apahabar.com
Seminar internasional yang dihadiri Syeikh Ahmed Abu Ayesh Alnajjar asal Palestina, digelar di Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) bekerjasama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kalsel, Rabu (18/12). Foto-ACT for apahabar.com

apahabar.com, BANJARMASIN – “Anak-anak kami setiap hari mendapatkan ancaman fisik dan psikis dari Israel. Kami tak mampu menangani semua anak karena terlalu banyak korban,” demikian penuturan Syeikh Ahmed Abu Ayesh Alnajjar asal Palestina dalam seminar internasional yang digelar di Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) bekerjasama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kalsel, Rabu (18/12) kemarin.

Banyak fakta menyedihkan yang disampaikan oleh Syeikh Abu Ayesh terkait Palestina, khususnya dunia anak-anak.

”Warga Palestina adalah anak-anak dan banyak dari mereka telah menjadi syuhada. Mereka ke sekolah dengan pakaian, buku-buku, dan tas yang tak layak. Bahkan terkadang mereka harus belajar di jalanan,” tuturnya.

Para peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa, dosen dan juga umum tampak tegang dan sebagian terisak kala Syeikh Abu Ayesh menampilkan potret anak-anak Palestina yang mengalami penyiksaan.

“Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, sedangkan anak muslim Palestina dizalimi, disiksa, dihinakan bahkan dibunuh oleh Israel. Ini bertentangan dengan perikemanusiaan dan agama,” imbuh lelaki 50 tahun itu.

Nurbaiti, seorang ibu berusia 45 tahun yang hadir mengaku prihatin sekali dengan keadaan Palestina. “Saya ingin membantu khususnya anak-anak di Palestina,” ucap warga Banjarmasin yang tinggal di Jl Soetoyo S itu.

Dekan Fakultas Agama Islam UMB Muhammad Yusuf SPd I MA berharap dengan adanya seminar itu para peserta bisa memiliki ketajaman terhadap permasalahan sosial terutama saudara muslim di Palestina.

“Kami ingin mengembangkan kepedulian terhadao saudara muslim Palestina,” ujarnya.

Seminar yang dibuka oleh Wakil Rektor III UMB Hj Muspiyanti Chalida Putri SST MPD itu berjalan lancar. Muspiyanti menyampaikan terima kasih kepada ACT dan Syeikh Abu Ayesh atas kesediaan bekerjasama dengan UMB. "Melalui kesempatan ini mari berbagi rasa, insyaAllah akan niat menolong akan dicatat sebagai amal kebaikan, apalagi dibuktikan dengan nyata,” ungkapnya.

Ajakan tersebut disambut kepedulian para peserta dengan antusiasme mengikuti lelang amal. Sebanyak empat buah syal terjual dengan nilai masing-masing Rp 5juta. Sebuah pin Palestina bahkan dibeli dengan harga Rp 1juta. Selain itu ada empat pigura Palestina terjual dengan nilai total lebih dari Rp 4juta. Semua donasi disalurkan melalui ACT Kalsel untuk program-program di Palestina.

Baca Juga: Penuhi Kebutuhan Air Bersih, Global Wakaf-ACT Resmikan Lumbung Air Wakaf

Baca Juga: Gaji Rendah Tak Surutkan Semangat Guru di Pelosok Daerah

Baca Juga: MRI Gelar Orientasi Relawan Batch 1 di Balangan

Baca Juga: Kalsel Peduli-ACT Kolaborasi Bantu Pemulihan Kebakaran Sebuku

Sumber: ACT
Editor: Aprianoor