Pascabanjir HST, 2 Desa di Hantakan Masih Terisolir Sapa Pengungsi di Martapura, Menko PMK Minta Perketat Prokes Pal 4 Banjarmasin Masih Terendam, Pemkot Gelar Rapat Dadakan Terseret Arus, Jasad Korban Banjir Banjarmasin Akhirnya Ditemukan Alhamdulillah, Ribuan Pengungsi di Liang Anggang Mulai Kembali ke Rumah

Mengenang Peristiwa 5 Desember Marabahan

- Apahabar.com Kamis, 5 Desember 2019 - 19:53 WIB

Mengenang Peristiwa 5 Desember Marabahan

Lapangan 5 Desember Marabahan sekarang yang menjadi saksi bisu perlawanan pejuang Marabahan mempertahankan kemerdekaan. Foto-apahabar.com/Bastian Alkaf

apahabar.com, MARABAHAN – Bukan sekadar dijadikan nama lapangan, 5 Desember menyimpan peristiwa heroik yang menunjukkan keberanian pejuang-pejuang di Marabahan.

Peristiwa yang ikut mempertegas Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu genap berusia 74 tahun, Kamis (05/12).

Meskipun berlangsung sekitar empat bulan pasca Proklamasi Kemerdekaan RI di Jakarta, Peristiwa 5 Desember di Marabahan merupakan perwujudan tekad merdeka dan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jeda antara Proklamasi di Jakarta dengan di Marabahan sendiri disebabkan keterbatasan informasi, selain sengaja ditutupi penjajah.

Hubungan yang biasanya dilakukan melalui laut dengan perahu rakyat, terputus sama sekali sejak April 1945 akibat embargo udara oleh sekutu.

Galangan kapal di Kuin dan Alalak juga diratakan dengan tanah oleh sekutu yang setiap hari menyerang Banjarmasin dengan pemboman udara.

Akhirnya informasi Proklamasi di Jakarta sampai Marabahan melalui siaran radio. Lantas dengan berbagai risiko, dilakukan pengibaran Bendera Merah Putih di depan rumah eks kontrolir, tepat 5 Desember 1945.

Peristiwa ini dimulai 1 Desember 1945, ketika pemuda-pemuda di Marabahan membentuk Persatuan Pemuda Republik Indonesia (PRRI). Mereka pula yang membeli radio dari tentara Australia, sehingga masyarakat dapat mendengarkan pidato-pidato pemimpin bangsa.

Kemudian 3 Desember 1945, datang Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) ke Marabahan menggunakan motorboat Ohayo dari Sampit.

Dipimpin H Achmad, rombongan yang dinamai Ekspedisi 9 itu menggelar pertemuan dengan PRRI di Rumah Bulat, terkait kelanjutan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

“Dari pertemuan tersebut, disepakati beberapa putusan penting. Di antaranya mengambil alih kekuasaan dari NICA di Marabahan dan mengibarkan Merah Putih dalam waktu segera,” papar Mansyur SPd MHum, dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Rombongan Ekspedisi Kalimantan juga menyerahkan bantuan persenjataan berupa 6 pucuk senapan panjang type 91, 1 peti berisi 900 biji granat tangan dan 1 peti bom pembakar.

Hasil keputusan itu direalisasikan 5 Desember 1945 sekitar pukul 08.00. Ditandai dengan pelucutan 1 karabein type 95, serta penurunan bendera Belanda dan menaikkan Merah Putih yang diiringi lagu Indonesia Raya.

Peristiwa itu kemudian didengar NICA. Sehari pasca pengibaran Merah Putih di Marabahan, mereka menurunkan tentara dari Margasari untuk merebut kembali Marabahan.

Pertempuran pun tidak terelakkan mulai pukul 15.00. Meski diyakini tak terdapat korban jiwa, tiang bendera yang mengibarkan Merah Putih putus dan NICA berhasil dipukul mundur.

Kemudian 7 Desember 1945, NICA kembali menyerang bersama tentara bantuan dari Banjarmasin. Marabahan pun dikepung mulai Ulu Benteng hingga Bagus.

Dengan persenjataan seadanya, akhirnya pejuang memilih mundur setelah berhasil menduduki Marabahan selama 3 hari dan 3 malam.

Pasca pertempuran itu, NICA melalukan merampas semua senjata dan menangkap masyarakat yang dicurigai sebagai pemberontak. Beberapa di antaranya langsung dieksekusi, sedangkan sebagian lain ditahan di Banjarmasin.

Selanjutnya Marabahan terus dikuasai NICA, sampai kemudian terjadi Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan di Kandangan.

“Peristiwa 5 Desember hanya sebagian dari kisah regenerasi pejuang bangsa di Marabahan,” cetus Nasrullah, dosen Sosiologi dan Antropologi FKIP ULM.

“Sebelumnya terdapat Pambakal Kendet, Panglima Batur hingga Panglima Wangkang. Mereka bahu-membahu bersama Pangeran Antasari melawan Belanda selama Perang Banjar,” tegasnya.

Baca Juga: Marabahan Juara Festival Habsy Batola

Baca Juga: Ditambah Marabahan, Cuma Dua Puskesmas Paripurna di Kalsel

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Warga Purna Sakti

Kalsel

Dini hari, Warga Purna Sakti Banjarmasin Geger Mayat Wanita
apahabar.com

Kalsel

Pendapatan dari Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Kalsel Anjlok
apahabar.com

Kalsel

MTQ Nasional ke-51 Banjarmasin Diikuti 259 Peserta
apahabar.com

Kalsel

Cair, Tukin Satpol PP Banjarmasin Capai Ratusan Juta
apahabar.com

Kalsel

Dugaan Pelanggaran Pemilu, Tim Hukum BirinMU Serahkan Dokumen Klarifikasi ke Bawaslu Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Rumah di Mantuil Banjarmasin Amblas ke Sungai, Pemilik Luka-Luka
apahabar.com

Kalsel

Portal Jembatan Alalak II Diganti Besi, Mobil yang Nekat Siap-Siap Hancur
apahabar.com

Kalsel

BPTD XV Siapkan Lima Posko Hadapi Mudik Lebaran, Berikut Titik Lokasinya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com