apahabar.com
Pemimpin Muslim Syiah Irak Moqtada al-Sadr mengangkat jarinya saat berpidato di Baghdad, Irak, Kamis (7/12/2017), terkait keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Foto-Antara/Reuters/Alaa al-Marjani/tm

apahabar.com, BAGHDAD – Ulama Syiah Irak berpengaruh, Moqtada al-Sadr, mengatakan krisis yang dialami Irak sudah berakhir setelah ada keinginan dari Iran maupun Amerika Serikat untuk menurunkan ketegangan.

Sadr meminta kelompok-kelompok milisi untuk tidak melancarkan serangan.

Melalui pernyataan, ia mengingatkan bahwa Irak sudah harus bisa membentuk pemerintahan baru yang kuat dalam 15 hari ke depan untuk melindungi kedaulatan dan kemerdekaan Irak.

Ia menginginkan pemilihan awal segera digelar.

Irak juga harus tetap berupaya untuk mengusir pasukan-pasukan asing, katanya, menambahkan.

“Saya meminta faksi-faksi Irak agar berpikir secara hati-hati, bersabar dan tidak memulai aksi militer, dan membungkam suara-suara ekstremis dari sejumlah elemen bajingan hingga semua metode politik, parlemen dan internasional diupayakan habis-habisan,” katanya, Rabu (06/01) waktu setempat.(Ant/Reuters)

Baca Juga: Harimau Diduga Masuk Kampus Unsri, BKSDA Cek Lokasi

Baca Juga: Dua Roket Mendarat di Zona Hijau Baghdad

Baca Juga: Serangan Roket Iran, Trump: Tak Ada WN Amerika yang Jadi Korban

Baca Juga: Iran Tak Akan Kirim Kotak Hitam Ukraine Airlines ke Boeing

Editor: Aprianoor