Kronologi Lengkap 2 Bocah asal Benawa HST Tewas Diduga Dibunuh Ibu Depresi Belum Tentu Dibekap Sang Ibu, Biang Kematian 2 Bocah Benawa HST Jadi Misteri 16 Hari Anti-Kekerasan, Aktivis Perempuan Kampanyekan Kesetaraan Gender di Banjarmasin Suhu Tubuh Tinggi, Wali Kota Samarinda Positif Covid-19 Inalillahi, 2 Bocah di Batu Benawa HST Tewas Diduga Dibunuh Ibu Depresi

Hasil Riset, Kearifan Lokal Kalsel Mampu Tangkal Paham Radikal

- Apahabar.com Kamis, 5 Desember 2019 - 18:00 WIB

Hasil Riset, Kearifan Lokal Kalsel Mampu Tangkal Paham Radikal

Kemenag Barito Kuala menggelar dialog lintas agama di Aula Mufakat Marabahan, Kamis (5/12). Foto-Istimewa

apahabar.com, MARABAHAN – Selain pemahaman agama yang benar dan moderat, kearifan lokal di Kalimantan Selatan (Kalsel) ternyata juga berpotensi menangkal paham radikal.

Potensi tersebut diperoleh melalui riset Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), serta disampaikan H Muslim dalam dialog lintas agama di Marabahan, Kamis (5/12).

Dalam riset disebutkan Kalsel menempati peringkat keempat di bawah Bali, Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Timur dalam pengetahuan masyarakat, terkait kearifan lokal.

“Sementara terkait kepercayaaan masyarakat terhadap kearifan lokal, Kalsel menempati peringkat kedua di bawah Bali,” ungkap Muslim.

“Beberapa media kearifan lokal yang dapat membina kerukunan dan menangkal radikalisme adalah madihin, balamut, papadah dan peribahasa,” imbuh Kepala Tata Usaha Kanwil Kemenag Kalsel ini.

Memang cukup banyak peribahasa lokal Kalsel yang mencerminkan persatuan dan persaudaraan, serta nasehat hidup bermasyarakat.

Di antaranya ‘badiri sadang baduduk sadang’ yang bermakna tuntutan menyesuaikan diri dengan lingkungan, tak menyombongkan diri dan mengalahkan orang lain.

Kalsel juga mengenal peribahasa ‘kaya manjuhut rambut di gelapung’ dengan makna menyelesaikan masalah tanpa merugikan salah satu pihak lewat pendekatan persuasif atau dialog.

“Peribahasa lain yang cukup populer adalah ‘kada jadi baras’. Ungkapan ini mengajarkan masyarakat untuk tidak melakukan hal sia-sia dan tak bermanfaat,” beber Muslim.

Dialog yang dihadiri sejumlah pemuka agama Islam, Katolik dan Hindu tersebut juga menekankan Peraturan Bersama Menteri Agama Nomor 9 Tahun 2006 dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2006.

Garis besar peraturan bersama itu adalah pendirian rumah ibadah yang kerap menjadi pemicu konflik antar umat beragama.

“Tentu warga Barito Kuala tidak ingin terjadi konflik antar umat beragama. Terlebih konflik beragama selalu menyita tenaga dan pemikiran, karena berhubungan dengan ranah politik maupun sosial ekonomi,” papar Rusbandi, Kepala Kemenag Batola.

Dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, syarat pendirian rumat ibadat dirinci Bab IV yang antara lain berisi dituntut paling sedikit 90 calon pengguna rumah ibadat, serta minimal dukungan 60 warga setempat.

Baca Juga: TNI AL Kotabaru Meriahkan Hari Armada 2019 dengan Berbagai Kegiatan

Baca Juga: Pemkot Banjarmasin Tunggu Hasil Penilaian Adipura

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Dilarang Demo Omnibus Law, Mahasiswa Banjarmasin: Kami Tetap Bergerak!
apahabar.com

Kalsel

Diperiksa sampai Malam, Korlap Demo di Banjarmasin Akhirnya Dibebaskan
apahabar.com

Kalsel

5 Madrasah Borong Juara Festival Drumband Pelajar se-HST
apahabar.com

Kalsel

Jadi Prioritas Pemerintah, 2,45 Juta Vaksin Covid-19 Segera Disuntikkan ke Warga Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Razia Jelang Tahun Baru, Wisnu: 2 Pengunjung Grand Positif Narkoba
apahabar.com

Kalsel

PWNU Kalsel Ikuti Gelaran 1 Miliar Selawat Nariyah Serentak di Hari Santri
apahabar.com

Kalsel

Pemohon SIM dan Pajak Kendaraan HSS Melonjak, Efek Ops Patuh?

Kalsel

Pemko Banjarmasin Hibahkan Dana Pilkada Rp 48 Miliar
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com