Gugatan 2BHD Diterima MK, SJA-Arul Pede Menangi Pilbup Kotabaru Alhamdulillah, 21 Warga Tanbu Sembuh dari Covid-19 Gunakan Pakaian Adat, Mitra Pariwisata Kapuas Galang Dana untuk Banjir Kalsel Terparah dalam Sejarah, Jokowi Blakblakan Biang Kerok Banjir Kalsel Wali Kota Beber Biang Kerok Banjir Banjarmasin, Bukan karena Hujan

Efek Perang Dagang AS-Tiongkok, BI: 2020, Diprediksi Pertumbuhan Ekonomi Belum Pulih

- Apahabar.com Rabu, 11 Desember 2019 - 12:08 WIB

Efek Perang Dagang AS-Tiongkok, BI: 2020, Diprediksi Pertumbuhan Ekonomi Belum Pulih

Pertemuan tahunan Bank Indonesia Kalimantan Selatan, Rabu (11/12). Foto-apahabar.com/Rizal Khalqi

apahabar.com, BANJARMASIN – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan (Kalsel), Herawanto, mengatakan dampak perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok tidak hanya berdampak pada dua negara itu, namun juga berdampak buruk bagi ekonomi global.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dunia menurun drastis pada 2019 dan kemungkinan belum akan pulih di 2020 akan datang.

Bahkan, lanjutnya, kebijakan moneter belum tentu selalu efektif kalau hanya bekerja sendiri. Serta penurunan suku bunga dan injeksi likuiditas di banyak negara belum mampu menyelamatkan ekonomi dunia tidak terkecuali di Indonesia dan Kalimantan Selatan

“Peringatan Bapak Presiden dalam Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali, Oktober tahun lalu, dengan merujuk kepada film Game of Throne menjadi kenyataan. Musim dingin telah tiba. Kita harus mampu menghadapinya,” Kata Herawanto saat pertemuam tahunan di Kantor Bank Indonesia Kalsel, Rabu (11/12).

Akibatnya sepanjang 2019 ekonomi Kalsel tumbuh sedikit melambat, dibanding tahun sebelumnya.

Selain itu BI menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Kalsel pada 2019 kembali menghadapi tantangan dari tertahannya kinerja ekspor dan pertambangan batu bara. Sehingga pertumbuhan pada 2019 diprakirakan lebih rendah dibanding 2018.

Namun BI memproyeksikan pada 2020, perekonomian Kalsel berpeluang meningkat seiring pemulihan kinerja ekspor dan pertambangan batu bara serta meningkatnya industri pengolahan.

Sementara inflasi Kalsel di 2020 akan tetap terkendali sejalan dengan sasaran inflasi nasional yang lebih rendah sebesar 3,0 atau kurang lebih1 persen.

Namun dengan catatan, bahwa apa yang telah tertulis dalam program Roadmap TPID Provinsi/Kabupaten/Kota di Kalsel dapat kita jalankan dengan baik.

BI menyebut ada tiga poin yang bisa dilakukan saat untuk mengantisipasi hal tersebut yakni dengan sinergi, transformasi dan inovasi.

Tiga poin itu adalah kunci untuk memperkuat ketahanan dan pertumbuhan ekonomi Kalsel menuju Indonesia maju. Selain itu peran serta peningkatan hilirisasi juga menahan ketidak satibala ekonomi daerah.

Program pemerintah yang pengolahan B20,B30 hingga B50 bisa di manfaatkan untuk menjaga tingkat kestabilan ekonomi daerah.

Baca Juga: Rupiah Menguat, Efek Perang Dagang?

Baca Juga: Lewat The Purun Label, Purun Banjarbaru Naik Tahta !

Reporter: Rizal Khalqi
Editor: Aprianoor

Editor: Kiki - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Hari Pelanggan Nasional, Telkomsel Sebar Hadiah dan Paket Khusus 4G
apahabar.com

Ekbis

Anggota Komisi X DPR RI Dorong Pemerintah Selamatkan Pariwisata
apahabar.com

Ekbis

Rupiah Rabu Pagi Melemah Dekati Level Psikologis
apahabar.com

Ekbis

Pengemudi Ojek Daring Keluhkan Sulit Tarik Dana yang Jadi Haknya
apahabar.com

Ekbis

Pemerintah Pastikan Premium dan Solar Tak Naik
apahabar.com

Ekbis

Perubahan Pola Belanja Masyarakat, UMKM Jadi Andalan KKP
apahabar.com

Ekbis

Biden Menang, Rupiah Diprediksi Menguat
apahabar.com

Ekbis

Sempat Tumbuh Negatif, Transportasi Udara di Kalsel Mulai Bangkit
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com