Pembunuhan Wakar di Kelayan B Sudah Direncanakan, Pelaku Khilaf karena Luka Lama Debat Ke-2 Pilbup Tanbu: “Wakil Komitmen” HM Rusli Bikin Bingung Alpiya, Mila Karmila Speechless PN Martapura Putuskan Camat Aluh-Aluh Melanggar Netralitas ASN Kembali, Duta Zona Selatan Batola Memenangi Atak Diang Kawal Pilkada Serentak, Polda Kalsel Komitmen Tegakkan Netralitas

DKP3A: 1.131 Anak di Kaltim Menikah Dini

- Apahabar.com Kamis, 26 Desember 2019 - 10:03 WIB

DKP3A: 1.131 Anak di Kaltim Menikah Dini

Ilustrasi pernikahan dini. Foto-zonasultra.com

apahabar.com, SAMARINDA – Sebanyak 1.131 anak di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berdasarkan data yang dirilis pihak berwenang menikah di bawah umur sehingga pihak terkait harus terus melakukan pembinaan dari berbagai sisi mengingat dampak negatifnya pernikahan dini sangat banyak.

“Khusus di Samarinda, berdasarkan data BPS bahwa 1 dari 4 anak perempuan telah menikah pada usia di bawah 18 tahun,” ujar Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Provinsi Kaltim Halda Arsyad di Samarinda, Kamis (26/12).

Sedangkan 1.131 anak Kaltim yang telah menikah di bawah umur itu adalah di tahun 2017 terjadi 542 pernikahan dengan rincian 470 perempuan dan 72 laki-laki. Kemudian tahun 2018 tercatat 589 perkawinan anak, terdiri dari 491 perempuan dan 98 laki-laki.

Perkawinan anak , jelasnya dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain karena faktor kemiskinan, pendidikan yang terbatas, budaya yang mengikat, dan perubahan tata nilai dalam masyarakat.

Terdapat lima alasan mengapa perkawinan anak dilarang, ia menyebutkan, pertama karena perkawinan anak menjadi penyebab tingginya angka perceraian, kedua adalah akan berdampak buruk terhadap kualitas SDM Indonesia.

Dampak ketiga adalah akan munculnya kekerasan dalam rumah tangga, keempat bisa menyebabkan tingginya angka kematian ibu, kelima adalah dapat menghambat agenda pemerintah seperti program KB dan tercapainya generasi berencana (Genre).

Untuk menekan jumlah pernikahan dini, pihaknya terus melakukan berbagai langkah, di antaranya beberapa hari lalu menggelar sosialisasi bertema Edu-Aksi untuk Siswa, bertajuk Pencegahan Perkawinan Anak. Giat ini diikuti sekitar 100 siswa SMA dan SMP.

Menurutnya, ketika ingin melakukan pernikahan, banyak hal yang perlu dipertimbangkan karena dalam membangun rumah tangga bersifat jangka panjang bahkan seumur hidup, maka perkawinan harus dilakukan dengan kesiapan mental dan fisik.

“Menurut revisi UU Nomor 1 Tahun 1974, perkawinan dianggap sah bila perempuan dan laki-laki telah berumur 19 tahun. Pemerintah dalam mengatur batas usia seseorang untuk menikah didasari oleh pertimbangan tertentu, misalnya kesehatan reproduksi maupun kesiapan mentalnya,” ucap Halda.

Baca Juga: KUA Menolak, Nikah Dini Masih Marak

Baca Juga: Pernikahan Dini, Pemicu Utama Anak Putus Sekolah di HSU dan Batola

Sumber: Antara
Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kaltim

Pemerintah Targetkan 126 Juta Hektar Lahan di Kaltim Dilindungi
apahabar.com

Kaltim

Jamin Keandalan Listrik, PLN Siagakan Ribuan Petugas di Kaltimra
apahabar.com

Kaltim

Kaltim Aktif Rangkul Eks Penyalahguna Narkoba
apahabar.com

Kaltim

Hari Air 2019, Warga Kaltim Deklarasi Sungai Bebas Sampah
apahabar.com

Kaltim

Maloy Batuta Trans Kalimantan Ditarget Akhir Januari
apahabar.com

Kaltim

Jalan Tol Pertama di Kalimantan, Ditarget Siap Dukung Mudik Lebaran 2019
apahabar.com

Kaltim

Identitas Korban Kebakaran Penajam Banyak Hilang, Pemkab Turun Tangan
apahabar.com

Kaltim

Imbauan Pemprov Kaltim soal Akun Palsu Gubernur Isran
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com