apahabar.com
Muslim dari etnis Hui di China merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan makan-makan bersama di ruang pertemuan Masjid Nandouya, Beijing, Sabtu (09/11) pagi. Sebelumnya mereka membaca Alquran di masjid yang kini sudah berusia 200 tahun lebih itu. Foto – Antara/M. Irfan Ilmie

apahabar.com, BEIJING – Ratusan Muslim, baik pria maupun wanita, dari etnis Hui di China merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nandouya, Beijing, Sabtu (09/11).

Mereka mengisi peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW tersebut dengan membaca Alquran dan berdoa bersama di dalam masjid yang kini telah berusia 200 tahun lebih itu.

Setelah itu, mereka makan-makan bersama di ruang serba guna yang masih berada dalam kompleks masjid di kawasan Chaoyangmen tersebut.

Santapan yang tersedia berupa sup daging sapi, sup ayam, nugget, bakso daging sapi goreng, roti goreng, dan nasi putih di setiap meja bundar yang dikelilingi delapan hingga sepuluh kursi tersebut.

Ada sekitar sepuluh meja yang disediakan pihak takmir di ruangan tersebut sejak pukul 09.00 waktu setempat (08.00 WIB).

Juru masak pun dari kalangan takmir masjid yang memiliki dapur lengkap dengan peralatan masak.

“Mari makan bersama kami,” kata Zhao Yong Qiang, imam Masjid Nandouya, mempersilakan Antara untuk santap menu Maulid bersama sejumlah anggota takmir.

Menurut dia, peringatan Maulid Nabi tersebut rutin digelar setiap tahun di masjid yang berlokasi sekitar 1,5 kilometer dari kantor Kementerian Luar Negeri China itu.

“Suasananya selalu ramai seperti ini,” ujar imam berusia 50 tahun itu yang pernah berkunjung ke Masjid Chengho Surabaya, Makam Sunan Ampel Surabaya, dan Masjid Istiqlal Jakarta itu.

Dikutip dari Baltyra.com, Suku Hui (回族; Pinyin: Hui Zu, baca: hwe cu), adalah salah satu etnis minoritas yang cukup besar jumlahnya dan merupakan salah satu yang dianggap penting oleh pemerintah China. Dengan jumlah total sekitar 10 juta, tepatnya 9.816.802 Suku Hui tersebar hampir di seluruh penjuru China.

Suku Hui dapat dikenali dari penampilan dan penampakan mereka yang khas Muslim, lelakinya berkopiah putih serta sebagian berjenggot dan wanitanya kebanyakan berjilbab. Di kota-kota besar dapat dilihat kebanyakan dari mereka berjualan makanan atau membuka usaha warung dan restoran.

Nama Suku Hui berasal dari kependekan Hui-Hui, istilah yang pertama kali tercatat di era Nothern Song Dynasty (960-1127) yang me-refer sekelompok orang Uyghur. Orang Uyghur ini banyak terkonsentrasi di daerah Anxi yang sekarang disebut Xinjiang. Sekarang kebanyakan mereka tinggal di daerah Northwestern China (Ningxia, Gansu, Qinghai, Xinjiang), yang sekarang disebut dengan Ningxia Hui Autonomous Region dan Xinjiang Uyghur Autonomous Region.

Asal-usul Suku Hui bisa ditarik dari abad 13 ketika pasukan Mongol menguasai hampir seluruh Asia dan Eropa. Penguasa ketika itu menghimbau orang-orang di Middle Asia, Persia dan Teluk Arab untuk pindah dan settle di Daratan China.

Banyak kelompok yang karena himbauan tsb dan secara sukarela yang berimigrasi dan menetap serta beranak-pinak di Daratan China. Adat kebiasaan dan agama mereka turun temurun juga dibawa dan dipertahankan, yaitu agama Islam.

Namun, sejarah Islam di China sendiri sudah mulai sejak abad 7. Pedagang asli Arab dan Persia datang ke China karena perdagangan melalui Silk Road (Jalur Sutera). Di masa itu mereka berdatangan di daerah Guangzhou, Quanzhou, Hangzhou, Yangzhou dan Chang An (sekarang disebut Xi An), berdagang, kerasan dan kemudian menetap. Mereka membangun masjid, pemakaman dan pemukiman di daerah-daerah itu. Mereka menikah, beranak-pinak, berketurunan di tanah asing yang jauh dari tempat asal mereka.

Baca Juga: Mencintai dan Teladani Rasul SAW Jadi Tantangan Berat di Era Digital

Baca Juga: Tablig Akbar Dan Maulid Nabi Muhammad di RTH Ratu Zalecha Dihadiri Ratusan Umat

Sumber: Antara/Baltyra.com
Editor: Aprianoor