Geger Pria di Kelumpang Kotabaru Tewas Diduga Disengat Ratusan Lebah Membeludak, Warga Barabai Terobos Kantor Disprindagkop Demi BLT UU Cipta Kerja, Ketum Hipmi Yakin Indonesia Lolos dari Midlle Income Trap Live Streaming Man City vs Porto, Link Siaran Langsung Liga Champions di SCTV-Vidio.com Malam Ini Jembatan Terpanjang Kedua Indonesia di Kaltim Sudah 90 Persen Beres

Korelasi Kuat Antara Ilmu Hadis dan Budaya Penelitian

- Apahabar.com Jumat, 22 November 2019 - 04:50 WIB

Korelasi Kuat Antara Ilmu Hadis dan Budaya Penelitian

Ilustrasi. Foto – nu.or.id

apahabar.com, JAKARTA – Ada keterkaitan kuat antara dispilin ilmu hadis dan budaya penelitian. Budaya meneliti boleh dikatakan lahir dari era pengumpulan hadis dan pengklasifikasiannya.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat, dalam beberapa kesempatan pernah menyampaikan bahwa ilmu hadis adalah budaya penelitian yang dilakukan secara masif pertama kali di dunia.

Bayangkan, di masa sepeninggal Nabi apabila tak ada suatu sistem yang memfilter perkataan sesesorang yang dinisbatkan pada Nabi, maka akan terjadi kekacauan di berbagai aspek. Namun melalui musthalahul-hadis, jika ada seseorang yang mengklaim hadis, akan sangat mudah ditelusuri keabsahannya.

Salah satu ahli hadis yang paling banyak mentakhrij hadis, Imam Bukhari, telah belajar kepada lebih dari 3.000 ahli hadis di berbagai negara Muslim. Sosok yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Bukhari ini dikenal memiliki metode yang sangat selektif dan ketat dalam menilai otensitas suatu hadis.

Di era digital seperti sekarang ini, informasi memang terbuka luas. Akses informasi bisa digunakan untuk kebaikan namun ada juga segelintir orang yang menyelewengkannya. Sebagai contoh, hadis di masa kini kerap disalahgunakan oleh kaum ekstremis yang memelintir hadis untuk kepentingan radikal.

Hadis-hadis seperti keutamaan pemimpin dari kalangan Quraisy, keutamaan jihad, hingga hadis 72 bidadari hingga hari ini dijadikan propaganda kaum ekstermis ISIS. Namun setelah sejumlah pakar hadis menelusuri keabsahan hadis yang digunakan kalangan ekstremis, hadis-hadis tersebut rancu dan dicurigai palsu.

Dari kehati-hatian dan penelusuran inilah, budaya teliti harus terus dikembangkan apapun eranya. Di masa para sahabat, budaya literasi dan penelitian ini dikembangkan untuk menjaga ontesitas hadis. Hal serupa ternayata masih relevan di hari ini.

Belum lagi relevansi mengenai budaya meneliti dan sikap kritis di hari ini saat menerima informasi. Umat Muslim yang kerap dibekali budaya meneliti dan kritis jangan mau menelan informasi yang bersumber dari sumber tak terpercaya. Hoaks yang merajalalela saat ini mampu ditangkal asalkan umat Muslim secara berjamaah kembali membumikan sikap teliti dan kritis terhadap hal-hal yang tengah berkembang.

Baca Juga: Haul Guru Sekumpul ke 15 Akan Digelar Layaknya di Makkah

Baca Juga: Ceramah Maulid di KNPI, Ustadz Khairullah Zain Ungkap ‘Tempaan’ Kepemimpinan Para Nabi

Sumber: Khazanah Republika.co.id

Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Mesjid Kanas Alalak (1), Dibangun oleh Buyut Datuk Kelampayan
apahabar.com

Habar

Majelis di Kalsel Kembali Aktif Pasca Lebaran, Berikut Jadwalnya
apahabar.com

Habar

Musala yang Selamat dari Amuk Api di Pulau Sebuku Kotabaru Kini Berwajah Cantik
apahabar.com

Habar

Tanggapi Ucapan Selamat Natal, Muhammadiyah: Kembalikan ke Pilihan Setiap Muslim
apahabar.com

Habar

Total Layani Umrah, Arab Saudi Siapkan 4 Ribu Pekerja, 100 Ribu Masker, dan 9 Ribu Sajadah
apahabar.com

Habar

Sosok Amir Husin yang Makamnya di Lampihong Ramai Diziarahi
apahabar.com

Habar

Cerita Yulida dari London; Beratnya Puasa di Negeri Orang, Kangen Suasana Ramadan di Banua
apahabar.com

Habar

Pengajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi, Cara Masuk Surga Lebih Cepat dari Bidadari
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com