkan peraturan teknis yaitu peraturan Menteri Lingkungan Hidup tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.

Pasal 69 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Menyebutkan, “Setiap orang dilarang: (a) melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup; (h) melakukan- pembukaan lahan dengan cara membakar”.

Menjaga lingkungan hidup menjadi tanggung jawab kita bersama. Alam tempat kita berpijak dan tersimpan banyak sumber daya yang mesti kita rawat dan lestarikan. Ironinya, sebagian dari kita justru rakus terhadap alam. Mengambilnya sesuka hati tanpa memikirkan dampaknya dan hanya memikirkan keuntungan saja. Tak heran banyak krisis dan bencana yang terjadi dikarenakan oleh tangan usil oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut.

Lantas siapa yang harus dipersalahkan atas terjadinya bencana dan kerusakan ini? Tentunya kita tidak bisa asal menuduh dan mencari kambing hitam dari akibat yang terjadi. Yang kita lakukan adalah menjaga dan melestarikannya.

Tak hanya itu, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dikutip dari Detikcom, pada 16 september 2019, “Upaya pemadaman kebakaran dengan bom air (water bombing) untuk mengatasi karhutla di Sumatera dan Kalimantan belum maksimal.”

Api disebut tidak bisa dimatikan oleh bom air karena sumber api berada di kedalaman, termasuk di hutan gambut. Sumber api berada di bawah permukaan tanah sehingga, bila api di permukaannya padam, api di bawah tanah masih menyala.

Pemerintah saat ini masih terus berusaha memadamkan kebakaran hutan tersebut. Adapun tercatat titik panas yang berada di Kalimantan ini berada di 1.865 titik panas api.

Tak hanya itu akibat dari bencana ini, kualitas udara di sekitar Kalimantan pun memburuk. Memburuknya kualitas udara dapat mengakibatkan iritasi hingga gangguan pernapasan bagi masyarakat umum yang ada. Sejumlah hewan dan ekosistem yang adapun mati akibat kebakaran ini.

Maka dengan adanya peristiwa ini haruslah diambil pelajaran untuk ke depannya. Pemerintah harus melakukan sosialisasi bahwa bahayanya membuka lahan dengan cara dibakar. Lahan-lahan begitu banyak terbakar, haruslah ada dilakukannya reboisasi dengan melibatkan masyarakat dan mengedukasi masyarakat tentang cara mencegah dan menangani kebakaran.

Semoga bencana karhutla di berbagai daerah segera teratasi agar saudara kita bisa menghirup udara segar kembali sebagaimana yang kita rasakan tiap bangun pagi.

Baca Juga: Pertanian di Lahan Gambut Meminimalkan Karhutla di Palangka Raya

Baca Juga:  Karhutla Kalsel 2019, Terparah Dalam Empat Tahun Terakhir

Baca Juga: Batola Masih Siaga Karhutla, Mandastana Dikelilingi Api

Penulis adalah Mahasiswa Teknik Lingkungan 2019 Fakultas Teknik
Universitas Lambung Mangkurat.

======================================================================

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Bulan Bahasa Sebagai Momentum mencintai Bahasa Indonesia
apahabar.com

Opini

Catatan Kadarisman, Implementasi Blunder Kebijakan Publik
apahabar.com

Opini

Optimalisasi Work From Home Bagi ASN      
apahabar.com

Opini

Alumni Pesantren VS Ustadz Karbitan
apahabar.com

Opini

Iuran BPJS Naik, Rakyat Tercengang
Monumen Baru Perlawanan Ilham Bintang

Opini

Monumen Baru Perlawanan Ilham Bintang
apahabar.com

Opini

Sebuah Kritik untuk Buku Kritik
apahabar.com

Opini

Wafatnya Guru Zuhdi, Sayap Aswaja Terasa Timpang
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com