apahabar.com
Ilustrasi penyintas kanker. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Menjadi relawan mungkin bukan pilihan awal seorang Eko Subiyantoro.

Kali pertama menjadi relawan bencana pada 1989, Eko tak menyangka naluri kemanusiaannya muncul ketika sebuah kecelakaan fatal menimpa dirinya.

“Awalnya saya banyak terjun ke dunia bencana. Karena kecelakaan fatal, saya mulai tergerak melakukan pekerjaan yang saya sebut pekerjaan di belakang garis,” ungkap Eko saat ditemui apahabar.com dalam peresmian Rumah Singgah Kanker Anak – Rumah Kita di Jalan Gatot Subroto Banjarmasin, Sabtu (7/12) siang.

Berada di garis belakang. Istilah itu dia tujukan untuk para relawan yang selama ini dipandang sebagai pekerjaan yang remeh bagi kebanyakan orang.

“Relawan ini bekerja untuk bangsa dan negara. Boleh jadi orang menganggap kecil dan remeh temeh pada pekerjaan kami,” tandasnya.

Padahal menurutnya, potensi kehadiran seorang relawan di lokasi bencana akan menjadi sebuah kekuatan tak terbendung dalam membangkitkan semangat orang lain.

“Kalau di lokasi bencana itu istilahnya berada di garis terdepan, tapi yang sekarang saya jalani berada di garis belakang. Ternyata saya cukup menikmati itu,” katanya.

Selama kurun 30 tahun menjalani profesi tak berbayar ini. Banyak suka duka yang sering dia jumpai.

Kesedihan tak luput dirasakan, ketika dirinya tak bisa memenuhi harapan dan keinginan para penyintas kanker.

“Dukanya bagi saya, pada saat tidak bisa memenuhi harapan dan keinginan para teman-teman yang meminta bantuan ke kami,” ucapnya lirih.

Tak hanya dirinya, bapak dua anak ini juga menularkan semangat kemanusiaan kepada keluarga kecilnya.

Saat ini, bersama sejumlah relawan lainnya di Banjarmasin, sudah ada dua rumah singgah yang mereka bangun untuk penyintas kanker.

“Satu di sini (Rumah Kita), satu lagi di kawasan Bunyamin yaitu Rumah Kasih. Itu untuk rumah singgah anak,” jelasnya.

Berbeda dengan Eko yang sempat mengalami pengalaman pahit sebelum mendedikasikan hidupnya sebagai seorang relawan.

Sani, relawan Turun Tangan Banjarmasin ini justru tergerak hatinya ketika memulai perjalanannya membantu mengurus di rumah singgah anak kanker milik kerabatnya.

“Karena rumah singgah di Bunyamin itu milik saudara dari teman saya. Jadi sering ke sana akhirnya dekat dengan anak-anak juga,” papar Sani kepada apahabar.com

Tidak memiliki latar sebagai seorang relawan yang handal, pria yang kesehariannya bekerja sebagai seorang admin kontraktor ini mulai merasakan kedekatan bersama para penyintas kanker sejak 4 tahun lalu.

“Awalnya menjadi pengurus. Dari situ saya pure 24 jam mengurus mereka selama 2 tahun,” bebernya.

Pengalaman mengharukan tak hanya sekali dia rasakan. Pernah suatu ketika, Sani harus dihadapkan momen sakaratul maut seorang penyintas kanker.

Atau kala ketika dirinya harus mengantarkan mereka ke rumah sakit dalam kondisi penuh muntahan darah.

“Karena mereka kan sudah dekat sama kita. Bahkan makan dan tidur bareng. Jadi itu duka bagi saya yang luar biasa,” kisahnya.

Kepeduliannya tak sebatas pada penyintas kanker saja, Sani juga masuk dalam ranah sosial lainnya seperti di bidang pendidikan, lingkungan dan lainnya.

“Di mulai dari rumah singgah sebelumnya dan kemudian turun tangan juga,” ungkap dia.

Ingin bermanfaat bagi banyak orang terutama lingkungan sekitar. 4 tahun waktu yang singkat baginya untuk menggali berbagai pelajaran hidup.

“Kita hidup itu gak bisa sendiri. Kita butuh orang lain, orang lain juga butuh kita,” kata dia.

apahabar.com
Tasyakuran dan Peresmian Rumah Singgah Kanker Anak – Rumah Kita di Jalan H. Mahat Kasan, Gatot Subroto Banjarmasin. Foto-Istimewa

Baca Juga: Obat Lambung Raniditin Ditarik BPOM karena Berpotensi Picu Kanker

Baca Juga: Natasha, Bocah Penderita Kanker Mata Banjarmasin Butuh Uluran Tangan

Reporter: Musnita Sari
Editor: Fariz Fadhillah