Paman Birin Doktor Kehormatan, Mahasiswa Bergerak ‘Kuningkan’ ULM Bali-Singapura Buka Penerbangan, Kadinkes Banjarmasin Waswas Kata Para Pelaku Usaha di Banjarbaru Soal Wajib PCR Penumpang Pesawat Diadili, Pemenggal Kepala Ibu Muda di Belda Banjarmasin Polemik Gelar Doktor Kehormatan untuk Paman Birin, Alumnus Tantang Uji Publik!

Dinsos Teweh Cuma Bisa Pulangkan 5 PSK Merong, Ada Apa?

- Apahabar.com     Rabu, 4 Desember 2019 - 12:47 WITA

Dinsos Teweh Cuma Bisa Pulangkan 5 PSK Merong, Ada Apa?

Sejumlah PSK berkumpul di Merong, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Foto-Istimewa

apahabar.com, MUARA TEWEH – Akankah lokalisasi Merong benar-benar akan tutup?

Pertanyaan besar itu tentu hinggap di benak masyarakat.

Terutama, setelah melihat kenyataan saat Deklarasi Penutupan Lembah Duren atau Merong, Rabu (04/12).

Dari sana, hanya lima pekerja seks komersial (PSK) yang dipulangkan.

Padahal masih ada sekitar 70-an PSK di sana.

Ada persyaratan atau ketentuan pemulangan.

Apabila PSK-PSK itu kembali lagi ke Muara Teweh akan dikenakan pidana.

Mereka sudah menandatangani perjanjian di atas materai untuk bersedia pulang ke daerah masing-masing. Plus, biaya pemulangan dan uang pembinaan.

Namun, dari informasi terhimpun, banyak dari mereka memilih bertahan dan menyewa sejumlah barak.

Plt Kadis Sosial dan PMD Barito Utara Eveready Noor menyayangkan hal tersebut.

Lima PSK yang mau dipulangkan berasal dari Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

“Deklarasi [Penutupan lokalisasi] butuh dukungan untuk mengangkat martabat wanita dan perdagangan manusia,” jelas Eveready dalam paparanya di depan wakil bupati, wakil ketua DPRD, serta beberapa tokoh masyarakat, agama, tokoh adat serta tokoh pemuda, Rabu (04/12).

Sementara, Wabup Barito Utara Sugianto Panala Putra mengatakan penutupan lokalisasi adalah tindak lanjut dari instruksi pemerintah pusat.

Presiden Jokowi, kata dia, meminta Indonesia pada 2019 ini harus bebas dari bisnis prostitusi.

“Ini juga didukung oleh Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati,” jelas Sugianto.

Banyak alasan mengapa pihaknya ngotot untuk menutup lokalisasi.

Antara lain, ancaman penyakit seksual, HIV /AIDS, minuman keras dan narkoba, dan potensi kekerasan yang berujung kriminalitas.

“Kami mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk melakukan pengawasan di sekitarnya, antisipasi perpindahan ke barak-barak,” jelas Sugianto.

Agar pembaca ingat, batas waktu terakhir penutupan lokalisasi Merong di Kabupaten Barito Utara (Barut), Kalimantan Tengah (Kalteng) itu adalah akhir November lalu.

Mereka yang dipulangkan ke daerah asal dibekali jatah hidup masing-masing Rp5,5 juta.

Baca Juga: Penutupan Lokalisasi Merong Ditunda, PSK Siap Dipulangkan

Baca Juga: Siang Bolong, Tiga PSK Digaruk Satpol PP Banjarbaru

Reporter: Ahc17
Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalteng

Nyaris Ambruk, Jembatan Juun Akhirnya Diperbaiki
apahabar.com

Kalteng

Petugas Damkar Selat Hulu Kapuas Wajib Gesit
apahabar.com

Kalteng

Bantu Masyarakat Terdampak Corona, PKB Kalteng Bergerak dalam Senyap
apahabar.com

Kalteng

Resmi, Tim Ben-Ujang Laporkan Petahana Sugianto Sabran ke Bawaslu Kalteng
apahabar.com

Kalteng

Penyebaran Pangkalan Elpiji di Kalteng Tak Merata

Kalteng

Rektor Universitas Palangka Raya Keluarkan Surat Edaran Lockdown Terbatas
Alumni Al Azhar

Kalteng

Penjual Anak Mengaku Alumni Al Azhar Kairo, Kapolres Kapuas: Tidak Benar!
apahabar.com

Kalteng

Terpapar Covid-19, Kemenag Tutup Satu Ponpes di Palangka Raya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com