Peluncuran Vaksin AS Picu Kenaikan Harga Minyak Cuaca Kalsel Hari Ini, Hujan Berpetir Masih Mengancam PPKM Mikro Saat Ramadan, ASN di Banjarmasin Diminta Lebih Proaktif Tekan Inflasi, Kalsel Atensi Sistem Supply Chain Bahan Pokok Milan Lockdown, Eh Ibrahimovic Tepergok di Restoran

Mencintai dan Teladani Rasul SAW Jadi Tantangan Berat di Era Digital

- Apahabar.com Sabtu, 9 November 2019 - 08:16 WIB

Mencintai dan Teladani Rasul SAW Jadi Tantangan Berat di Era Digital

Kawasan Raudhah dan koridor di depan Makam Rasulullah SAW kian padat menyusul makin banyaknya jamaah haji yang tiba di Madinah. Para jamaah berebut mengunjungi tempat yang disebut penuh berkah tersebut. Foto-Republika

apahabar.com, JAKARTA – Sosok Rasulullah SAW pribadi yang memiliki akhlaqul karimah yang luar biasa. Tentunya hal ini harus diteladani umat Muslim di era digital.

“Terutama akhlak sebagai pemimpin. Akhlak ini bersifat universal dan tetap relevan hingga sekarang,” ujar Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Didin Hafidudin.

Dia menambahkan, Rasulullah juga mempunyai sifat shiddiq (benar dan jujur), amanah (terpercaya) fathanah (cerdas) dan tabligh (menyampaikan).

Oleh sebab itu, bukan hanya generasi muda saja yang harus meneladani sifatnya, melainkan juga para pemimpin saat ini.

Dijelaskannya, untuk mendukung hal tersebut, masyarakat harus dikuatkan, selain dari lembaga pendidikan yang harus diarahkan untuk pembentukan akhlak.

Dengan pendidikan dan akhlak yang semakin kuat, hukum juga harus ditegaskan oleh pihak terkait.

“Jika itu dilakukan, keteladanan Rasulullah akan lebih optimal untuk direalisasikan,” kata guru besar agama Islam IPB itu.

Sabtu (9/11) atau 12 Rabiul Awal pada penanggalan Hijriyah, bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selama 15 abad, momentum 12 Rabiul Awal telah diperingati sebagian besar kalangan Sunni di seluruh dunia.

Tidak terkecuali di Indonesia sendiri. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Helmy Faishal, mengatakan dalam konteks tersebut umat Islam harus meneladani sifat-sifat Rasulullah. Khususnya dalam beberapa hal penting, utamanya di zaman modern ini.

“Antara lain dalam memandang perbedaan. Nabi Muhammad selalu memberi ruang kepada siapapun untuk berbeda pandangan,” kata dia Jumat.

Beberapa pandangan memang harus dijadikan Khazanah untuk memperkaya perspektif. Sebab, Nabi Muhammad juga tidak pernah memaksakan pandangan kepada siapapun.

“Termasuk dalam berdakwah,” Ujar dia.

Keteladanan lain yang bisa diambil adalah sikap untuk beragama secara inklusif dan terbuka.

Lebih lanjut, sambung dia, Nabi Muhammad bahkan mengajarkan bagaimana mendakwahkan Islam dengan cara-cara yang makruf, santun, dan tanpa kekerasan serta caci maki.

“Maraknya caci maki di media sosial sebagai bagian kecil dari perkembangan dunia digital, adalah bukti bahwa masih ada problem serius yang harus kita hadapi,” tuturnya.

Dia menegaskan, kata kunci lain adalah soal keteladanan yang harus dilakukan di era digital ini. Dia menambahkan, dunia digital saat ini seakan memaksa manusia bermigrasi dan mengubah pola pikir belajar manusia.

“Bagaimanapun juga di era digital seperti sekarang ini, harus kita akui, kita mengalami kemarau keteladanan,” ungkap dia.

Helmy menuturkan, sifat manusia yang dulunya belajar kepada guru, sekarang hanya mengandalkan apa yang disebut internet. Padahal menurut dia, kondisi tersebut merupakan tantangan bagi semua pihak.

“Terutama untuk menjawab bagaimana mewariskan nilai-nilai baik yang harus kita teladankan pada generasi setelah kita,” terangnya.

Lebih lanjut, hal tersebut juga diaminkan Ketua PP Muhammadiyah bidang Tarjih, Tajdid dan Tabligh, Yunahar Ilyas. Menurut dia, di era digital seperti saat ini, hal yang harus diteladani dari Rasulullah, adalah harus mampu bertanggung jawab dalam penyebaran konten apapun.

“Harus selalu ada tabayun. Sebelum konten itu di sharing harus disaring dulu. Karena dari kata-kata batil, atau sesuatu yang maksiat disebarkan di era digital ini, tidak bisa dihentikan,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Waketum MUI itu.

Menurut dia, hal tersebut harus dilakukan, karena hak tersebut akan terus berputar. Jika isi dari konten tersebut negatif, dosa yang dibawa juga akan mengalir pada orang yang bersangkutan.

Oleh sebab itu, guru besar agama Islam UMY itu, menekankan untuk mengirim hal positif di internet, baik itu sekadar informasi, pelajaran ataupun hal bermanfaat lainnya, harus selalu belajar dan mempelajari sirah Rasulullah SAW.

Baca Juga: Tablig Akbar Dan Maulid Nabi di RTH Ratu Zalecha Dihadiri Ratusan Umat

Baca Juga: Abdi Rahman Mengharap Berkah Maulid Nabi

Sumber: Republika
Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Ternyata, Islam Temukan Kacamata Ratusan Tahun Sebelum Barat
apahabar.com

Habar

Pinta Tunda Tatap Muka di Pesantren, KPAI: Pemerintah Jangan Terburu-buru
apahabar.com

Habar

Fatwa Salat Idul Fitri Digodok, MUI: Hari Ini Diputuskan
Gerai makanan halal di Singapura-Foto-Republika

Habar

Tren Makanan Halal Makin Meningkat di Singapura
apahabar.com

Habar

Cek Fakta, Majelis Asuhan Guru Syaifuddin Zuhri Dikabarkan Kembali Aktif
apahabar.com

Religi

Tajamnya Firasat Guru Husin Ali, Penerbangan Pesawat Ditunda
apahabar.com

Hikmah

Mengetuk Pintu Baitullah dari Rumah, Cerita Haji Mabrur Tukang Sol Sepatu
apahabar.com

Habar

Puluhan Ribu Jemaah Hadiri Haul Abah Anang ke-8
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com