Banjir Belum Reda, Warga Desa Bincau Terancam Kekurangan Makanan Update Covid-19: Belasan Warga Kapuas Sembuh, 1 Positif H2D Sidang Perdana di MK, Bawaslu RI ‘Turun Gunung’ ke Kalsel 4.840 Vial Vaksin Covid-19 Tiba di Tanah Bumbu Pengungsi Banjir Bertambah, Kalsel Perpanjang Status Tanggap Darurat

Fenomena ‘Nabi’ dari Barabai, Upaya Duplikat Diri yang Gagal

- Apahabar.com Rabu, 4 Desember 2019 - 18:46 WIB

Fenomena ‘Nabi’ dari Barabai, Upaya Duplikat Diri yang Gagal

Anggota Polres HST menemukan lembaran kertas hasil tafsirannya sendiri untuk diajarkan kepada jemaahnya di pondok di tengah-tengah hutan karet dan sawah yang tak jauh dari rumahnya, Selasa malam. Foto-apahabar.com/HN Lazuardi

apahabar.com, BANJARMASIN – Fenomena nabi terakhir bukan hal baru di Indonesia.

Setelah di Sulawesi Selatan, giliran masyarakat Kalimantan Selatan yang gempar oleh ulah Nasruddin.

Pria 59 tahun itu mengaku nabi terakhir setelah mendapat bisikan gaib pada usia 29 tahun.

Dulunya, Nasruddin tukang mebel handal di Desa Kakahan, Kecamatan Benawa.

Tempatnya tinggal itu berjarak sekitar 11 kilometer dari Barabai, pusat kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Nasruddin disebut memiliki sejumlah pengikut setia. Hajatan rutinnya; pengajian dan beribadah layaknya muslim lainnya.

Bedanya, Nasruddin tidak lagi menggunakan syariat Islam. Seluruh bacaan salat, ia dan jemaahnya disadur ke bahasa Indonesia. Pun dengan Alquran. Untuk menjadi pengikutnya, wajib bersyahadat jika Nasruddin adalah utusan Allah.

Pada 2003, MUI bersama Tim Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Keagamaan dalam Masyarakat (Pakem) dari Kejari Barabai (sekarang Kejari HST) dan Pemkab HST sempat melakukan mediasi. Nasruddin disidang. Ia juga diminta untuk menyetop penyebaran ajaran yang dinilai sesat itu.

Lantas, pada 2019 Nasruddin terindikasi kembali menyebarkan ajaran tersebut. Sampai akhirnya, ia ditahan oleh polisi pada Selasa (04/12) kemarin. Kini sang ‘nabi’ dari Kakahan itu mendekam di Mapolres HST.

Kalsel, sebagai provinsi tertua di Kalimantan dikenal sebagai daerah yang religius. Dosen Antropologi Universitas Lambung Mangkurat, Nasrullah coba memaparkan dari sisi filosofis ihwal perkara ini.

Fenomena nabi palsu, kata dia, merupakan sebuah upaya menduplikat diri. Palsu sendiri menunjukkan arti produk yang gagal.

“Nabi palsu merupakan proses berpikir yang tidak dikawal secara metodologis dan melalui guru. Hingga ia sampai pada pencapaian puncak berpikir yang semu tetapi dianggapnya sebagai kebenaran hakiki,” papar saat dihubungi apahabar.com, sore tadi.

Dalam kajian antropologi, menurutnya kasus ini merujuk pada persoalan klaim kebenaran. Dia ibaratkan pada kelompok penganut aliran tertentu, klaim kebenaran terjadi karena fanatisme terhadap paham yang dianut.

“Dalam kasus nabi palsu, ia mempersonifikasi diri sebagai sosok atau aktor kebenaran yakni sang Nabi itu sendiri,” ujarnya.

Masyarakat yang menganggap hal tersebut tidak masuk akal, dia katakan sebagai kontradiksi terhadap kelompok Nasruddin. “Sedangkan bagi pengikutnya tentu menganggap kehadiran ‘nabi’ mereka sebagai sesuatu hal rasional,” tuturnya.

Namun sebagai akademisi, dia cukup tertarik untuk menggali hal rasional yang dipahami oleh pengikut Nasruddin. “Alih-alih melihat atau mengukur rasional dari pandangan masyarakat awam, lebih menarik melihat hal rasional menurut penganutnya,” ujar dia.

Meski tidak benar-benar rasional. Pada umumnya pengikut ajaran Nasruddin diberikan gambaran konkret tentang akhirat, surga dan neraka. “Sehingga bisa melakukan barter dengan hal-hal bersifat materi atau uang. Bahkan bisa sebaliknya mereka berangan-berangan mendapatkan hal materialisme,” imbuhnya.

Fenomena nabi palsu, kata Nasrullah, sebenarnya sudah terjadi sejak sahabat Nabi dan terus menerus hingga sekarang. Nabi Palsu menurutnya, tidak akan laku jika pengikutnya tidak ada.

“Maka yang jadi persoalan selain menyimpang dari keimanan, ia juga menggiring orang dalam kepalsuan. Bagi masyarakat mesti tabayyun kepada pemuka agama yang memiliki keilmuan,” katanya

Menanggapi kasus ini, masyarakat diharapnya agar teliti dan tidak asal terima pada hal-hal yang praktis dan tersembunyi. “Akhirnya biarlah aparat terkait seperti polisi dan MUI yang menjalankan tugas menyadarkan pengikut dan Nabi Palsu itu sendiri,” ujar Nasrullah mengakhiri.

apahabar.com

Infogragis/apahabar.com/Zulfikar

Baca Juga: Polisi Temukan Fakta Baru dari Pengaku Nabi Terakhir di HST

Baca Juga: Ditetapkan Tersangka, Pengaku Nabi Terakhir di HST Belum Ditahan

Baca Juga: Pengaku Nabi Terakhir di HST Diciduk di Rumahnya, Polisi Temukan Barang Bukti

Baca Juga: Heboh Nabi Terakhir di Benawa HST, Polisi Segera Tetapkan Tersangka

Reporter: Musnita Sari
Editor: Fariz Fadhillah

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Anggaran Pendidikan Merosot Tiap Tahun
apahabar.com

Kalsel

Satpol PP Batola Sisir Pedagang di Bahu Jalan Rumpiang
apahabar.com

Kalsel

Jelang Kampanye Akbar di GBK, Repnas Kalsel Siaga di Tempat
apahabar.com

Kalsel

BPK Star 10 Jawara Adu Tangkas Damkar se Banjarmasin

Kalsel

Hari Pahlawan, Kapolda Kalsel dan Danlanal Banjarmasin Pimpin Rombongan Ziarah
apahabar.com

Kalsel

Ini Upaya Adaro Menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi
apahabar.com

Kalsel

Datang Ke Lapas Teluk Dalam, Dispersip Bawa Mobil Perpustakaan Keliling

Kalsel

Simpan Ekstasi Berlogo Instagram, Pedagang Banjarmasin Selatan Dibekuk Polisi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com