apahabar.com
Karena satu dan lain hal, Jalan Sungai Gampa Asahi di Kabupaten Barito Kuala dinilai belum layak disebut jalan nasional. Foto-apahabar.com/Bastian Alkaf

apahabar.com, MARABAHAN – Kendati masuk prioritas, pelebaran Jalan Sungai Gampa Asahi di Kecamatan Rantau Badauh masih belum jelas.

Ditarik dari Jembatan Alalak hingga Simpang Tiga Jalan HM Yunus, Jalan Sungai Gampa Asahi sepanjang 2,6 kilometer itu masih belum layak disebut nasional.

Penyebabnya adalah ruas jalan masih selebar 4 meter, plus sejumlah lubang di kanan maupun kiri jalan. Pun tercipta bottle neck di antara perbatasan Desa Danda Jaya dengan Sungai Gampa Asahi.

Namun bottle neck atau jalan menyempit itu mungkin masih bertahan hingga akhir 2020.

Penyebabnya pelebaran tidak tertera dalam rencana Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XI Banjarmasin.

Mereka masih fokus menyelesaikan pembangunan Jembatan Alalak, serta pelebaran Jalan Trans Kalimantan di Handil Bakti.

“Pelebaran kawasan tersebut tak termasuk program 2020, kendati sebenarnya sudah pernah diusulkan melalui Komisi V DPR,” jelas Kepala BBPJN XI Banjarmasin, Budi Harimawan Semihardjo kepada apahabar.com, belum lama ini.

Sebenarnya, sambung dia, pelebaran jalan Sungai Gampa Asahi merupakan priorita.

“Sehingga kami berharap dapat masuk ABT 2020. Harapan lain adalah sisa penggunaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN),” sambungnya.

Selain pernah diusulkan, BBPJN juga telah menerima surat permintaan dari Bupati Barito Kuala, Hj Noormiliyani AS, beserta kajian lingkungan.

“Memang kami sudah mendapat surat Bupati. Tetapi seyogyanya surat permohonan itu langsung dikirimkan kepada Menteri PUPR. Justru BBPJN tak bisa mengusulkan, karena seakan-seakan saya yang meminta proyek,” sahut Budi.

Karena termasuk jalan nasional, skenarionya daerah yang menyampaikan kepada menteri bersama data pendukung.

“Intinya jalan mesti segera dilebarkan, karena termasuk jalan nasional,” sambungnya.

Sebelum melalui surat resmi, Bupati Noormiliyani AS sudah menginginkan BBPJN XI melanjutkan pelebaran jalan hingga Simpang Tiga Jalan HM Yunus.

“Oleh karena sekarang permintaan kepada Kementerian PUPR dapat melalui perwakilan di wilayah, saya menitipkan keinginan tersebut,” cetus Noormiliyani.

Keinginan itu disampaikan Noormiliyani dalam peringatan Hari Habitat 2019 di TPA Tabing Rimbah yang dihadiri Balai Prasarana Permukiman Wilayah Kalsel, Balai Jasa Konstruksi Wilayah V Banjarmasin, Balai Penelitian dan Pengembangan Rawa, serta BBPJN.

Di samping itu, Satuan Lalu Lintas Polres Barito Kuala juga sudah mengingatkan bahwa bottle neck berpotensi menimbulkan kecelakaan.

Pengendara bisa kehilangan kontrol, selepas keluar dari jalan selebar 8 meter.

“Kami sudah memberikan rekomendasi kepada Pemkab Batola untuk mengusulkan pelebaran Jalan Sungai Gampa Asahi kepada BBPJN,” papar Kapolres Batola AKBP Bagus Suseno.

Polisi ingin mengurangi blackspot di jalur-jalur sempit dan padat kendaraan, mengingat sudah cukup banyak blackspot di Jalan Trans Kalimantan.

Baca Juga: Kalender 2019 Ditutup, Inilah Kebanggaan Bupati Batola

Baca Juga: Selalu Jaga Suami, Pesan Bupati Batola Dalam HUT DWP

Baca Juga: Puluhan Warga Batola Sudah Dijamah Bedah Rumah

Baca Juga: Satpol PP Batola Incar Delapan Putra Daerah

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Fariz Fadhillah