Kalsel Ingin Adopsi Kawasan Kumuh jadi Wisata di Yogyakarta Waspada, Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Ancam 3 Kabupaten Kalsel Tok! KPU-Kemendagri Sepakat Jadwal Pemilu 14 Februari 2024 Cuaca Kalsel Hari Ini: Sebagian Wilayah Diprediksi Cerah Berawan Tuduhan Tak Terbukti, IRT Banjarmasin Bebas Usai 60 Hari Ditahan

Harga Gas Industri Turun, Menperin: Penerimaan Negara Akan Naik

- Apahabar.com     Senin, 6 Januari 2020 - 14:27 WITA

Harga Gas Industri Turun, Menperin: Penerimaan Negara Akan Naik

Ilustrasi pipa gas di PLTGU. Foto-dok PGN

apahabar.com, JAKARTA – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan hasil kajian Kementerian Perindustrian dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menyimpulkan bahwa penurunan harga gas di sektor industri akan berdampak pada kenaikan penerimaan negara.

“Semakin kecil harga gas, semakin besar benefit yang diterima oleh negara. Hal ini bisa dilihat dari simulasi dampak fiskal penurunan harga gas bumi yang telah kami buat bersama LPEM UI,” kata Agus di Jakarta, Senin (06/01).

Agus memaparkan berdasarkan simulasi jika harga gas bumi empat dolar AS per juta British thermal units (MMBTU), maka memang menurunkan bagian pemerintah sebesar Rp53,86 triliun, namun akan meningkatkan penerimaan negara berbagai pajak dari industri turunannya sebesar Rp85,84 triliun.

Kemudian, simulasi untuk harga gas lima dolar AS per MMBTU, maka akan menurunkan bagi hasil pemerintah Rp44,88 triliun, namun akan meningkatkan penerimaan berbagai pajak dari industri turunannya Rp71,53 triliun.

Sedangkan, untuk harga gas enam dolar AS per MMBTU, maka menurunkan penerimaan pemerintah Rp35,91 triliun, namun akan meningkatkan penerimaan negara berbagai pajak dari industri turunannya sebesar Rp57,23 triliun.

Dengan demikian, lanjut Agus, simulasi menunjukkan bahwa bagian dari pemerintah akan turun apabila harga gas bumi diturunkan dari harga saat ini sebesar rata-rata 9,5 dolar AS per MMBTU.

Namun, pemerintah akan mendapatkan benefit melalui penambahan PPN, PPh badan, PPh orang, dan bea masuk, yang jauh lebih besar.

Selain itu, penurunan harga gas juga akan mempengaruhi daya saing industri dalam negeri.

Kemenperin juga menyimulasikan penurunan harga gas terhadap daya saing industri yang dihitung sebagai selisih antara harga produk impor terhadap harga produk pada kisaran harga gas tertentu.

“Misalnya pada industri kaca. Dengan harga gas tujuh dolar AS per MMBTU, maka produk kaca nasional dijual seharga 241 atau lebih tinggi dibandingkan produk kaca impor yakni sebesar 235,” papar Agus.

Sedangkan, dengan harga gas lima dolar AS per MMBTU, maka industri kaca nasional mampu menjual produk dengan harga 227, yang lebih rendah dari harga kaca impor sebesar 235.

“Dari sini terlihat bahwa daya saing positif menandakan harga produk lokal lebih murah daripada harga produk impor apabila harga gasnya diturunkan,” ujarnya.(Ant)

Baca Juga: Kementerian ESDM Belum Restui Harga Gas Naik

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Mentan Memproyeksi Produksi Beras 2021 Capai 20 Juta Ton
apahabar.com

Ekbis

Dorong Pengembangan Produk Halal
apahabar.com

Ekbis

Pilpres AS Berlangsung Ketat, IHSG Ditutup Melemah
apahabar.com

Ekbis

IHSG Zona Merah, Rupiah Akhir Tahun Ditutup Menguat Tajam
BPD HIPMI Kalsel

Ekbis

Kembalikan Berkas Pendaftaran, Tiga Caketum BPD HIPMI Kalsel Siap Bersaing
apahabar.com

Ekbis

Sektor Ini yang Bisa Angkat Performa Kalsel
apahabar.com

Ekbis

Tingkatkan Ekonomi, BI Kalsel Terapkan Holding Pesantren
apahabar.com

Ekbis

Pertamina Temukan Cadangan Gas di Sulawesi Tengah, Berapa Besarannya?
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com