Update Covid-19 Tanbu: Sembuh 1 Orang, Positif Nihil 6 Preman Kampung Pemeras Warga di Jalan Nasional Kalsel-Kaltim Disikat Polisi Pasangannya Meninggal, Rahmad Masud: Saya Masih Nggak Nyangka, Ini Seperti Mimpi Wawali Terpilih Meninggal, Begini Penjelasan RSP Balikpapan Respons Pemprov, Gubernur Sahbirin Mau Digugat karena Banjir Kalsel

Mahasiswa UMM Temukan Sistem Pintar Pendeteksi Kebakaran Hutan

- Apahabar.com Jumat, 3 Januari 2020 - 06:00 WIB

Mahasiswa UMM Temukan Sistem Pintar Pendeteksi Kebakaran Hutan

Bupati Barito Utara Nadalsyah (kanan) didampingi Kabid Bina Marga Rody (kiri) melakukan peninjauan fisik jembatan penyeberangan di Muara Teweh, Kamis (26/12/2019) lalu. Foto-Antara/Kasriadi

apahabar.com, MALANG – Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur menemukan sistem pintar atau teknologi “Integrated Forest Fire Management System”, yakni alat yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mendeteksi kebakaran hutan.

Cara kerja sistem ini adalah dengan memanfaatkan sensor LM35 dan sensor Flame menggunakan artificial intelligence (AI) sebagai pemroses data.

“Hutan memegang peran penting bagi kehidupan, di antaranya adalah filter dalam mengurangi pemanasan global dan penghasil oksigen terbesar di dunia,” kata Ketua kelompok mahasiswa penemu sistem pintar pendeteksi kebakaran hutan tersebut, Billy Aprilio di Malang, Kamis, (02/01).

Bercermin dari peran penting hutan, kata dia, disayangkan jika hutan di Indonesia terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Banyak penyebab berkurangnya hutan di Indonesia, salah satunya adalah masalah kebakaran hutan.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2018, luas lahan hutan di Indonesia mencapai 93,5 juta hektare. Selain Brazil, Indonesia menjadi penyumbang terbesar kadar oksigen dunia, bahkan sering disebut menjadi paru-paru dunia.

Indonesia adalah negara yang menempati posisi ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis. Namun, kebakaran hutan, baik yang terjadi karena musim kemarau atau pembukaan lahan ilegal, menjadi masalah yang tak kunjung usai.

Pada kasus kebakaran hutan di Indonesia telah menjadi masalah yang hingga kini masih belum teratasi dan menjadi permasalahan internasional. Hal ini juga dapat dilihat dari data BNPB yang di update pada 15 September 2019, mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 328.722 hektare dengan jumlah titik panas 538 titik panas.

Inovasi temuan mahasiswa yang dibimbing dosen Fakultas Teknik Nur Hayatin itu digadang-gadang mampu mengurangi perluasan dampak kebakaran. Temuan tersebut telah didaftarkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Konstruktif.

Banyak upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, di antaranya pengefektifan perangkat hukum, menerapkan metode kampanye sadar masyarakat, dibangunnya embung, membangun menara pengawas dan lainnya.

Kemudian ketika terjadi kebakaran upaya pemadaman yang dilakukan adalah dengan meningkatkan teknologi, selanjutnya dilakukan operasi pemadaman, evakuasi, dan penyelamatan. Inovasi teknologi ini dinilai dapat menjawab tantangan tersebut.

Input yang didapat dari teknologi besutan tiga mahasiswa tersebut, yakni Billy Aprilio, Yasril Imam dan Ulfah Nur Oktaviana ini berupa temperatur suhu dan nyala api. Ketika terjadi kebakaran, sensor akan mendeteksi secara otomatis.

Selanjutnya, sistem akan memberikan perintah untuk memompa air untuk disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran, dimana air didapatkan dari pembuatan penampungan air embun alami dengan menggunakan pemanen embun melalui jaring atau fog harvesting.

Penyemprot akan menyemprotkan air pada periode waktu tertentu yang kemudian akan dilakukan pengecekan ulang terhadap suhu sekitar. Jika dinilai masih terdeteksi suhu tinggi, penyemprot akan diaktifkan kembali.

“Namun, apabila sensor mendeteksi kategori kebakaran hutan tingkat tinggi, sistem secara otomatis akan mengirimkan sinyal tempat kebakaran pada komputer pusat. Sehingga, tidak akan terjadi kebakaran yang jauh lebih besar,” kata Billy.

Selanjutnya, hasil dari “fog harvesting” tersebut akan disalurkan ke tangki air (water tank) sebagai tempat penampungan.

“Untuk power supplay, kami menggunakan panel surya untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber daya utama yang kami aplikasikan pada pompa penyemprot air,” pungkas Aprilio.

Sumber: Antara
Editor: Aprianoor

Editor: rifad - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Tarik Pelanggan, Rumah Sambal Acan Raja Banjar Hadirkan Live Musik Bernuansa Budaya
apahabar.com

Gaya

Ponsel Realme Diskon, Simak Daftar Harganya
apahabar.com

Gaya

Tips Aman Melindungi Data Pribadi Saat Transaksi Digital
apahabar.com

Gaya

Baut Mesin Mudah Kendur, Volkswagen Tarik 210 Ribu Lebih Sedan Jetta
apahabar.com

Gaya

Wajah Jokowi dan Susi Pudjiastuti di New York Fashion Week 2020
apahabar.com

Gaya

Garangnya Penampilan Jimny dengan Konsep Black Bison Edition
apahabar.com

Gaya

Kembali Normal, Kontrol Asupan Makanan Berlemak
apahabar.com

Gaya

Operator Seluler Berbagi Paket Promo Lebaran
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com