apahabar.com
Sudah nyaris 40 tahun H Haderi berjualan gado-gado di Siring Marabahan setiap Selasa pagi. Foto-apahabar.com/Bastian Alkaf

apahabar.com, MARABAHAN – Hampir semua pedagang dan warga yang biasa berbelanja di Pasar Marabahan, mengenal H Haderi. Sosok pedagang gado-gado istimewa setiap Selasa pagi di Siring Marabahan.

Bukan tanpa sebab gado-gado Haderi disebut istimewa. Selain dijual dari atas kelotok, makanan tersebut terbilang lezat dan hanya berbanderol sebesar Rp5.000 per piring.

Kendati cuma Rp5.000, sepiring gado-gado yang disajikan warga Desa Bagus, Kecamatan Marabahan, ini terbilang lebih dari cukup untuk sarapan.

“Banyak orang yang protes, karena gado-gado saya seharusnya seharga lebih dari Rp5.000. Tetapi saya tetap mempertahankan harga, karena sebenarnya sudah mendapatkan untung,” ungkap Haderi, Selasa (14/1).

Tidak mengherankan kalau gado-gado Haderi selalu ludes hanya dalam beberapa jam. Mulai berjualan sejak pukul 06.30, semua makanan yang dijual habis sekitar pukul 07.30.

“Sedikit untung-untungan kalau ingin makan gado-gado setiap Selasa pagi di siring. Sudah dua kali datang, baru sekarang kebagian,” cetus Baim, salah seorang pembeli.

Pembeli dapat memilih sendiri tempat bersantap. Bisa duduk di siring atau di kelotok sembari merasakan sensasi digoyang ombak.

Tapi mereka yang tak kebagian, dipastikan harus menunggu sepekan kemudian, karena Haderi cuma berjualan setiap Selasa pagi atau hari pasar di Siring Marabahan. Pun pria berusia 68 tahun ini tidak pernah menjajakan gado-gado tersebut.

“Kalau habis pukul 08.00, berarti dagangan kami sedikit sepi. Namun Alhamdulillah kami tak pernah membawa sisa makanan ke rumah,” papar Haderi yang berjualan bersama sang putra.

“Selain di Siring Marabahan, kami berjualan setiap Kamis pagi di Sungai Gampa dan Jumat pagi di Bantuil. Selebihnya saya istirahat, karena sudah kecapekan,” imbuh ayah tujuh anak ini.

Memang nyaris sepanjang hidup Haderi dihabiskan di atas sungai. Mulai dari mengayuh jukung menuju lokasi jualan, hingga sekarang menggunakan kelotok.

Tanpa mengenal lelah, Haderi juga setiap hari berjualan dari pasar ke pasar. Keuntungan yang diperoleh dapat ditabung dan mengantar Haderi bersama sang istri, Hj Nurhayati, ke Tanah Suci di pertengahan 2001.

Kemudian bungsu dari pasangan ini diantar mendapatkan gelar sarjana. Namun demikian, dua dari tujuh anak Haderi dan Nurhayati sudah meninggal dunia.

“Rasanya sudah 40 tahun saya berjualan gado-gado. Semasa masih muda, saya menetap di Alalak. Saya hanya memakai jukung berjualan hingga Kuala Kapuas,” kenang Haderi.

“Lantas saya merantau ke Marabahan, sampai akhirnya beristri orang Bagus. Sudah lima kali bupati Barito Kuala berganti, saya selalu berjualan gado-gado di Siring Marabahan,” imbuhnya.

Walaupun hanya tinggal di rumah, peran Nurhayati tidak kalah vital. Kejelian Nurhayati mengatur racikan bumbu menghadirkan cita rasa gado-gado yang dicari banyak orang.

“Bumbu sudah diracik sejak siang. Sedangkan ketupat baru dimasak sebelum salat subuh. Biasanya beras satu gantang (10 liter) menghasilkan 150 piring,” jelas Haderi.

Dalam beberapa tahun kedepan, usaha tersebut tampaknya diteruskan sang anak. Namun Haderi sendiri belum memastikan jadwal pensiun.

“Selama masih sehat, saya ingin terus berjualan. Lagipula sembari berjualan, saya bisa bersedekah makanan kepada orang yang membutuhkan,” tandas Haderi.

Baca Juga: Makan Durian Saat Perut Kosong Bahayakan Lambung?

Baca Juga: TikTok Perbarui Kebijakan untuk Perangi Hoaks

apahabar.com
Seorang warga Marabahan menyantap gado-gado yang dijual H Haderi seharga Rp5.000 per piring. Foto-apahabar.com/Bastian Alkaf

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Syarif