apahabar.com
Keakraban Manajer Barito Putera, Mundari Karya (kiri) dan pelatih Djadjang Nurjaman. Foto- Instagram

apahabar.com, BANJARMASIN – Duet Mundari Karya dan Djadjang Nurdjaman di Barito Putera yang notabene memiliki background sebagai pelatih seakan memberikan warna tersendiri bagi skuat Laskar Antasari di Liga 1 2020.

Lantas seperti apa tanggapan pendukung setia, Barito Mania atau Bartman melihatnya kolaborasi keduanya?

Seperti diketahui, Mundari merupakan mantan pelatih Barito Putera awal era 2000-an. Pernah pula pria kelahiran Jakarta 10 Februari 1957 menangani Persikota Tangerang, PSPS Pekanbaru dan Persisam Samarinda.

Dengan segudang pengalamannya itu, diharapkan mampu membawa Barito ke level terbaiknya, dengan posisi sebagai manajer menggantikan Hasnuryadi Sulaiman.

Dianggap mengerti sepakbola tanah air, tentu saja duetnya dengan Djadjang Nurjaman mendapat sambutan hangat semua pihak. Sebab, komposisi yang mengisi betul-betul mengerti sepakbola.

Ketua Umum Barito Mania (Bartman), Normansyah berharap, kolaborasi keduanya bisa memberikan hasil yang terbaik untuk kemajuan Barito Putera.

“Yang terpenting kita harus yakin dan optimis, mereka bukan orang sembarangan, tentu lebih mengerti urusan bola dan manajemen,” kata Norman kepada apahabar.com, belum lama ini.

Meski begitu, ada pula yang khawatir dan beranggapan urusan Djanur sebagai pelatih dalam memilih pemain akan dibayangi ketentuan Mundari, sehingga muncul gesekan. Lalu bagaimana sikap fans sendiri?

“Kita percayakan dengan yang sudah diberi amanah, kita berharap semua bekerja sesuai fungsi masing-masing. Jangan ada saling ikut campur tangan yang bukan tugasnya,” harap Norman.

Terlepas dari itu, baik Mundari Karya dan Djadjang Nurjaman sama-sama bertekad ingin mengangkat prestasi Barito di Liga 1 2020.

“Kita lakukan bertahap, pertama ingin memperbaiki peringkat, mudah-mudahan posisi kita bisa lebih baik dari musim kemarin,” kata Djanur dalam satu kesempatan.

Selama ini, Barito Putera sendiri hanya dikenal sebagai klub medioker atau pengisi papan tengah di persepakbolaan nusantara.

Dengan perombakan skuad besar-besaran, Djanur pun mengutarakan keinginan serta harapannya agar bisa membawa Barito menjadi juara sebelum kontraknya habis.

“Saya ingin di akhir-akhir kontrak bisa memberikan sebuah prestasi yang diinginkan oleh suporter, mudah-mudahan bisa juara,” tekad Djanur yang dikontrak tiga tahun.

Senada dengan itu, Mundari Karya bertekad akan membuat tim ini lebih baik dari sebelumnya.

Tugas pertama yang akan dilakukannya, kata dia, membangun visi dan misi Barito Putera dengan skuad yang dibangun sejak usia muda.

“Kita sudah coba selama tiga tahun terakhir, kalau kita hanya mengundang pemain bintang untuk menjadikan tim yang bagus, saya pikir kita keliru,” ujar Mundari.

Alasan itulah, menurut Mundari yang mendasarinya untuk mengusulkan merekrut pemain muda. Salah satunya sewaktu belum jadi manajer mengusulkan Barito rekrut M Riyandi (kiper).

“Karena dengan begitu saya pikir kita akan berhasil,” nilainya.

Mundari juga mengaku akan lebih gencar lagi memprogram pencarian bakat-bakat baru di usia muda. Salah satunya yang sudah berjalan, lewat ajang Elite Pro Academy.

Meskipun di ajang itu Barito muda belum juara, dia mengklaim bahwa di skuat U-20, tak tertandingi oleh lawan.

Wajar jika kemudian, ada lima nama pemain muda Barito naik ke level senior. Mereka antara lain top skor Elite Pro Academy (EPA) Liga 1 U-20 Kahar Musakkar, pemain terbaik EPA Liga 1 U-20 Yuswanto Aditya, kemudian tiga pemain Barito U-18 David Maulana serta si kembar Amirudin Bagas Kaffa dan Amirudin Bagus Kahfi.

Meski terkesan berjudi dengan mendorong pemain muda masuk skuat senior, Mundari punya alasannya.

“Lebih bagus kita jalan pelan, daripada tidak jalan sama sekali. Saya akan menawarkan atau memberi masukan pemain-pemain muda yang bagus kepada Coach Djadjang (sapaan Djadjang Nurjaman, red),” ucapnya.

Satu hal yang paling ditekankannya nanti, yakni menanamkan asas kekeluargaan dan rasa memiliki di setiap pemain terhadap klub.

Dengan begitu, dia berharap pemain bermain dengan sepenuh hati bukan karena faktor lain.

“Kita tau ya sekarang kita sedang sakit, kita ditinggalkan pemain-pemain terbaik kita seperti Hansamu. Bukan masalah uang, di sini uang banyak. Tapi kita butuh pemain yang bermain dengan hati,” harap Mundari.

Salah satu jalan untuk mendapatkan itu, menurutnya ialah membangun tim dengan pemain yang dibina sejak usia muda.

Baca Juga: Jadi Manajer Baru Barito Putera, Mundari Karya Sebutkan Tugas Pertamanya

Baca Juga: Gustavo Marmentini Batal, Skuat Barito Putera Ditargetkan Komplit Awal Februari

Reporter: Riyad Dafhi R
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin