apahabar.com
Semua pejabat Barito Kuala, termasuk Bupati Hj Noormiliyani mengenakan pakaian adat Banjar dalam rapat paripurna hari jadi. Foto-apahabar.com/Bastian Alkaf

apahabar.com, MARABAHAN – Tepat 4 Januari 2020, Barito Kuala genap berusia 60 tahun. Mendekati umur seabad, peringatan pun dilakukan berbeda.

Mengangkat tema ‘Mehas bagawi handeyah biti Batola Setara’, peringatan hari jadi diawali rapat paripurna bersama DPRD Batola.

Momentum inilah yang berbeda dibandingkan rapat paripurna menyambut hari jadi tahun-tahun sebelumnya.

Semua pejabat mulai dari bupati, wakil bupati, anggota DPRD Batola, hingga Forkopimda mengenakan pakaian adat Banjar dari jenis “baamar galung pancar matahari”.

Namun jenis yang dipilih tidak diadopsi semuanya. Tidak terlihat taburan payet, kalung, cikak, anting beruntai panjang, gelang, ronce logam hingga selop bersulam benang berwarna emas.

Pejabat wanita termasuk Bupati Hj Noormiliyani AS, hanya mengenakan baju poko berlengan panjang berwarna kuning dan bawahan hijau.
Busana itu dipadupadankan dengan hijab kuning dan selendang hijau.

Sementara aksesoris pejabat pria terbilang lengkap, termasuk yang dikenakan Ketua DPRD Batola, Saleh, serta Wakil Bupati H Rahmadian Noor dan anggota DPRD maupun Forkopimda.

Mereka mengenakan jas tanpa kancing berwarna kuning, celana kuning, tapih pendek, laung hijau bergaris kuning, serta tali wenang yang berfungsi sebagai ikat pinggang berwarna hitam.

Meski berbeda aksesoris, persamaan yang terlihat adalah motif kain. Semua pejabat menggenakan kain bermotif padi dan purun khas Batola.

“Pakaian adat ini merupakan ide bupati, karena hari jadi setahun sebelumnya kami masih mengenakan Pakaian Sipil Lengkap (PSL),” ungkap Saleh.

“Kami sekaligus bangga mengenakan pakaian adat dalam momen penting. Dalam tahun-tahun selanjutnya, pakaian ini dipakai dalam setiap rapat paripurna hari jadi sesuai tata tertib yang baru kami sepakati,” imbuhnya.

Saking sumringah mengenakan pakaian adat, beberapa anggota DPRD Batola sudah memamerkan foto ketika mencoba kostum tersebut di media sosial, seminggu sebelum rapat paripurna.

“Mungkin ke depan semua kepala SKPD juga mengenakan pakaian yang sama supaya terlihat seragam,” beber Saleh.

Beberapa anggota Forkopimda yang notabene bukan “urang Banua”, juga terlihat nyaman mengenakan pakaian adat Banjar.

“Kalau dibandingkan pakaian adat di Sulawesi Selatan cukup mirip dengan pakaian adat Banjar. Bedanya kami mengenakan sarung panjang, bukan celana panjang seperti Banjar,” sahut La Kanna, Kepala Kejaksaan Negeri Batola.

Paripurna sendiri tidak menitiberatkan penjelasan atau pemandangan umum fraksi seperti biasa.

Kesempatan itu digunakan Noormiliyani memaparkan sejumlah pencapaian selama 2 tahun 2 bulan menjabat.

“Alhamdulillah dalam kurun pengabdian selama 2 tahun, Batola telah melakukan kegiatan strategis seperti membuka isolasi Desa Kuala Lupak dan melaksanakan pengelolaan keuangan daerah dengan kualifikasi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP),” jelas Noormiliyani.

“Kami juga sudah mengerjakan akses jalan Kutabamara sebagai upaya mengimbangi perkembangan wilayah Batola di kedua sisi,” tandasnya.

Baca Juga: Sering Komunikasi, Tangkapan Polantas Batola Ini Akui Tak Kenal Penyuruhnya

Baca Juga: Tanam 1.500 Bibit Pohon, Polres Batola Tebar Semangat Penghijauan

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Fariz Fadhillah