Gugatan 2BHD Diterima MK, SJA-Arul Pede Menangi Pilbup Kotabaru Alhamdulillah, 21 Warga Tanbu Sembuh dari Covid-19 Gunakan Pakaian Adat, Mitra Pariwisata Kapuas Galang Dana untuk Banjir Kalsel Terparah dalam Sejarah, Jokowi Blakblakan Biang Kerok Banjir Kalsel Wali Kota Beber Biang Kerok Banjir Banjarmasin, Bukan karena Hujan

Pascabanjir, Merebak Penyakit ‘Kencing Tikus’ di Jakarta

- Apahabar.com Sabtu, 18 Januari 2020 - 19:35 WIB

Pascabanjir, Merebak Penyakit ‘Kencing Tikus’ di Jakarta

Dokter dari RS Premier Jatinegara, Jakarta, dr Laura Anasthasya, Sp PD saat menjadi pembicara pada peluncurkan PRUTotal Critical Protection (PRUTop) dan PRUTotal Critical Protection Syariah (PRUTop Syariah) di Kota Bandung, Sabtu (18/1/2020). (Antara/Ajat Sudrajat)

apahabar.com, BANDUNG – Kasus penyakit leptospirosis atau penyakit yang ditularkan melalui kencing tikus meningkat pascamusibah banjir yang menerjang wilayah DKI Jakarta.

“Lumayan banyak tapi kita tidak ada atau punya data khusus karena kan harus tercatat. Tapi ya (ada peningkatan kasus leptospirosis) karena ini kan kasusnya sangat jarang,” kata dokter dari RS Premier Jatinegara, Jakarta, dr Laura Anasthasya, Sp PD, dilansir apahabar.com dari Antara, Sabtu (18/1).

Siang tadi, dr Laura Anasthasya menjadi pembicara pada peluncuran PRUTotal Critical Protection (PRUTop) dan PRUTotal Critical Protection Syariah (PRUTop Syariah) di Kota Bandung.

Laura mengatakan dalam sepekan terakhir, rumah sakit tempatnya bertugas telah menangani lima hingga enam kasus penyakit leptospirosis dan dirinya terakhir kali menangani kasus leptospirosis sekitar tiga tahun lalu.

“Terakhir saya berkomunikasi dengan sesama rekan dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit lain sudah mulai ada (leptospirosis). Setidaknya tiga sampai empat kasus. Jadi meningkat pesat lah dibandingkan hari biasanya,” kata dia.

Dia menjelaskan seluruh pasien di DKI Jakarta yang terkena penyakit leptospirosis pernah bersentuhan dengan banjir.

Penyakit leptospirosis ini, kata dia, jika tidak ditangangi oleh tindakan medis maka akan menyerang ginjal, gagal ginjal akut hingga pendarahan paru-paru.

“Yang paling parah bahkan bisa hingga gagal multiorgan. Gejala awalnya susah membedakan karena mirip sakit flu sehingga banyak yang tidak menyadari. Jadi terlambat berobat. Gejala awalnya deman, linu-linu, terus mata kemerahan, kencingnya seperti teh.

Lebih lanjut ia mengatakan jika seseorang terkena penyakit leptospirosis dan menyerang hingga menyebabkan gagal multiorgan maka pengobatannya pun akan lebih kompleks karena tergolong penyakit kritis.

“Solusi terhindar penyakit kritis itu salah satunya menjaga kesehatan dan juga bisa berinvestasi kepada kesehatan. Negara memang ada BPJS. Tapi BPJS tidak meng-cover seluruh penyakit yang diakibatkan bencana seperti leptospirosis.

Asuransi kondisi kritis

Dia menambahkan permasalahan kesehatan dewasa ini makin nyata dan sangat mengancam sehingga masyarakat harus selalu bersiap dan waspada.

Secara global, World Health Organization (WHO) mengkategorikan permasalahan kesehatan hingga mencapai 68.000 jenis.

Indonesia pun tak lepas dari bahaya kesehatan tersebut dan kita harus terus siaga terhadap kemunculan penyakit-penyakit baru dan para ahli memperkirakan lima penyakit baru pada manusia muncul tiap tahun, tiga diantaranya bersumber dari binatang.

Di wilayah Jawa Barat sendiri, Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan berbagai jenis penyakit memiliki prevalensi yang melebihi rata-rata nasional.

Data kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) menunjukkan penyakit jantung diderita oleh 1,6 persen masyarakat (rata-rata nasional 1,5 persen), hipertensi sebanyak 9,67 persen (rata-rata nasional 8,36 persen), stroke sebanyak 11,4 persen (rata-rata nasional 10,9 persen), hingga gagal ginjal kronis sebanyak 0,48 persen (rata-rata nasional 0,38 persen).

“Penyakit kritis dapat menyerang siapa saja, kapan saja sehingga sebaiknya masyarakat tidak terpaku menghindari hanya suatu penyakit tertentu. Berbagai permasalahan kesehatan dapat terus bertambah akibat banyak faktor, seperti lifestyle, globalisasi hingga perubahan iklim,” kata dia.

“Masyarakat perlu mengantisipasi ancaman penyakit kritis ini dengan mengubah gaya hidup mereka dan lebih menyadari ‘mahalnya’ kesehatan. Penyakit kritis dapat berimplikasi pada aspek psikologis, sosial hingga finansial yang dapat menggoyahkan stabilitas ekonomi dan masa depan keluarga,” lanjut dr Laura.

Melihat berbagai fakta yang ada, Himawan Purnama, Head of Product Development Prudential Indonesia menjelaskan asuransi kondisi kritis saat ini terbatas pada diagnosis jenis penyakit.

PRUTop dan PRUTop Syariah menawarkan konsep baru perlindungan kondisi kritis yang berfokus pada perawatan, tindakan, atau ketidakmampuan permanen yang terjadi akibat kondisi kritis.

Baca Juga: Polwan di Banjar Obati dan Berikan Trauma Healing Korban Banjir

Baca Juga: Batola Pasang Status Siaga Darurat Banjir

Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

World Press Freedom Day, Dewan Pers Ingatkan soal Empati Terkait Covid-19
apahabar.com

Nasional

Natal dan Tahun Baru 2018: Intip Cara Pertamina Perkuat Distribusi BBM

Nasional

Didakwa Hapus Red Notice Djoko Tjandra, Irjen Napoleon Bonaparte Merasa Dizalimi
apahabar.com

Nasional

BPD Aceh Sebut Mardani H Maming Layak Pimpin HIPMI
apahabar.com

Nasional

Panggil Duta Besar Prancis, Indonesia Kecam Ulah Macron
Update Virus Corona: WHO Sebut Korban Meninggal Mencapai 4.012 Orang

Nasional

Update Virus Corona: WHO Sebut Korban Meninggal Mencapai 4.012 Orang
apahabar.com

Nasional

Hari Ini, Alat Cek Virus Corona 15 Mulai Masuk ke Indonesia
apahabar.com

Nasional

Jokowi Pastikan Dana Bantuan Gempa Ambon Diberikan Langsung ke Korban
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com