Brakkk! Detik-Detik Rumah Ambruk di Manarap Banjar Kontroversi Upin Ipin Sudah Meninggal, Les’ Copaque Beri Penjelasan Penggerebekan Maut Kakek Teluk Tiram: Sarijan Rupanya Target Tersohor Kepolisian Maraton, Proses RUU jadi UU IKN Digelar Hari Ini Tok! Pemerintah-Pansus Sepakat RUU IKN Lanjut ke Paripurna DPR

Tunggu Banjarbakula, Alasan Penataan Alalak Lamban

- Apahabar.com     Kamis, 2 Januari 2020 - 13:19 WITA

Tunggu Banjarbakula, Alasan Penataan Alalak Lamban

Proyek pergantian Jembatan Alalak I yang diprogramkan selesai Maret 2021. Foto-Istimewa

apahabar.com, MARABAHAN – Menjadi pintu gerbang yang menghubungkan Barito Kuala dengan kota lain, penataan Kecamatan Alalak justru terkesan lamban.

Setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, tak banyak sentuhan yang dilakukan Pemkab Batola di Alalak. Hanya perubahan kantor kecamatan yang menjadi lebih besar.

Nasib Pasar Induk Handil Bakti juga masih tidak menentu. Dibangun 2001 dan diresmikan Oktober 2002, pasar tersebut tidak pernah berkembang.

Justru swasta yang paling berperan mengerakkan roda perekonomian di Alalak, terutama kawasan ramai Handil Bakti. Tidak hanya kawasan pertokoan, kompleks perumahan juga tumbuh merapat.

Pemandangan tersebut segaris dengan jumlah penduduk. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Batola per 2017, jumlah penduduk Alalak mencapai 58.259 jiwa atau terbanyak di antara 17 kecamatan lain.

Dari 18 desa di Alalak, Semangat Dalam menampung warga terbanyak hingga 11.554 orang. Disusul Kelurahan Handil Bakti dengan 7.707 jiwa, lebih banyak banyak dari jumlah penduduk di Kecamatan Jejangkit dan Kuripan.

Padahal melalui visi misi menata kota menata membangun desa yang diusung Bupati Batola, Hj Noormiliyani AS, sudah sepantasnya Alalak juga ditata selayaknya sebuah kota.

Terlebih sebelum orang memasuki Batola lebih dalam, mereka lebih dulu disuguhkan kondisi Alalak.

“Harus diakui kalau penataan dan pengembangan Alalak belum maksimal dilakukan. Kami juga belum spesifik memikirkan Alalak,” sahut Noormiliyani, Senin (30/12).

“Penyebabnya adalah kami menunggu progres Banjarbakula. Kami tidak ingin membuat sesuatu, tetapi kemudian harus diubah lagi lantaran terbentur kepentingan yang lebih tinggi,” tegasnya.

Banjarbakula merupakan proyek Kawasan Strategis Provinsi (KSP) yang mencakup Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala dan Tanah Laut. Alalak sendiri termasuk salah satu kawasan yang paling banyak dilibatkan dalam Banjarbakula.

Dicanangkan sejak 1998 dan diperkuat Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan No 188.44/0295/KUM/2012, Banjarbakula disebut-sebut sebagai metropolitan kesembilan di Indonesia semacam Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi).

Namun demikian, progres Banjarbakula terkesan lamban. Dari sekian perencanaan, proyek yang sudah berjalan hanya Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Banjarbakula tahap satu serta pipanisasi SPAM Banjarbakula tahap satu dan dua.

Kemudian TPA Regional yang mulai kembali difungsikan, Bus Rapid Transit (BRT) dan penambahan akses jalan Pelabuhan Trisakti ke Liang Anggang.

Dari proyek-proyek itu, belum banyak yang dapat dinikmati warga Batola. Proyek Jembatan Alalak I yang sekarang sedang dikerjakan, justru menambah masalah baru berupa kemacetan.

“Sembari menunggu Banjarbakula, kami memutuskan menata kawasan yang tidak terkait langsung dengan daerah atau kepentingan instansi lain,” papar Noormiliyani.

“Itulah yang membuat kami lebih fokus menata Marabahan. Namun bukan berarti Alalak ditepikan sama sekali, karena kami tetap menyiapkan rencana sendiri,” sambungnya.

Untuk menata Marabahan, Noormiliyani menyiapkan rencana pendek 3 tahun dan rencana panjang berdurasi 20 tahun.

Sementara dalam menata Alalak, Batola menyiapkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Salah satu sektor yang masuk RDTR adalah jalur alternatif Jalan Trans Kalimantan.

“Sebenarnya Alalak tetap menjadi fokus kami, karena interline dari Banjarmasin dan Kuala Kapuas. Pun beban jalan di Handil Bakti sudah berat, seiring pertumbuhan perumahan,” papar Zulkifli Yadi Noor, Kepala Bapelitbang Batola.

“RDTR tersebut terus dikonsultasikan dengan Banjarmasin. Kami tak ingin pengalaman pembuatan Jembatan Alalak II terulang. Batola harus menanggung ganti rugi lahan yang sebenarnya terletak di Banjarmasin,” tandasnya.

Karena banyaknya Pekerjaan Rumah (PR) Pemkab Batola itulah, sehingga penataan Kecamatan Alalak terkesan lamban.

Baca Juga: Apa Kabar Pembangunan Jembatan Alalak?

Baca Juga: Jembatan Alalak Didesain Melengkung, Ini Pertama di Indonesia

Reporter: Bastian Alkaf
Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Kalsel

Dapat Bantuan dari Diskan, PWI Tabalong Langsung Tabur Ribuan Bibit Ikan di Kolam
apahabar.com

Kalsel

Hasil Rapid Test Massal Kedua di Alalak, Naik Nyaris Dua Kali Lipat
Teror Pembakaran Kini Ancam MIN 2, Polisi Pun Turun Tangan

Kalsel

Teror Pembakaran Kini Ancam MIN 2, Polisi Pun Turun Tangan
apahabar.com

Kalsel

Walau Belum Ekstrem, Harga Gas Melon di Marabahan Mulai Naik
Banjir Kalsel

Kalsel

Yuk Nyumbang, apahabar.com Buka Posko Peduli Banjir Kalsel
Banjarmasin

Kalsel

Tak Cuma Korban Jiwa, Kerugian Kebakaran di Pangeran Sentuh Ratusan Juta!
apahabar.com

Kalsel

Tahun Ajaran Baru, SDN Ini Hanya Dapat 6 Siswa Baru
apahabar.com

Kalsel

Bicara Pengembangan Kemasan, Puluhan Pegiat UMKM Datangi Sekretariat PDI Perjuangan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com