Update Covid-19 Tanbu: Sembuh 1 Orang, Positif Nihil 6 Preman Kampung Pemeras Warga di Jalan Nasional Kalsel-Kaltim Disikat Polisi Pasangannya Meninggal, Rahmad Masud: Saya Masih Nggak Nyangka, Ini Seperti Mimpi Wawali Terpilih Meninggal, Begini Penjelasan RSP Balikpapan Respons Pemprov, Gubernur Sahbirin Mau Digugat karena Banjir Kalsel

Salam Pembuka Semua Agama Bukan Wujud Toleransi, Berikut Alasan MUI Jatim  

- Apahabar.com Minggu, 10 November 2019 - 14:03 WIB

Salam Pembuka Semua Agama Bukan Wujud Toleransi, Berikut Alasan MUI Jatim   

Ilustrasi kerukunan umat beragama. Foto-Net

apahabar.com, SURABAYA – Sudah menjadi kebiasaan dalam sambutan resmi ada salam pembuka semua agama. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim menyebut itu bukan lah wujud toleransi.

Dikemukakan Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori, pluralisme memang dianjurkan. Namun, pluralisme agama merupakan hal yang keliru. Menurut Kiai Somad, sapaan akrabnya, beribadah dalam suatu agama tidak boleh dicampuradukkan. Alasannya masing-masing agama memiliki sistem ibadah tersendiri.

“Kalau menggunakan salam campuran, itu mencampuradukkan agama, jadi pluralisme agama itu tidak boleh. Saya terangkan dalam tausyiah agama, itu tidak boleh. Karena agama itu eksklusif, karena keyakinan itu adalah sistem. Agama itu sistem keyakinan dan agama punya sistem ibadah sendiri-sendiri,” papar Kiai Somad.

“Kaitannya dengan toleransi, kita setuju dalam perbedaan, saling menghormati, menghargai. Bukan berarti kalau orang salam nyebut semua, itu wujud kerukunan. Itu perusak kepada ajaran agama tertentu,” imbuhnya.

Imbauan ini, lanjut Kiai Somad justru merupakan wujud toleransi dan kerukunan antaragama.

“Saya sarankan pejabat yang Muslim menggunakan salam secara Islam. Begitu juga agama lain. Itu justru kerukunan. Tidak mencampurkan kehendak agama tertentu untuk dicampuradukkan. Ibadah ndak bisa dicampur aduk, jangan salah kaprah mengadakan doa bersama, semua doa diamini oleh semua agama, itu rusak nanti keyakinan agama,” lanjutnya.

Selain itu, Kiai Somad juga mencontohkan wujud pluralisme dan kerukunan bisa dilakukan dengan hal lain. Bukan menggunakan salam dengan berbagai agama.

“Orang harus berpikir yang jernih jangan sampai sok berbicara kerukunan, sok bicara toleransi, nanti ndak karu-karuan agama ini. Kerukunan itu misalnya kalau ada kebanjiran atau gempa, kita harus tolong menolong, ndak usah tanya agama. Kalau ada kecelakaan kita tolong, ndak usah tanya agama. Jadi kami ini perlu meluruskan yang begini ini,” pungkas Kiai Somad.

Sebelumnya, imbauan ini terlampir dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang diteken Ketua MUI Jatim KH. Abdusshomad Buchori pada Jumat (8/11).

Dalam surat ini, ada delapan pokok pikiran yang tertuang dalam imbauan tersebut. Imbauan tersebut meminta para umat Muslim membaca salam sesuai dengan agamanya, dan tidak mencampuradukkan untuk menghindari perbuatan syubhat.

Sumber: Detik.com
Editor: Syarif

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Kabut Asap Menebal di Banjarmasin, Liburan Sekolah Tiba?
apahabar.com

Nasional

Kemenkes Ungkap 13,3 Persen Hipertensi Menjadi Penyebab Kematian Pasien Covid-19
apahabar.com

Nasional

Akhirnya, Siti Aisyah kembali ke Indonesia
apahabar.com

Nasional

Ada 335 Pasien Dirawat di RS Darurat Wisma Atlet
apahabar.com

Nasional

Waspada Bencana Musim Pancaroba
apahabar.com

Nasional

Pabrik Minyak Saudi Diserang, Dunia Hadapi Krisis Pasokan
apahabar.com

Nasional

Kemenag Sebut Dialog Lintas Iman Mencerahkan Indonesia
Rizieq Shihab

Nasional

Kasus RS UMMI Bogor, Bareskrim Minta Keterangan Tambahan dari 3 Ahli
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com