apahabar.com
Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat, Rida Hesti Ratnasari (kiri) Foto-rep

apahabar.com, JAKARTA – Keberadaan Kerajaan Keraton Sejagat, menurut  Komisi Pengkajian dan Penelitian (PP) MUI, ada kemiripan dengan pola pembentukan, penyebaran, dan kepatuhan anggotanya dengan kelompok seperti Lia Eden dan Ratu Ubur-Ubur. Untuk itu, MUI mengimbau untuk mewaspadai adanya aliran keagamaan yang berpotensi membahayakan umat dan bangsa.

Kendati demikian, untuk Kerajaan Keraton Sejagat, Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian (PP) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rida Hesti Ratnasari mengatakan, pihaknya akan mendalami apa bila kelompok tersebut menggunakan simbol-simbol Islam dan menggunakan akidah serta syariah Islam dalam pengembangan ajarannya.

Komisi PP MUI mengajak masyarakat mendeteksi lebih dini kelompok-kelompok semacam itu. “Kalau ini (Kerajaan Keraton Sejagat) pengikutnya sudah 400 lebih, kasihan sudah banyak yang tertipu,” kata Rida seperti dilansir kepada Republika, Sabtu (18/1).

Ia menyampaikan, untuk mewaspadai kelompok yang membahayakan umat dan bangsa maka sistem deteksi dini harus ditingkatkan bersama-sama Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Kementerian Agama setempat dan kejaksaan. Intinya bersama-sama bahu membahu menegakkan sistem peringatan dini aliran yang berpotensi membahayakan umat dan bangsa.

Rida juga mengingatkan, umat Islam dalam praktik beragama harus merujuk kepada ulama. MUI sudah ada sampai tingkat kabupaten/ kota. MUI juga sudah mengeluarkan sertifikat dai supaya masyarakat dapat dengan mudah memilih dai yang bisa menjadi rujukan.

“Umat Islam harus jelas rujukannya, kalau umat tidak disediakan rujukan nanti merujuk ke mana-mana,” ujarnya.

Ia mengingatkan, umat Islam juga tidak seharusnya memasuki kelompok-kelompok yang eksklusif. Salah satu ciri bahwa aliran keagamaan itu punya motif selain memelihara agama biasanya eksklusif dan tertutup. Maka sebaiknya umat memilih kelompok yang inklusif, terbuka dan mudah dikritik oleh lingkungan kalau terjadi kekeliruan.

Selain itu, Rida menegaskan, umat Islam harus sadar beragama tidak instan. Sebab sebelumnya ada aliran keagamaan yang menjual rumah di surga. Padahal sesungguhnya proses beragama dan meraih ridha Allah tidak instan.

“Maka mari kita menjalankan pokok ajaran Islam itu sebagaimana mestinya yang diajarkan Rasulullah yang diikuti oleh para ulama kita, jadi kita tidak akan mudah terpengaruh oleh yang serba instan,” ujarnya.

Rida juga menjelaskan munculnya kelompok-kelompok semacam itu biasanya ada tiga motif. Pertama, motif kekuasaan karena ingin dikultuskan sebagai raja dan ratu. Kedua, motif ekonomi karena nanti ada mekanisme ekonomi, misalnya pengikutnya harus membeli atau membayar sesuatu. Ketiga, motif mengubah negara Indonesia secara totalitas.

Kerajaan Keraton Sejagat di dalam ajarannya itu mengangkat isu hari akhir. Artinya hari kebinasaan dan kemusnahan apabila tidak mematuhi perintah raja dan ratu. Dia mengancam akan terjadi kemusnahan semua entitas yang tidak mematuhi raja dan ratu.

Rida menceritakan, Kerajaan Keraton Sejagat juga menjanjikan pengikutnya akan mendapatkan uang dolar. Ketika janji itu tidak ditepati, sementara anggotanya sudah membayar maka berpotensi terjadi konflik. Sebab ketika masuk sebagai anggota Kerajaan Keraton Sejagat harus mengeluarkan uang untuk membeli seragam dan ada sejumlah uang yang diminta sebagai iuran.(rep)

Baca Juga: Terlanjur Nazar untuk Maksiat, Apa yang Harus Dilakukan?

Baca Juga: Polisi Bagikan Nasi Gratis untuk Jemaah Haul KH Anang Sya’rani Arif ke 51

Editor: Muhammad Bulkini