Ditangkap di Tabalong, Janda asal Ampah Kalteng Sudah Teler dari Amuntai Guru Danau Imbau Ulama Kalsel Tidak Berpolitik Praktis Puncak Pandemi, Berapa Limbah Infeksius Covid-19 di Kalsel? Amankan Pilgub Kalsel 2020, Polres Tapin Siapkan 258 Personel Akhir 2024, Agropolitan Anjir Pasar Batola Ditarget Berdaya Saing

Rokok Jadi Sumber Kemiskinan di Indonesia, Berikut Uraian BPS

- Apahabar.com Kamis, 16 Januari 2020 - 05:45 WIB

Rokok Jadi Sumber Kemiskinan di Indonesia, Berikut Uraian BPS

Ilustrasi rokok. Foto-iStock

apahabar.com, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rokok kretek filter merupakan salah satu komoditas yang berkontribusi besar terhadap garis kemiskinan di Indonesia.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, di perkotaan rokok berkontribusi 11,17% sedangkan di perdesaan 10,37%.

“Rokok kretek filter jadi kontributor kedua terbesar terhadap garis kemiskinan,” kata Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta.

Dia menjelaskan selain rokok, ada juga komponen makanan yang turut berkontribusi ke garis kemiskinan yaitu beras yang memberikan sumbangan sebesar 20,35% di perkotaan dan 25,82% di perdesaan.

Selanjutnya ada telur ayam ras yang berkontribusi 4,44% di perkotaan dan 3,47% di perdesaan. Kemudian daging ayam ras 4,07% di perkotaan dan 2,48% di perdesaan.

Mie instan juga turut menyumbang garis kemiskinan sebesar 2,32% di perkotaan dan 2,16% di perdesaan.

Sedangkan komponen bukan makanan penyumbang garis kemiskinan terbesar baik di perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.

BPS menilai peranan komoditas makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan bukan makanan terhadap garis kemiskinan, yakni mencapai 73,75%.

Menurut BPS, garis kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan non makanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin.

Dengan kata lain, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Garis kemiskinan pada September 2019 sebesar Rp 440.538 per kapita per bulan atau naik 7,27% dibandingkan periode sama tahun 2018.

Baca Juga: Pemerintah Pangkas Kuota Impor Minyak Pertamina

Baca Juga: Mendagri Minta Tambahan Anggaran Blanko e-KTP, Ini Alasannya

Baca Juga: Maskapai Turunkan Tarif Tiket Pesawat?

Baca Juga: Indonesia Masih Impor Ikan dari Cina, Kenapa?

Sumber: Detik.com
Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Ambyar! Konsumsi BBM Kalsel Anjlok Imbas Covid-19
apahabar.com

Ekbis

Rupiah Awal Pekan Menguat Seiring Suntikan Dana oleh PBoC
apahabar.com

Ekbis

Tarif Batas Atas Pesawat Turun, Mengapa?
apahabar.com

Ekbis

Bongkar Mafia Migas, Ahok: Ada Oknum di Dalam
apahabar.com

Ekbis

Pelatihan Online, UMKM Tetap Produktif di Tengah Covid-19
apahabar.com

Ekbis

Resmi, OJK Tunjuk KB Kookmin Pegang Saham Pengendali Bukopin
apahabar.com

Ekbis

Incar Sektor Perikanan Indonesia, Bank Dunia Kucurkan Rp14,7 Miliar
apahabar.com

Ekbis

Wings Air Buka Rute Penerbangan Palangka Raya-Solo
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com