Perhatian! PT KPP Rantau Ngutang Pajak Alat Berat Rp 1,8 M Warung Jablay di HSS Meresahkan, MUI Ngadu ke DPRD Jelang Pencoblosan, Warga Kalsel Diimbau Jangan Telan Mentah-Mentah Berita Medsos Disbudpar Banjarmasin Rilis Dua Wisata Baru, Cek Lokasinya Otsus Jilid Dua, Semangat Baru Pembangunan Papua

Tingkat Keasaman Sungai Barito Masih Tinggi, Petani Ikan di Marabahan Mesti Jeli

- Apahabar.com Rabu, 8 Januari 2020 - 16:56 WIB

Tingkat Keasaman Sungai Barito Masih Tinggi, Petani Ikan di Marabahan Mesti Jeli

Seekor kucing mengintai ikan yang sekarat di keramba jala apung milik petani ikan di Marabahan. Foto-apahabar.com/Bastian Alkaf

apahabar.com, MARABAHAN – Tak banyak yang dapat dilakukan petani ikan keramba jala apung di Kecamatan Marabahan dan Bakumpai, ketika air Sungai Barito masih asam.

Keasaman air Sungai Barito memang sedang tinggi, akibatnya 2.580.000 ekor ikan nila dan patin yang berusia 2 hingga 4 bulan, mati.

Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Barito Kuala, Selasa (7/1), PH air Sungai Barito mencapai 4 sampai 4,5 atau kurang dari standar 5 hingga 8,5.

Kemudian oksigen terlarut (DO) hanya 1,8 sampai 3,8 dari seharusnya minimal 5 poin. Sementara kandungan besi (Fe) mencapai 0,25 hingga 1,5. Sedangkan NH3 tidak bisa diukur lantaran terlalu rendah.

“Ini hampir mirip dengan kejadian di awal 2015, ketika ribuan ikan mati akibat air yang terlalu asam,” sahut Wakil Bupati Batola, H Rahmadian Noor, Rabu (8/1).

“Setelah kemarau yang cukup panjang, pirit tertumpuk di hulu sungai. Kemudian memasuki musim hujan, pirit larut ke hilir dan meningkatkan keasaman,” imbuhnya.

Agar kejadian serupa tak terulang, dibutuhkan pengecekan berulang-ulang oleh DKPP maupun Dinas Lingkungan Hidup. Pun petani juga dianjurkan memperhatikan hasil penelitian tersebut.

“Sebenarnya di pertengahan November 2019, DKPP melaporkan sudah mengecek pH air Sungai Barito. Hasilnya keasaman air masih memenuhi baku mutu,” papar Rahmadi.

“Namun keasaman berubah cepat, seiring curah hujan yang tinggi. Seandainya kemarau tak terlalu panjang, mungkin keasaman masih bisa ditoleransi seperti tahun-tahun sebelumnya,” sambungnya.

Awal musim hujan di Batola sendiri dimulai akhir Oktober hingga awal November 2019, atau hampir mendekati perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru.

Kemudian curah hujan di Batola diperkirakan mencapai puncak sejak pertengahan hingga akhir Januari 2020, lalu mulai berkurang mulai akhir Februari atau awal Maret.

Kendati hujan di Batola menurun mulai awal Maret, debit Sungai Barito bukan berarti berkurang. Hal tersebut disebabkan peningkatan curah hujan di hulu sungai, tepatnya di wilayah Kalimantan Tengah.

Diperkirakan curah hujan di Kapuas, Barito Utara dan Barito Selatan yang berada di hulu Sungai Barito, mencapai puncak sekitar Maret 2020.

“Hujan di hulu itu yang dapat mendorong keluar keasaman Sungai Barito di wilayah Batola,” timpal Syaiful Asgar, Kabid Perikanan Budidaya DKPP Batola.

“Andai sesuai prediksi, setidaknya penyemaian benih baru dapat dilakukan mulai Februari atau Maret 2020,” tandasnya.

Baca Juga: Kebakaran di Alalak, Pemadam Kesulitan Jangkau Titik Api

Baca Juga: Blakblakan Jaksa Soal Dugaan Aliran Sesat Abah Pal Lima di Banjarmasin

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Peran Pengawasan Dewan Kota Mampu Turunkan SILPA APBD 2019
apahabar.com

Kalsel

Relawan Pramuka Peduli Galang Dana untuk Korban Banjir di Tanah Bumbu
apahabar.com

Kalsel

Empat Fakta Penemuan Mayat Pria Paruh Baya di Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

Salasiah Tewas Diserang Cobra
apahabar.com

Kalsel

Tersandung Kasus Pencabulan, Ketua KPU Banjarmasin Undur Diri
apahabar.com

Kalsel

Positif Covid-19 di Kalsel Hampir Sentuh 4 Ribu Kasus
Apahabar.com

Kalsel

BREAKING NEWS: Belasan Jam Dicari, Bocah Tenggelam di Sungai Martapura Ditemukan Mengapung
apahabar.com

Kalsel

Jelang Pilkada, Bawaslu Banjarmasin Rekrut Panwascam
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com