apahabar.com
Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusup Singka. Foto-net

apahabar.com, JAKARTA – Petugas kesehatan sigap, handal, amanah, responsif dan inovatif (Shari) sangat diperlukan untuk melayani jemaah. Karena itulah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI untuk tahun ini lebih selektif dalam memilih petugas haji bidang kesehatan.

“Saya menekankan sekali lagi bahwa kita selalu lebih selektif dalam artian bahwa petugas-petugas itu lebih peka untuk memberikan pelayanan kepada jemaah haji,” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusup Singka belum lama ini.

Untuk itu, proses seleksi tahun ini akan lebih ketat ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2020 ini, selain kompetensi dan pengalaman kerja, isu penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (Napza) serta penyebaran faham radikalisme menjadi perhatian serius panitia penerimaan calon petugas kesehatan haji Indonesia.

Selain itu, kata Eka, rekruitmen ini juga menekankan pentingnya peningkatan sensitifitas petugas dalam memberikan layanan kesehatan bagi jamaah haji Indonesia. Mengingat bahwa lebih dari 60 persen jamaah haji Indonesia tergolong berisiko tinggi, baik dilihat dari usia maupun faktor risiko penyakit.

“Petugas kesehatan haji selama ini telah banyak membantu menjaga kesehatan jemaah demi dapat melaksanaan ibadah haji sesuai syariat,” katanya.

Eka memastikan, petugas haji bidang kesehatan telah banyak membantu penyelenggaraan ibadah haji. Terutama, kerjasama lintas kementerian yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah haji, telah dilakukan Kemenkes melalui Pusat Kesehatan Haji sudah berjalan baik.

“Sebagai hasilnya, pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan semakin meningkat setiap tahunnya,” katanya.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penghargaan yang diterima oleh pemerintah Indonesia dalam bidang pelayanan kesehatan dari pemerintah Arab Saudi sejak tahun 2016.

Sesuai UU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, petugas penyelenggara ibadah haji terdiri dari PPIH pusat, PPIH Arab Saudi, PPIH embarkasi dan PPIH Kelompok Terbang (Kloter).

Rekrutmen petugas kesehatan haji dilandasi dengan Permenkes Nomor 3 Tahun 2018. Di bidang kesehatan haji, petugas terbagi menjadi dua kelompok besar, petugas kloter dan non kloter. TKHI yang terdiri dari 1 orang dokter dan 2 orang perawat akan bertugas langsung di setiap kloter.

Sedangkan PPIH bidang kesehatan akan bertugas di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekah dan Madinah yang nantinya akan menjadi 3 tim, Tim Gerak Cepat (TGC), Tim Kuratif Rehabilitatif (TKR) dan Tim Promotif Preventif (TPP).

Proses penerimaan calon petugas kesehatan jemaah haji akan dilanjutkan dengan psikotes (MMPI), wawancara, tes Napza dan tes kebugaran yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat bersamaan dengan pelatihan kompetensi.

Saat proses pendaftaran online ditutup pada pertengahan Desember lalu, tercatat ada 14.000 orang yang mendaftar. Ribuan pelamar tersebut, akan memperebutkan formasi 1.587 orang Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) dan 306 orang Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bidang kesehatan.

Meskipun jumlah jemaah haji terus bertambah, akan tetapi kuota jumlah petugas kesehatan sampai dengan tahun ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: MUI Waspadai Adanya Aliran-Aliran Keagamaan Berbahaya

Baca Juga: Polisi Bagikan Nasi Gratis untuk Jemaah Haul KH Anang Sya’rani Arif ke 51

Editor: Muhammad Bulkini