Mardani H Maming (paling kiri) digadang kuat untuk mendampingi Sahbirin Noor, kandidat petahana di Pemilihan Gubernur Kalimantan Selatan ketimbang Rosehan Noor Bahri. Foto: Ist

apahabar.com, BANJARMASIN – Sahbirin Noor, kandidat petahana di Pemilihan Gubernur Kalimantan Selatan (Pilgub Kalsel) diprediksi bakal melawan kotak kosong alias menang mudah jika berpasangan dengan Mardani H Maming (MHM).

Figur MHM dinilai lebih ungul dibanding sejumlah calon pendamping lain yang namanya mencuat berdasarkan sejumlah lembaga survei nasional, seperti Rosehan Noor, Muhidin, Pangeran Khairul Saleh, ataupun Zairullah Azhar.

MHM, CEO PT Batulicin 69 dan PT Maming 69, perusahaan holding yang membawahi 55 entitas anak bisnis mulai dari perusahaan pertambangan mineral, pengawasan alat berat, pelabuhan, perkebunan hingga properti itu dinilai memiliki “modal” lebih ketimbang para bakal calon lain.

“MHM sudah memiliki investasi politik di Tanah Bumbu (Tanbu), dengan menjabat dua periode sebagai orang nomor satu di Bumi Bersujud itu. Hari ini, ia menjabat ketua umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Nasional (BPP Hipmi),” ujar Pengamat Politik dan Kebijakan Publik FISIP ULM, Samahuddin Muharram kepada apahabar.com, Rabu (1/1).

Untuk mendampingi sang incumbent Sahbirin Noor, Rosehan dan MHM menjadi nama potensial dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang memiliki 8 kursi saat Pileg 2019 lalu. PDIP hanya terpaut satu tingkat di bawah Golkar, pengusung Sahbirin, dengan capaian 11 kursi.

“MHM bisa menjadi representasi PDIP dan milenial Kalsel,” ujar Samahuddin. Samahuddin juga punya alasan lain mengapa MHM lebih berpeluang ketimbang Rosehan.

“Peluang MHM lebih besar jika mau menjadi pendamping Paman Birin. MHM hari ini mewakili kelompok pengusaha muda secara nasional,” ungkapnya.

Selain kedua tokoh beda generasi tadi, Samanhudin juga menyinggung nama Muhidin, eks wali kota Banjarmasin sekaligus ketua Partai Amanat Nasional wilayah Kalsel.

“Secara politik, basis pemilih-nya [Muhidin] ada di Banjarmasin. Ini salah satu faktor yang bisa saja menjadi alasan Paman Birin memilih Muhidin. Karena pemilihnya jelas di akar rumput,” katanya.

Warning bagi Petahana

Sejauh ini publik masih mencari sosok pemimpin Banua, sebutan Kalsel, yang siap menghadapi persaingan global era revolusi industri 4.0.

Mengacu pada hasil dari lembaga survei nasional terpercaya menunjukkan posisi petahana Sahbirin Noor masih berada di bawah 50 persen.

“Ini dapat dibaca sebagai warning bagi petahana. Dengan hasil itu, maka masih perlu kerja keras untuk meningkatkan elektabilitas,” ucap Ketua Program Studi Sosiologi FISIP ULM, Setia Budhi, PhD saat bincang ringan dengan apahabar.com.

Merujuk pada hasil Pileg 2019 kemarin, kata dia, dengan tegas angka elektabilitas generasi muda sejalan dengan era milenial.

“Artinya mayoritas pemilih di Kalsel berharap tampilnya generasi muda sebagai bagian dari tantangan menghadapi persaingan global,” jelasnya.

Saat ini, wajah kepemimpinan nasional sebagaimana diperlihatkan Gubernur DKI Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Mereka merupakan tokoh muda yang memimpin daerah.

“Ini berkemungkinan besar menaikkan harapan masyarakat Kalsel untuk tampilnya tokoh muda memimpin daerah ini,” cetusnya.

Di Kalsel sendiri, sambung dia, terdapat beberapa tokoh muda yang dinilai potensial. Selain MHM, Budhi juga menyinggung nama Hasnuryadi Sulaiman, Sulaiman Umar, Agustin, dan Hj Ananda. Dua nama terakhir sebagai representasi tokoh muda perempuan.

Dalam sistem politik, pemerintahan, dan otonomi daerah ini, tambah dia, harus ada jaminan pemimpin masa depan yang mempunyai jaringan luas di tingkat nasional dan internasional.

Hal ini dinilai tak dapat ditawar lagi. Sebab jika hanya mengandalkan APBD, maka percepatan pembangunan akan berjalan lamban.

“Itu sebab anggaran yang bersumber dari APBN menjadi penting, sejalan dengan konstribusi dari hasil sumber daya alam Kalsel yang sangat besar,” bebernya.

Menurutnya, semua tokoh mempunyai peluang yang sama sebagai calon untuk berkompetisi di Pilgub Kalsel 2020. Walaupun demikian, perebutan Daerah Pemilihan (Dapil) menjadi penting untuk mempertimbangkan politik akar rumput dan basis dukungan.

Tokoh yang mempunyai basis kuat di wilayah Dapil II bersinergi dengan tokoh yang mempunyai basis massa di Dapil I.

“Ini adalah startegi meraih dukungan yang seimbang antara kawasan pesisir dan kawasan Hulu Sungai,” ujarnya mengakhiri.

Ya, sekalipun demikian, kontestasi pemilihan pemimpin Banua saat ini masih sangat fleksibel dan dinamis. Masyarakat masih menunggu siapa tokoh yang siap mendampingi Paman Birin.

Baca Juga: Resmikan Sekretariat HIPMI, Mardani H. Maming Sebut akan Jadi “Rumah” Pengusaha Muda

Baca Juga: Dukung Menteri BUMN, Mardani: Pemerintah Harus Berantas Monopoli Maskapai!

Baca Juga: Mardani H. Maming Beri Inspirasi Ribuan Mahasiswa Universitas Brawijaya

Baca Juga: Usai Diundang CNBC, Mardani H Maming Berbagi Tips Sukses di Malang

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Fariz Fadhillah