Tambah 103 Kasus, Semua Kelurahan di Banjarmasin Kini Zona Merah! Kalsel Jadi Atensi Presiden, Cuncung Minta GTPP Proaktif Eks Pacar Bidan Pembunuh Anak di Barito Utara Diperiksa Banjarmasin Buka Rumah Ibadah, Kemenag: Wajib Kantongi Suket Kalsel Diatensi Presiden, Warga Banjarbaru Sabar Dulu




Home Tokoh

Sabtu, 2 November 2019 - 06:30 WIB

Kisah Khalifah Umar bin Khattab Rela Lapar demi Rakyatnya

nazmudin - Apahabar.com

Ilustrasi khalifah Umar bin Khattab. Foto-Net

Ilustrasi khalifah Umar bin Khattab. Foto-Net

apahabar.com, JAKARTA – Saat ini cenderung sulit dan mahal mendapatkan pemimpin sejati yang tabah bertahan dan rela menderita bersama rakyatnya dalam masa sulit, jauh dari fasilitas yang diinginkan.

Prof Dr Ahmad Syalaby dalam buku Masyarakat Islam (1961) melukiskan persaudaraan dan kebersamaan yang terbina dalam kehidupan umat Islam di zaman khalifah al-rasyidin.

Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, umat Islam di sekitar Madinah ditimpa bencana kelaparan yang telah menyebabkan wabah penyakit dan kematian.

Kelaparan dan penderitaan rakyat itu dirasakan oleh Umar sebagai penderitaan bagi dirinya. Karena itu, beliau bersumpah tidak akan mengecap daging dan minyak samin. ”Bagaimana saya dapat mementingkan keadaan rakyat, kalau saya sendiri tiada merasakan apa yang mereka derita,” begitu kata Khalifah Umar yang amat berkesan pada waktu itu.

Baca juga :  Tuan Guru H Husin Qaderi Al Banjari (2), Mengkhatamkan Al Quran Setiap Malam

Kali lain, Umar bin Khathab pernah berkata, ”Kalau negara makmur, biar saya yang terakhir menikmatinya, tapi kalau negara dalam kesulitan biar saya yang pertama kali merasakannya.” Sampai seorang sahabat pernah berkata, bila Allah tak segera mengakhiri bencana itu, maka Ali adalah orang pertama yang mati kelaparan.

Teladan kepemimpinan Umar bin Khathab ditemukan kembali pada sosok Umar bin Abdul Aziz, di masa pemerintahan Bani Umayyah tahun 717-720 M. Istri Umar bin Abdul Aziz, ketika menjawab pertanyaan orang-orang yang datang bertakziah atas wafatnya pemimpin teladan ini, menceritakan, ”Demi Allah, perhatiannya kepada kepentingan rakyat lebih besar daripada perhatiannya kepada kepentingan dirinya sendiri. Dia telah serahkan raga dan jiwanya bagi kepentingan rakyat.”

Baca juga :  Mengenang Abah Guru Sekumpul (19), Teladan Bagi Orang yang Kaya

Rasulullah bersabda, ”Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban (di hadapan Allah) tentang kepemimpinannya.” Maka, betapa tak terpujinya para pemimpin yang hanya berorientasi melanggengkan kekuasaan dan melupakan penderitaan rakyatnya.

Baca Juga: Nasaruddin Umar: Harus Terbiasa Hidup di Tengah Perbedaan

Baca Juga: Mundur dari PNS, Ini Penjelasan UAS

Sumber: Republika
Editor: Syarif

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Tokoh

Mengenang Tuan Guru Nuzhan (2); Berada di Dua Tempat dalam Waktu Bersamaan
apahabar.com

Tokoh

Mengenang Abah Guru Sekumpul (6), “Kebaikan” yang Dinilai Tak tepat oleh Sang Ayah
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Muhammad Syarwani Abdan (2), Sayyid Amin Qutbi pun Memujinya
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru Mulkani Al Banjari(3), Membuka Majelis Mufti Ahmad
apahabar.com

Tokoh

Datu Amin, Jadi Mufti di Saat Berkecamuknya Perang
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Zainal Ilmi Al Banjari (1), Lahir di Desa “Gudang Ulama”
apahabar.com

Religi

Mengenang Abah Guru Sekumpul (17), Pejabat Kemenag RI Asal Kalsel Punya Cerita
apahabar.com

Tokoh

Habib Syech Assegaf Ceritakan Kenangan Bersama Abah Guru Sekumpul